Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Richard dan Sarah di Perahu


__ADS_3

Bi Ana yang membacanya langsung melihat ke atas langit-langit kamar. Chatnya hanya di read, dan handphoneya ditaro disebelahnya. "Kasihan sekali Neng Sarah. Tapi, emang nasib anak yang ditinggal Orang Tua nya juga sih. Udah ngerasain lah ikut tinggal dengan orang lain itu gak enak. Disini saya jadi ART merasakan ketika orang rumah sini lagi ada masalah. Apalagi saat Tuan Ali meninggal. Suasana sangat gak enak, sempet bingung harus gimana. Tapi untungnya semua itu bisa dilalui. Tuan dan nyonya sangatlah baik hati." ucap bi Ana yang kecapean, sambil memejamkan matanya.


Di Pantai



Sarah yang masih didalam Bus baru saja menyimpan botol minum nya di tas. Lalu dia buru-buru keluar untuk menunggu Rei yang akan menjemputnya. Baru dia akan nyender dibelakang bus, tiba-tiba Rei datang. "Udah lama nunggu?" tanya Rei. "Baru aja keluar dari bus. Mau renang dimana emang?" tanya Sarah. "Ya di Pantai lah." jawab Rei sambil mendekati Sarah. Sarah yang kembali dek-dekan saat didekati Rei, pergi menjauh. "Gak usah dekat-dekat" pinta Sarah. "Kenapa? Pasti berdebar?" Rei menyunggingkan bibirnya. Sarah tidak menjawab dia hanya menatap Rei dengan tajam, dan melingkarkan kedua tangannya didada. Rei pun menghampirinya, balik menatap Sarah dengan tajam dan memegang kedua pundak Sarah dengan lembut. "Ayo ih. Jangan begini." pinta Sarah. Rei tidak menjawab, dia langsung memegang tangan Sarah dan pergi ke Pantai Pasir Putih.


Suara klakson Mobil yang beberapa kali dibunyian Andreas, membuat Pak Andi Security buru-buru membuka gerbangnya. Karena buru-buru, Andreas yang biasanya menyapa Pak Andi. Kali ini dia langsung melajukan mobilnya ke depan pintu rumah. Setelah itu dia langsung menelpon Kevin.


Truut trut truut (Tidak ada jawaban)

__ADS_1


Truut truut trut (Masih Tidak ada jawaban)


Trutt


"Ya ndres. Sorry gue baru break Kerja." jawab Kevin yang baru menutup Laptop nya dimeja makan. "Bantu gue vin cepat. Udah didepan pintu nih" pinta Andreas. "Emang kena,?" belum selesai Kevin berbicara telpon sudah dimatikan. Karena penasaran, Kevin pun menyimpan handphonenya dan bergegas keluar.


Didalam mobil, Andreas membangunkan Alvin yang tertidur sambil menahan perutnya yang sakit. "Pak, maaf udah sampe." ucap Andreas sambil menyentuh pundak Alvin dengan pelan. "Bantu saya!" ucap Alvin yang membuka matanya lalu menutupnya kembali. "Iya pak". Andreas keluar dan membuka pintu. Kevin yang baru datang buru-buru menghampirinya. "Ya ampun, lho berantem lagi vin?" tanya Kevin sambil membantu Alvin masuk ke dalam rumah. "Ya. Tumben banget nih, gak biasanya gue kalau berantem separah ini." ucap Alvin. "Kali ini gue serius. Itu lho lagi banyak fikiran vin, harusnya gak usah berantem. Ngerepotin gue aja lho" ucap Kevin sambil menyunggingkan bibirnya. Alvin menyipitkan matanya. "Masih aja bercanda. Ambilin gue obat!" titah Alvin sambil duduk disofa dengan pelan.


Tuk tuk tuk


Kevin mengetuk pintu kamar bi Ana. Didalam bi Ana yang ketiduran kaget dan membuka matanya. "Siapa?" Sambil membuka pintu. "Eh dhen Kevin." ucap bi Ana. "Bi buru, tuh Si Alvin abis berantem. Buruan ambilin obat sama air hangat ya bi" titah Alvin sambil berlalu meninggalkan bi Ana, dan membawa handphonenya dimeja. Bi Ana yang kaget langsung menyiapkan obat dan air hangat. Karena belum ada orang Kevin menyempatkan mengambil foto Alvin yang sedang tertidur. Namu, saat Andreas yang baru saja datang dari parkiran mobil. Dia membangunkan Alvin untuk membantu membuka sweeter dan bajunya, karena Alvin akan diobati.

__ADS_1


Dirumah sakit


Terlihat Suster yang baru saja keluar usai mencek keadaan Indah. Sedangkan Aira, baru saja selesai mengupas buah untuk Tantenya. Setelah itu, Aira membantu Indah untuk duduk dan memberikannya buah yang sudah dikupas.


Saat Aira akan mengambilkan air putih, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Tanda ada chat masuk. Saat dia membuka chat nya. Terlihat chat dari Kevin. Dia mengirimkan foto Alvin dan menjelaskan bahwa Alvin baru saja berantem. Namun, Kevin melarang Aira untuk memberitahukanya ke Tante Indah. Aira yang mengetahuinya sangat shok. "Ya ampun, ada aja yang bikin kaget. Semoga lukanya gak serius tu anak." ucap Aira dalam hatinya.


Tadi setelah pakaianya dibuka, Alvin menyuruh Andreas dan Kevin untuk makan duluan. Sedangkan dirinya kembali merebahkan tubuhnya yang sakit. Bi Ana yang baru saja datang membawakan obat dan air hangat sangat sedih melihat Alvin yang terluka. "Ya Allah. Tuan, bibi sangat sedih melihatnya. Tuan Ali sudah pergi, nyonya juga lagi sakit sekarang. Tuan harus kuat ya, harus cepat sembuh. Perusahaan pasti butuh Tuan juga." ucap Bi Ana yang masih berdiri. Dia sangat memperhatikan tubuh Alvin yang sangat mirip dengan Papah nya, saat buka baju ketika habis olahraga.


sebelum makan, Kevin dan Andreas mengobrol. Menceritakan bahwa Alvin akan dibawa ke Apartement nya dulu, untuk menghindari Tante Indah agar tidak tahu apa yang sudah terjadi. "Terus bagaimana dengan keberangkatan ke Kalimantan?" tanya Kevin. "Sebenarnya sih ada meeting yang gak bisa ditunda. Cuma kalau dipaksain juga, kayanya sih Pak Alvin gak bakalan kuat vin. Saya disuruh nelpon Pak Cipta untuk ngasih kabar secepatnya. Biar dia yang hadir di Meeting besok." ucap Andreas. "Posisi Pak Cipta sendiri?" tanya Alvin. "Dia Direksi kedua disana" jawab Andreas. "Gak jadi kesana dong?" tanaya Kevin sambil meminum segelas air putih. "Pak Alvin bilang, jadinya jari rabu." ucap Andreas. "Yaudahlah kalau aman. Ayo makan dulu lah" ajak Kevin.


Beralih ke Reicard dan Sarah

__ADS_1


Untuk pergi ke Pantai Pasir Putih yang ada di Desa Pananjung, dari Pantai Pasir hitam kurang lebih jaraknya 10 menit. Jadi, Rei memutuskan untuk pergi menggunakan jalur Laut. Terlihat Sarah yang sedang Asyik mengambil foto hamparan Laut yang sangat indah. Sedangkan, Rei terlihat fokus memainkan handphone nya. Mungkin, lagi menghubungi seseorang. Sarah yang melihat Rei, iseng mengambil fotonya tanpa izin. Namun, bukan Rei jika tidak tahu apa yang dilakukan Sarah. Rei pun menyimpan handphonenya disaku. Lalu dia mendekat ke arah Sarah, sambil bertanya dengan tatapanya yang tajam. "Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Rei jutek. Sarah Kaget, "Tidak ada," Sambil membelakangi Rei. "Aduh, malah ketahuan. Ya ampun bagaimana aku? Mungkinkah dia marah? Hmm" ucap Sarah dalam hati dan mengerucutkan bibirnya. Rei yang melihat Sarah memakai pakain singlet panjang, dan baju rajut untuk menutupi bagian atasnya. Penampilan Sarah yang seperti itu membuat dirinya semakin ingin mendekat. Rei menyentuh pundak Sarah dengan sangat lembut. Sarah yang hanya diam, tidak bisa berbuat apa-apa karena jantung yang sudah biasa berdebar saat didekati Rei. "Apa?" tanya Sarah yang masih membelakangi Rei. Rei tidak menjawabnya, namun dia menatap Sarah dengan tatapannya yang tajam dari belakang. Nafas Sarah semakin naik turun, saat Rei memeluknya dari belakang. "Rei kamu kenapa?" tanya Sarah yang dek-dekan. Rei tidak menjawabnya, dia memeluk Sarah dengan sangat erat. Dan berbisik ke telinga Sarah. "Mau foto bareng?" tanya Rei. Sarah yang spontan tertawa dan melepaskan tangan Rei. Lalu menatap dan menggenggam tanganya Rei. "Ayo!" ajak Sarah. Mereka pun difoto bareng, tapi tidak lama. Karena, Nelayan ngasih tahu kalau mereka akan segera sampai.


__ADS_2