
Kriiiiiiing kriiing kriiing
Suara Alarm Berbunyi dimatikan oleh Alvin. Terlihat dia yang baru selesai melaksanakan sholat subuh di Apartement nya. Penampilanya yang memakai baju koko putih lengan pendek dan celana panjang cingkrang warna abu-abu, membuatnya semakin berkharisma. Dan siapa yang melihatnya tidak akan bosan memandang. Saat itu, dia pergi ke meja kerjanya dan mengecek Laptopnya. Tatapannya yang selalu tajam, seketika berubah dengan senyum yang manis dibibirnya. Mungkin dia baru mendapatkan kabar baik. Setelah dia mengecek laptopnya, dia menatap foto yang ada dimeja nya. Terlihat Alvin yang memakai baju taekwondo dengan sabuknya berwarna hitam. Dia dikasih hadiah oleh Papahnya, dan dirangkul oleh Mamahnya.
"Pah, aku kangen sama papah. Kenapa kita masih belum bertemu lewat mimpi? Pah, mama lagi sakit. Lagi-lagi dia drop pah. Kalau kita bisa ketemu pah, aku pasti banyak cerita sama papah. Oh iya pah, hari minggu kemarin aku gak jadi ketemu sama Investor di Kalimantan. Meeting juga dihandle sama Pak Cipta. Pah, ternyata jadi Direksi itu gak mudah. Apalagi aku seorang Pewaris. Cape pah, penuh tanggungjawab. Dan sekarang aku tahu pah. Semua itu pasti jawaban kenapa waktu papah masih ada, aku hanya dijadikan staff biasa. Pah, aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk papah dan mama. Aku sayang kalian." ucap Alvin sambil mengelus foto yang sedang dipegangnya. Namun, karena dia tidak mau terlalu berlarut dalam kesedihan. Dia pun ke balkon yang ada disana. Melihat indah nya kota Jakarta saat waktu itu, sambil merasakan angin diwaktu subuh. Alvin tidak pernah tidur lagi setelah sholat subuh, kecuali kalau dia ketiduran diatas sajadah atau ketika matahari sudah terbit. Itupun, kalau libur kerja.
Suara ayam berkokok membangunkan orang-orang dikampung. Tak terkecuali Sarah, kali ini dia bangun lebih dulu dari suara ayam tadi. Terlihat, dia yang sudah rapi dengan rambut yang diikat dan poni yang dikepinggirkan. Dia memakai celana bahan dan kaos kemeja berwarna putih . Ayah dan Ibunya sudah menunggu dia dimeja makan. Sebelum dia gabung untuk sarapan pagi, dia merapihkan kamar lalu mengeluarkan ransal hitam dan satu tas yang dijinjing. "Hari ini adalah hari pertama aku untuk pergi ke Jakarta. Sedih rasanya ninggalin tempat ini. Banyak suka duka disini. Tapi untungnya sebelum kemarin hujan besar, aku sempatin untuk berkunjung ke makam Ayah dan Ibu. Ayah, Ibu, aku masih kangen. Rasanya sangat berat yah. Tapi aku harus berjuang yah dari sekarang. Aku harus bisa kuliah, bisa bantu Ayah Riki sama Ibu Rena, dan nanti kalau uangku sudah banyak aku akan bangunkan Mesjid untuk amal jariyah ayah dan ibu." ucap Sarah dalam hatinya, tak terasa air matanya akan menetes. Namun, langsung dia hapus dengan jari telunjuknya. Dia kembali tersenyum, lalu melihat jam tangan yang dikasih oleh Reicard. "Ini sangatlah cantik, indah sekali, terimakasih ya sayang. Hemm. Apa kedekatan kita akan bertahan lama? Melihat kita yang saat ini berbeda agama sayang. Oh ya ampun, lupakan dulu." ucap Sarah sambil memakai jam tangan. Waktu sudah menunjukan jam setengah 6 lebih, dia pun buru-buru ke meja makan untuk sarapan. Karena Bus akan melintas jam setengah 7. Keburulah, 15 menit makan dan break, sisanya buat berangkat jalan kaki dianterin ayahnya ke pinggir jalan raya.
Beralih ke Reicard
Tok tok tok
Suara pintu kamarnya diketok oleh Pak Hendra. Rei yang masih tertidur menggunakan selimut, hanya berbalik badan ke kanan.
Tok tok tok
__ADS_1
Pak Hendra masih mengetuk pintunya. "Tunggu sebentar!" ucap Rei sambil mengedip-ngedipkan matanya. "Gak usah dibuka, ini om. Kamu buruan bangun, bukanya ada meeting ofline di Kampus?" ucap Pak Hendra dibalik pintu. "Oh iya iya om, nih mau mandi dulu." ucap Rei sambil membuka handphonenya. Saat Rei membuka handphonenya, terlihat belum ada chat yang masuk dari Sarah. "Hm. Tumben banget, biasanya dini hari udah kirim chat. Kenapa udah jam segini belum ada chat ya?" tanya Rei dalam hatinya. Dia pun ngasih chat.
"Kemana kamu? Kenapa belum chat?" tanya Rei. Sarah yang sedang makan sambil melihat alamat tujuanya di google, spontan langsung kaget. "Eh iya aku lupa ngabarin dia, aduh gimana nih bilang apa nggak ya? Kalau aku mau ke Jakarta. Apa bilang aja ya, biar aku bisa ketemu dia dulu? Terakhir ketemu kan di Pantai. Waktu kemarin aku ke sekolah ambil surat, dia ngajar. Aku juga buru-buru pulang karena mau ke pemakaman hmm. Yaudah deh bilang aja." ucap Sarah dalam hatinya.
"Maafya aku baru kasih kabar. Udah dua hari ini aku sibuk terus. Kemarin pas ke sekolah kamu ngajar, aku buru-buru pulang. Soalnya, mau ke makam Ayah dan Ibu." balas Sarah.
"Sibuk untuk apa?" tanya Rei.
"Aku hari ini berangkat ke Jakarta, mau ngelamar kerja." balas Sarah.
"Hmm lupa aku. Apa mau bertemu dulu? " tanya Sarah.
"Gak usah." balas Rei.
"Kenapa? :(." tanya Sarah.
__ADS_1
"Kita berangkat bareng. Saya ada meeting di Kampus." ucap Rei.
"Serius?" tanya Sarah dengan sumeringah.
"Tunggu saya dipinggir jalan ya. Mau mandi dulu nih." pinta Rei.
"Oke sayang :D." balas Sarah.
Setelah itu, Sarah ngasih tahu ke Ayahnya bahwa dia akan berangkat bareng sama Rei. Ayah nya pun sangat senang, jadi dia tidak khawatir Sarah akan kesasar.
Waktu sudah menunjukan pukul 06:45 menit. Sarah dan Ayah nya sudah lama menunggu Rei, sekitar 20 menit an. Namun, Rei masih belum datang. Akhirnya, Ayah nya meminta izin kepada Sarah untuk duluan pulang. Karena, banyak tetangganya yang akan bekerja di sawahnya. Sebenarnya Sarah keberatan dan merasa sedih akan pergi jauh, tetapi Ayah angkat nya itu selalu menguatkanya.
Baru beberapa menit Pak Riki pergi. Mobil mewah berwarna putih, yang biasa ditumpangi Rei baru terlihat. Sarah tidak menunjukan wajah kesal, diajak bareng sama Rei pun dia udah bersyukur.
"Udah lama nunggu?" tanya Rei yang masih dimobil. Dia hanya membuka kaca mobilnya untuk bertanya ke Sarah. Namun karena Sarah memakai masker, dia hanya mengangguk. Rei pun, langsung memarkirkan mobilnya. Lalu turun dari mobil, untuk menyimpan ransal dan tas yang dibawa Sarah ke bagasi. Sarah hanya diam menunduk dan sesekali melihat ke arah Rei. Namun, saat dia melihat ke arah kemeja yang dipakai Rei. Dia terfokus ke dasi Rei yang kurang rapih. "Rei?" panggil Sarah. "Apa?" jawab Rei dan menghampiri Sarah. Tanpa fikir panjang, Sarah langsung memasang ulang dasi yang Rei pake. Rei hanya sedikit tersenyum, sesekali dia melirik ke dasi yang dipakainya. "Kenapa sih suka gak rapi?" tanya Sarah. "Sengaja. Biar dirapihin kamu." ucap Rei sambil membuka Masker yang di pake Sarah. Sarah hanya tersenyum manis, dan salahtingkah. "Udah pasti tersenyum." kata Rei. Sarah yan sudah selesai memasangkan dasi, lalu beralih menatap Rei dengan senyumnya yang sangat manis. Rei pun menatapnya. "Apa lihat-lihat? Cinta ya?" tanya Rei. Sarah memukul kecil pundak Rei "Masih pagi nih. Ayo berangkat." Sambil berlalu masuk ke mobil yang pintunya sudah terbuka.
__ADS_1