Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Flashback bersama Ricard


__ADS_3

3 Hari kemudian.


Dikamar Hotel di Pulau Dewata Bali.


Sarah memandangi Lautan yang begitu luas dengan Pantai yang terhampar sangat indah. Malam itu dirinya belum tertidur karena meras gelisah dan dek-dekan karenan besok adalah Hari pernikahanya dengan Alvin. Rambut digerai dengan piyama berwarna biru muda membuat dirinya semakin mempesona. Apalagi ditambah cahaya bulan yang saat itu sangat sempurna.


"Ya Allah. Aku merasakan pemandangan ini yang ketiga kalinya ditempat yang berbeda. Pertama di Pangandaran bersama Rei, di Ancol bersama Rei, dan sekarang aku disini bukan bersama Rei. Tapi aku sendiri. Aku tidak tahu sekarang Rei sedang apa. Dia tidak ada disini. Jauh disana. Sedih rasanya kalau mengingat kenangan. Semoga kamu baik-baik saja Rei. Aku selalu do'akan kamu. Mulai besok setelah aqad. Kamu akan menganggap aku sebagai kakak ipar kamu. Walaupun aku 9 tahun lebih muda dari kamu Rei. Terimakasih Rei untuk kenanganya. Malam ini malah terakhir aku mengingat semua kenangan kita. Kita telah berubah menjadi aku dan kamu. Semua cerita kita telah menjadi film di kaset yang sudah rusak Rei. Yang hanya bisa diingat dan tidak bisa diputar kembali. Kenangan baru kita akan berbeda Rei. Aku akan menikah sama Alvin. Orang yang saat ini benar-benar aku cintai Rei. Semoga kamu pun mendapatkan kebahagiaan kedua. Mendapatkan jodoh yang terbaik Rei. Oh iya. Rei? Coba deh lihat! Bulan itu sangatlah indah. Harusnya kita main ke Laut udah tiga kali Rei. Tapi waktu kita mau ke Pelabuhan Ratu. Kamu malah cemburu dan marah. Akhirnya kita gak jadi. Jadinya malah ke Danau." batin Sarah menyunggingkan bibir.


Flashback On (Kenangan bersama Rei saat tidak jadi Ke Laut)


Cahaya matahari itu menyilaukan Sarah yang sedang duduk dan mengucek matanya karena baru bangun tidur. Seperti biasanya dia bangun sebelum subuh. Karena harus beres-beres rumah dan membantu bi Ana yang sedang sakit. Saat itu tubuh dia merasa sangat pegal. Sehingga, dia memutuskan tidur kembali setelah terbit fajar.


"Ya ampun. Hari udah siang aja. Untung ini tanggal merah. Jadi, aku libur kerja." ucap Sarah. Sambil mengikat rambutnya.


Truut truut truut


Rei menelpon Sarah


Sarah yang masih sedikit pusing pun berjalan mengambil hp yang berbunyi dimeja riasanya.


"Rei?" jawab Sarah.


"Hem. Kenapa kaget? Apa baru bangun?" tanya Rei sambil meminum air mineral yang dibelinya.


"Iya sayang. Tubuh aku terasa pegal. Kamu dimana? ucap Sarah sambil duduk meminum air putih.


"Saya sedang diluar." ucap Rei.


"Apa di Gereja?" tanya Sarah menyunggingkan bibirnya.


"Bukan. Saya abis olahraga." ucap Rei.


"Yaudah. Aku mau mandi dulu nih. Oh iya kita jadi ke Pantai kan?" tanya Sarah.


"Ya. Tapi sorean ya. Saya mau ke kampus dulu." ucap Rei.


"Untuk apa? Bukanya libur ya?" tanya Sarah.


"Libur juga tetap ada kelas." jawab Rei.


"Ini aja udah jam 8. Memangnya ngajar jam berapa?" tanya Sarah.


"Jam 10. Apa kamu mau ikut?" tanya Sarah.


"Kalau ikut malu gak?" tanya Sarah.


"Bukanya pengen kuliah? Ikutlah biar tambah semangat. Jangan ada kata malu." ucap Rei.


"Malu nya bukan karena itu. Tapi karena takut orang-orang tahu aku pacar kamu." ucap Sarah.


"Oww. PD banget ya jadi pacar Saya? Padahal saya tidak pernah cerita ke orang. Mana mungkin mereka tahu kan." ucap Rei bangga.

__ADS_1


"Eh hehe. Tapi kan suka ada yang bisik-bisik ih." ucap Sarah.


"Kalau ada yang bisik-bisik dimanapun. Jangan dihiraukan. Itu kan urusan mereka Sarah." ucap Rei.


"Hem. Ya juga sih. Yaudah deh aku ikut lah! Tapi abis itu langsung ke Pantai Yah!" ucap Sarah.


"Ya." Rei mematikan telponnya.


------


Waktu sudah dzhur. Sarah baru sedang melaksanakan sholat dan sedang melipat mukena. Lalu dia keluar daru Musola Universitas UNJ dimana Rei mengajar.


Saat itu Sarah menelpon Rei sambil berjalan dan sedikit menunduk.


Trut trut trut


Telpon tidak diangkat.


Trut trut trut


Masih belum diangkat.


"Kemana sih? Lama iiihhh. Apa dia masih dikelas? Disni sepi banget. Orang-orang pada libur. Hanya ada beberapa orang doang didalam mesjid." ucap Sarah kesal. Lalu kembali menatap layar hpnya. Namun, langkahnya dikagetkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Saat Sarah meliriknya ternyata itu Rei.


"Ya ampun. Ikut ke kampus membosankan juga kalau lama-lama. Serunya saat jalan-jalan lihat-lihat lingkunganya doang." ucap Sarah sambil berjalan bersama Rei ke arah parkiran.


"Maafya!" ucap Rei simple.


"Udah nih." ucap Rei.


"Ayoooo!" ajak Sarah kesal.


Rei mengeluarkan kunci mobil.


"Bisa bawa mobil gak?" tanya Rei.


"Ih bisa darimana. Yang ngajarin siapa?" tanya Sarah.


"Kirain udah sama Alvin atau nggak sama Kevin." ucap Rei mengangkat alisnya.


"Siapa aku? Lagian pacar aku sibuk terus ngajar. Aku jadinya gak diajarin bawa mobil." ucap Sarah sambil duduk dikursi mobil yang sudah dibuka sama Rei.


"Oh." ucap Rei jutek.


"Mulai. Kenapa sih selalu su'uzan?" ucap Sarah.


"Gak su'uzan cuma merasa aja." ucap Rei simple. Sambil memarkirkan Mobilnya.


Sarah tidak menjawab.


"Apa yang harus aku ucapkan sekarang? Memang itu benar Rei. Banyak kenangan aku dengan Alvin saat tidak bersama kamu. Termasuk aku ingin banget diajarin bawa mobil sama Alvin. Apalagi saat aku melihat dia yang seperti kamu bahkan lebih super jutek dari kamu. Kalau kamu kan ada romantis-romantisnya. Kalau dia nggak. Kalau udah masuk ke dalam mobil. Dia fokus terus menyetir. Kalau aku fak bicara duluan. Kita gak pernah berbicara sampai aku turun dari mobilnya. Cool banget dia Rei." batin Sarah.

__ADS_1


Rei hanya melajukan mobilnya dan masih sangat kesal.


15 menit sudah berlalu.


Rei dan Sarah masih saja diam-diaman. Kemudian dipinggir jalan. Sarah melihat Danau yang sangat indah. Sarah pun berteriak.


"Rei stop!" teriak Sarah yang membuka kaca mobilnya.


Rei kemudian meminggirkan mobilnya tanpa mengatakan apapun.


Sarah tidak mengatakan apapun dan langsung turun dari mobil.


"Wahhh sangat indah. Indah banget ini Rei." ucap Sarah.


Tidak ada jawaban.


"Rei? Rei?" Sarah menengok ke belakang. Ternyata Rei masih dimobil. Dan malah senderan lalu memejamkan matanya.


Saat Sarah melihatnya ke mobil. Rei masih menutup matanya. Sarah kesal.


"Anak ini. Benar-benar kalau sudah cemburu." batin Sarah. Lalu dia menutup pintu mobilnya kembali. Kemudian membuka pintu mobil Rei. Rei masih menutup matanya karena kesal. Karena Sarah juga kesal. Akhirnya dia mencium pipi kanan kiri Rei.


"Hehe." Sarah ketawa.


"Jangan cemburu! Aku gak suka!" ucap Sarah.


Rei pun membuka matanya karena kaget. Tapi tidak mengatakan apapun. Dia langsung minta Sarah untuk naik kembali ke mobil untuk memarkirkan mobilnya di Area Danau tersebut.


"Naik!" titah Rei.


"Makasih Sayangku." ucap Sarah.


Rei menahan senyum.


Sarah tertawa kuda.


Flashback off.


Saat Sarah sedang mengingat kejadian itu. Tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh Indah.


"Kenapa senyum-senyum sendir?" tanya Indah merangkulnya dan tersenyum.


"Eh mama. Hihi. Ada aja mah hal yang bikin lucu." ucap Sarah.


"Oh gitu. Kamu tidurlah besok kan hari bahagia kamu. Mama masih sibuk menata foto prewedding kalian yang diambil kemarin." ucap Indah.


"Hem. Hasilnya bagus gak yah? Alvin terlalu terburu-buru hem." ucap Sarah.


"Mama yang nyuruh. Soalnya pengen cepat punya cucu." ucap Indah tersenyum.


"Ya ampun mama. Eh aamiin deh. Hihi" ucap Sarah.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan ngobrolnya.


__ADS_2