
Pagi Hari yang cerah.
Semua para tamu undangan sudah hadir. Dari kalangan Pembisnis, Karyawan Pertambangan, Karyawan Rumah Sakit, Karyawan Bandara, dan tetangga-tetangga.
Alvin yang sudah berada dikursi aqad sangat merasa gugup dan banyak berdo'a. Sedangkan Sarah. Dia sudah dirias. Penampilannya sungguh sangat berbeda. Dia benar-benar seperti Cinderella di Negeri dongeng. Saat itu dia sedang mengobrol bersama ke-3 sahabatnya sewaktu SMA. Yaitu, Emeli, Risa dan Saras. Ada juga Radika yang selama ini menjadi sahabatnya. Dia baru saja mengambil foto Sarah yang sedang berpose. Setelah itu bi Ana mendekat.
"Sarah? Selamat sayang! Kamu sudah menjadi istri dari tuan Alvin. Ucapan Sah baru saja bibi dengar. Wali Hakim sudah menikahkan kamu dengannya. Maafkan Ayah Riki dan Bu Rena. Mereka tidak bisa datang. Karena sedang berada di Jawa mengurus Panti Asuhan. Sekarang kamu siap-siap ya! Ingat jangan menangis! Nanti diomelin tuan." ucap bi Ana.
Sarah yang sudah menunduk karena terharu kembali tertawa.
"Alhamdulillah bi. Tadinya aku mau nangis loh. Tapi ucapan bibi itu hihi. Oh iya bi. Semalam aku udah vc sama Ayah dan ibu." ucap Sarah.
"Iya sayang. Yaudah yuk. Kamu sekarang keluar." titah Bi Ana.
Sarah pun keluar. Didayangi oleh Saras dan Emeli. Sedangkan Risa dan Radika mengambil Foto.
Saat Sarah keluar. Alvin yang saat itu sudah berada diujung sebrang karpet merah dekat kursi pelaminan pun berjalan ke tengah untuk menjemput Sarah. Lagu Melepas Lajang yang dulu Alvin nyanyikan distel. Disisi kursi pelaminan sudah ada Andreas dan Indah. Indah menangis sesegukan karena haru.
"Ndres? Saya ingat suami." ucap Indah yang tangisanya semakin keras.
"Nyonya? Nyonya jangan menangis. Alvin dan Sarah pasti ikutan sedih.
"Saya gak kuat. Saya sedih. Papaaaaah." suara Indah bergetar.
"Nyonya?" Andreas iginn merangkul Indah karena merasa Indah adalah Mamanya. Hanya saja Indah menepis tangan Andreas.
"Jangan panggil nyonya! Panggil mama! Mama titip Alvin ya! Mama mohon kamu tetap disini. Dan jangan merasa kamu asistantnya. Anggap kamu itu abangnya. Ingat itu ndres." ucap Indah yang semakin sesegukan saat melihat Alvin dan Sarah yang semakin akan berdekatan.
Kevin dan Aira yang melihatnya. Langsung buru-buru menghampirinya. Kemudian membawa Indah turun untuk duduk di meja. Sedangkan Andreas masih diposisi kursi Wali karena amanah Indah.
Saat itu Sarah merasa ingin sekali menangis. Tapi seprti biasa. Dia malu. Lalu dia berhadapan sama Alvin. Saras dan Emeli turun ke dekat para tamu. Alvin memberikan senyuman yang paling manis untuk Sarah. Kemudian Sarah mengulurkan tanganya kepada Alvin.
"Assalamu'alaikum suamiku." ucap Sarah sambil malu-malu dan sedikit gemetar karena tanganya disentuh Alvin.
"Wa'alikumsalam. Alhamdulillah. Kamu sudah menjadi istri Saya." ucap Alvin tersenyum. Dan mencium tangan Sarah lalu menyentuh kepala Sarah dan mendo'akanya. Kemudian Alvin dan Sarah saling bertukar cincin. Setelah itu. Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah. Dan mendekatkan bibirnya. Semua para tamu undangan tertawa dan bersorak.
Namun, Alvin ingat bahwa kemesraan dengan istrinya tidak akan dipamerkan didepan umum. Akhirnya Alvin berbisik ke telinga Sarah.
"Nanti malam siap kan?" tanya Alvin tersenyum. Namun, semua orang bersorak kecewa karena Alvin tidak jadi mencium Sarah.
Sarah tidak menjawab. Dia hanya menepuk jidat. Para Tamu tertawa karena tingkah mereka. Lalu Alvin pun memegang pinggang Sarah dari belakang. Dan mereka ke kursi pelaminan. Semuanya bahagia. Lanjut Para Tamu menikmati hidangan. Dan saling mengobrol. Ada juga yang berfoto-foto.
Malam hari sekitar jam 11an.
Alvin baru saja melaksanakan Sholat. Dia sudah mandi dan melipat sajadah.
__ADS_1
Sedangkan Sarah dia sudah bersih dan mandi. Seperti malam sebelumnya. Dia sedang menatap bulan yang indah diatas ujung Laut.
"Sarah?" panggil Alvin yang mendekatinya.
Dek dek dek
Jantung mereka sama-sama berdetak kencang.
"Iya?" Sarah menatap Alvin.
"Ngapain disini?" tanya Alvin.
"Indah aja pemandanganya." ucap Sarah.
"Pasti ada kenangan disana." ucap Alvin yang melirik pemandangan itu.
"Sama siapa? Nggaklah. Emang aku suka aja." ucap Sarah.
Alvin hanya meliriknya. Lalu dia pergi ke kasur. Dan membatasi kasurnya dengan selimut. Sengaja dikasur itu tidak dikasih guling.
Sarah yang melihatnya. Sedikit mengerjainya. Dia membiarkan Alvin seperti itu. Karena dia tahu Alvin sedang cemburu.
3 menit kemudian.
"Apa dia masih mencintainya? Kenapa dia masih diam disana? Padahal saya sudah menjadi suaminya. Apa cintanya itu bohong? Apa saya hanya dijadikan pelampiasannya? Apa saya terlalu terburu-biru menikah denganya? Kalau bukan karena mama yang terlalu terburu-buru. Mungkin saya sama dia belu menikah. Tapi sekaran sudah terlanjur. Apa yang harus saya lakukan?" batin Alvin.
Alvin yang masih kesal. Matanya memerah karena menahan amarah dalam hatinya. Sarah lalu naik ke kasur.
"Apa sudah tidur?" tanya Sarah.
Alvin tidak menjawab karena masih kesal.
"Saya tidak mau dekat-dekat kamu. Kalau kamu belum minta maaf." batin Alvin.
Sarah masih ingin mengerjai Alvin. Dia melebarkan selimut yang dijadikan pembatas oleh Alvin. Lalu menyelimuti Alvin. Dan menciumnya. Padahal dia hanya ingin tahu Apakah Alvin udah tidur apa belumnya. Sarah memeluk Alvin dan menciumnya.
"Selamat tidur Suamiku Sayang." ucap Sarah sambil menahan tawa.
Alvin kaget. Nafasnya naik turun karena amarah. Sarah semakin erat memeluk Alvin. Karena tidak tahan. Alvin melepaskan tangan Sarah yang memeluknya.
"Awas! Jangan disini! Jangan dekat-dekat!" ucap Alvin kesal lalu bergeser kedekat pinggir kasur. Namun, Sarah hanya tertawa dan membalikan badan Alvin. Karena Matanya yang sudah berkaca-kaca. Alvin hanya membenamkan wajahnya ke perut Sarah.
"Bercanda sayang. Maafya sayang." ucap Sarah mengelus-ngelus pelipis Alvin.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Nggaklah. Aku mencintai suamiku." ucap Sarah.
"Sini-sini!" ajak Sarah membangunkan Alvin. Kemudian dia menyender dikasur. Sedangkan Alvin masih saja marah seperti anak kecil. Tidak mau melihat Sarah dan masih memeluknya.
"Sayang?" panggil Sarah.
"Apa?" jawab Alvin dengan suara bergetar.
"Loh? Kamu nangis? Kenapa?" tanya Sarah.
Alvin tidak menjawabnya.
"Ya ampun. Rei kedua. Haduh. Harusnya aku yang cengeng karena aku cewek. Apa dia kesal kali ya? Iya deh. Dia nahan kesal kayanya. Ya Allah. Aku minta maaf." ucap Sarah.
"Sayang? Mau seperti ini terus?" tanya Sarah.
Alvin masih tidak mau menjawab. Sarah pun menarik selimut. Dan membiarkan Alvin agar tertidur dipelukannya.
Jam setengah 3 pagi.
Alvin terbangun. Karena merasa sangat haus. Lalu dia membuka matanya. Dia melihat dan merasakan bahwa dia tertidir dipelukan Sarah. Karena merasa ada yang bergerak Sarah pun terbangun.
"Sayang? Kamu bangun?" tanya Sarah kepada Alvin yang sedang menyender dikasur. Dan memegang pelipisnya.
"Kenapa?" tanya Sarah yang matanya masih sepet.
"Mau minum. Haus." ucap Alvin lirih.
"Iya sayang. Tunggu aku ambilkan." ucap Sarah.
"Air putih sama es yang dingin. Aku haus." ucap Alvin sambil berlalu ke kamar mandi.
3 menit kemudian.
Alvin minum air putih dan jusnya.
Kemudian dia mengajak Sarah untuk sholat sunah tahajud.
Setelah itu. Sarah melipat mukena dan menyimpanya dengan rapih. Karena haus. Sarah pun ke kulkas. Meminum jus.
Alvin masih saja cuek. Dia hanya duduk dan melihat kayar hpnya dikasur. Meliaht foto pernikahan mereka. Karena kasihan. Sarah pun menghampirinya.
"Maafin aku ya sayang. Mulai sekarang jangan ada pikiran kesana lagi ya. Kalau aku tidak cinta kamu. Kita tidak menikah loh." ucap Sarah tersenyum dan menatap Alvin.
Alvin tidak menjawab. Dia menatap Sarah dan menyimpan hpnya. Lalu Alvin mendekatkan bibir nya ke bibir Sarah. Tapi dia tidak menciumnya. Dsn hanya berbisik.
__ADS_1
"Apa sudah pernah melakukanya?" tanya Alvin.
"Aku wanita yang suci. Dan kesucian aku semuanya untuk suamiku." ucap Sadah tersenyum. Tanpa basa-basi. Alvin pun langsung mengambil first kiss Sarah. Setelah itu. Alvin mematikan lampu. Dan memberikan nafkah batin pertamanya kepada Sarah.