
Sebulan kemudian. (Hari Senin)
Di kediaman Rumah Alvin.
Suasana masih sama. Alvin masih tinggal di Apartemen. Sedangkan Sarah masih dirumahnya. Sekitar 3 bulan yang lalu. Bi Ana pulang kampung. Karena anak tunggalnya sakit. Dan di pulangkan dari Pesantren. Sehingga Sarah harus bangun sebelum subuh. Agar bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Dan tidak terlambat untuk bekerja. Karena semenjak Sarah marahan sama Alvin. Dan dia putus dari Rei. Begitu juga Kevin yang sengaja merenggangkan kedekatan denganya karena menghargai Alvin. Sarah tidak ada yang mengantar jemput. Tiap hari pulang pergi. Dia harus naik angkot untuk ke stasiun Kereta Commuter. Walaupun rasa cinta utuk Alvin masih sama dan di masih merasa down. Tapi dia tidak pernah putus asa. Dia selalu berfikir. Bahwa dia hidup sendiri. Dia harus nabung untuk kuliah, untuk menyambung hidup, dan untuk membantu orang tua angkatnya.
Saat itu sekitar pukul 05:30 wib. Sarah sedang mengepel dilantai satu dekat sofa. Dengan penampilanya yang sangat indah. Baju daster sebetis yang tidak ada kancing atau resleting depan. Dan rambt yang diikat. Tiba-tiba ada suara langkah kaki. Mendekatinya. Dan langkah kaki itu berhenti dibelakang Sarah.
"Sarah?" ucap Seorang pria yang berpenampilan rapih. Rambutnya masih basah. Setelah atas memakai kemeja dengan dasi dan rompi. Dia juga memakai kacamata. Karena seseorang memanggilnya. Dia pun menengok ke belakang. Alangkah terkejutnya Sarah. Dialah Rei. Dia lalu dengan bahagianya menghampiri Rei.
"Rei? Kaaaa'mu kesini?" tanya Sarah.
"Ya tentu untuk menemui kamu." ucap Rei membentangkan tangan agar Sarah memeluknya.
Karena merasa terharu dan dia masih rindu sama Rei. Diapun spontan menjatuhkan pelan ditanganya. Dan langsung memeluk Rei dengan erat.
"Rei? Aku." ucapannya terputus karena suara tangis yang lebih mendominasi dan menghalangi suaranya untuk berbicara. Rei memeluknya dengan erat ketika sura tangis Sarah semakin sesegukan.
"Jangan menangis! Ingat! Kamu itu wanita yang kuat dan jarang sekali menangis." ucap Rei menepuk-nepuk pundak Sarah.
"Aku masih Sarah yang dulu Rei. Tapi sekarang aku balik seperti Sarah yang ditinggalkan kedua orang tua ku Rei. Aaa'ku sedih Rei. Susah untuk aku berjuang. Aku tidak punya siapa-siapa Rei disini. Rasanya aku ingin pulang ke kampung Rei. Tapi bagaimana dengan impian aku? Dan kalau aku pulang aku tidak bisa ngasih uang untuk Ayah Riki. Aku pasti membebani mereka lagi." ucap Sarah dengan sesegukan.
Rei tidak menjawab. Matanya memerah berkaca-kaca karena melihat keadaan Sarah.
"Rei? Untuk apa kamu kesini? Rei aku belum minta maaf sama kamu. Rei maaf karena aku mencintai orang lain. Maafkan aku Rei. Itu semua karena kita berbeda agama. Aku takut kalau kita bepisah nanti dan aku terlalu mencintai kamu. Nasib aku akan seperti saat aku ditinggal Ayah dan Ibu. Aku terlalu berlarut dalam kesedihan. Hari-hariku penuh dengan air mata Rei. Jika aku seperti itu lagi. Belum tentu ada yang mau merangkul aku Rei." ucap Sarah yang masih sangat sesegukan. Dan Rei yang tidak dapat menahan air matanya pun menangis.
"Apa Alvin masih marah?" tanya Rei.
"Iya Rei. Dia salah faham. Tapi aku tidak akan mengejarnya Rei. Aku terlalu bermimpi untuk aku bisa menikah dengan kamu atau denganya. Kalian kan orang kaya. Cinderella itu bukan aku Rei. Orang miskin yang tiba-tiba nikah sama orang kaya." ucap Sarah. Walaupun air matanya masih menetes tapi dia berusaha tersenyum.
"Maafkan Saya. Harusnya saya tidak meninggalkan kamu begitu saja." ucap Rei dan menyeka air matanya.
"Itu hak kamu Rei. Maaf." ucap Sarah sambil melepaskan pelukannya.
Rei hanya mengangguk.
__ADS_1
Sarah mengambil pelanya kembali. Lalu dia berdiri lagi dan memegang pelan itu dengan kedua tangan.
Rei hanya menatap Sarah tanpa mengatakan apapun.
"Rei? Apa kamu tidak bekerja?" tanya Sarah.
"Ini mau berangkat." ucap Rei tersenyum.
"Semangat!" ucap Sarah dan menyeka air matanya.
"Selalu semangat. Oh iya. Kamu tahu gak? Sekarang saya sudah mendapatkan kembali kasih sayang orang tua." ucap Rei tersenyum.
"Syukurlah Rei. Berarti kamu sudah mendapatkan kebahagiaan." ucap Sarah tersenyum.
"Iya. Dan kamu juga harus punya kebahgiaan itu. Sekarang. Setelah ini. Saya janji. Jika Alvin masih belum meminang kamu. Kamu akan kembali ke pelukan saya." ucap Rei.
Sarah tidak menjawabnya. Dan air matanya kembali menetes.
"Rei maaf. Tapi kita berbeda aga," Tiba-tiba kepala Sarah terasa nyeri.
"Rei? Kepala aku kenapa ini? Sakit sekali Rei." Sarah pun pingsan.
"Dokteeeeerr? Dokterr?" panggil Indah yang berlari keluar.
Alvin, Kevin, dan Rei yang saat itu sedang menunggu diluar langsung panik.
"Kenapa mah?" tanya Alvin.
"Kenapa tante?" tanya Kevin.
"Mana Dokter? Cepat panggilkan!" titah Indah dan berlari lagi ke dalam.
Alvin langsung memanggil Dokter. Sedangkan Kevin dan Rei mengikuti Indah ke dalam.
"Sarah?" ucap Indah bahagia dan langsung menciumi Sarah.
__ADS_1
"Ah syukurlah. Kamu udah sadar Sarah." ucap Kevin.
Rei tidak mengatakan apapun. Hanya tersenyum bahagia.
"Syukurlah kamu udah Sadar." ucap Rei dalam hati.
Pengumuman:
Jadi, pertemuanya dengan Rei hanyalah mimpi. Karena Sarah itu sedang koma. Udah hampir 4 hari. Karena ditabrak oleh mobil
Saat dia akan nyebrang untuk pulang kerja. Dia saat itu masih sering melamun karena memikirkan Alvin. Dia juga teringat kenanganya bersama Rei dan ingat kepada kedua orang tuanya.
Flashback on.
4 hari yang lalu (Jum'at sore. Sekitar jam 5 sore)
Sarah baru saja turun dari kereta. Saat itu hujan akan turun. Kemudian dia akan menunggu angkot yang berada disebrang jalan stasiun. Disepanjang jalan di kereta Khusus penumoang Bandara. Dia merenung kenapa hidupnya sangatlah berat. Dan kenapa kebahagiaan itu sangat sulit untuk didapat. Dia teringat orang tua nya yang meninggalkanya. Terus kejadian Saat akan dilecehkan. Rei tidak melindunginya. Dan kejadian saat Alvin pergi dan belum menemuinya samlai saat itu. Lamunan-lamunan itu terus ada. Sampai dia akan menyebrang menuju jalan raya.
Disisi lain saat itu juga. Alvin sudah berniat untuk bertemu dengan Sarah. Hatinya sangat menggebu-gebu. Karena sudah hampir sebulan dia tinggal di Apartemen. Dan meninggalkan Sarah dirumah bersama mamahnya. Saat itu mobil Alvin sudah berada disebrang jalan dan sudah terparkir. Alvin memilih untuk menjemput Sarah di stasiun karena dari kantornya ke Bandara lumayan jauh. Dia tshu informasi itu dari bibi Ana. Yang sering nelpon dengan Sarah saat dirinya pulang kampung.
Ketika itu Sarah akan menyebrang. Hanya sebentar dia melirik ke kanan dsn ke kiri. Lalu berjalan lagi sambil sedikit menunduk dan memegang tasnya dengan tangan kanan. Dari kejauhan ada mobil angkot yang tergesa-gesa untuk menyalip karena takut tidak kebagian penumpang. Alvin yang saat itu sudah melihat Sarah. Dia tersenyum dan langsung turun dari mobil. Lalu berjalan memutari mobilnya. Saat dia turun. Tiba-tiba suara teriakan orang sangat ramai. Alvin panik. Dan melihat orang-orang sedang mengerumuni seorang wanita yang berbaring. Saat itu Alvin sangat penasaran. Kali aja dipikiran dia ada yang bisa dibantu olehnya. Namun, saat dia melihatnya. Dia langsung teriak. Dan kaget. Dia langsung memeluk Sarah. Yang sudah berlumuran darah dari kepalanya dan hidungnya. Di tangan dan kakinya banyak goresan luka aspal.
"Saraaaaaahhhh? Tidaaakkkk." teriak Alvin.
Sarah yang saat itu masih seperti orang engap dan gelagapan. Dia hanya tersenyum dan akan memeluk Alvin. Saat tanganya akan diangkat. Pandanganya keburu hilang. Dan dia pingsan.
Alvin pun langung membawanya ke Rumah Sakit. Bersama dengan 1 orang ibu-ibu dan 1 orang bapa-bapa.
Flashba k off.
Selanjutnya masih di Rumah Sakit.
"Sarah? Kamu udah sadar sayang? Tapi kenapa kamu menangis?" tanya Indah.
Saat Sarah akan menjawabnya. Mulutnya terasa sangat kaku dan badanya sangat lemas. Diapun hanya tersenyum. Lalu dia melirik Rei.
__ADS_1
Matanya kembali berkaca-kaca. Ingin mengatakan sesuatu tapi belum bisa. Akhirnya air matanya kembali menetes.
Rei tidak kuat menahan kesedihan. Diapun berbalik badan. Dan disana pintu dibuka oleh Suster. Yang dibuntuti oleh Alvi dan Dokter laki-laki.