Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Alvin Bertemu Richard


__ADS_3

Beberapa menit kemudian. Alvin turun dari mobil. Dia berjalan duluan. Sedangkan bi Ana dan Sarah sedang mempersiapkan bunga yang dibelinya. Sengaja bunganya beli banyak.


Dimakam Rei meminta izin ke Alex dan sahabatnya untuk duluan ke mobil. Karena rasa sakit ditubuhnya masih terasa dan cuaca panas membuat kepalanya pusing. Ditengah-tengah jalan. Alvin melihat makam papanya sedang dikunjungi orang. Saat hampir dekat ke makamnya. Alvin berpapasan dengan Rei.


"Permisi. Maaf. Sepertinya itu makam papa saya. Apa anda baru mengunjunginya?" tanya Alvin.


"Ali Wijaya?" tanya Rei.


"Betul. Itu nama papa saya." jawab Alvin.


"Anda ini siapanya ya?" tanya Rei.


"Saya anaknya. Alvin Wijaya." ucap Alvin sambil membuka kaca matanya dan tersenyum ramah. Rei terkejut dan tidak menyangka akan ketemu Anak sahabat papa nya secepat itu. Rei menggelengkan kepala. Dan mengajak Alvin salaman.


"Saya Richard Putra Alexandar. Anaknya sahabat Pak Ali." ucap Rei sambil merangkul Alvin.


"Berarti nama papanya Alexandar?" tanya Alvin tertawa kuda dan menerima uluran tangan Rei.


"Nah. Mudah dikenali kan?" tanya Rei.


"Iya iya. Tidak disangka yah bisa bertemu disini." ucap Alvin.


"Udah takdiiiiir. Hehe. Oh iya saya lagi sedikit pusing nih. Ini mau duluan ke mobil. Itu papa baru datang dari Jerman kemarin sore. Masih lepas kangen kali. Saya gak bisa kesana lagi" ucap Rei sambil tersenyum.


"Ya. Sangat terlihat. Sepertinya habis berantem. Maaf kalau lancang." ucap Alvin tersenyum lebar.


"Ya beginilah. Kalau wanita lagi salah paham." ucap Rei tertawa kuda.


"Wanita? Apa sudah menikah?" tanya Alvin.


"Belum. Masih dekat doang. Oh iyaa kalau gitu minta nomornya boleh?" tanya Rei.


"Boleh-boleh. Simpan disini aja. Gak bawa hp kan?" tanya Alvin sambil memberikan hpnya ke Rei.


"Hp saya dimobil. Nih saya masukin ya. Namanya Rei Xandar aja biar gak kepanjangan." ucap Rei tertawa kuda. Setelah memasukan nomor hpnya Rei pun memberikan hpnya kembali.


"Terimaksih. Lain kali mampir ya ke Jaksel." ucap Alvin.

__ADS_1


"Oh di Jaksel ya?" tanya Rei.


"Iya." ucap Alvin.


Saat Alvin mau menanyakan dimana rumah Rei. Tiba-tiba bi Ana memanggilnya.


"Tuan?" panggil bi Ana.


Alvin dan Rei spontan melihat ke arahnya.


"Kenapa bi?" tanya Alvin.


"Nggak apa-apa tuan. Tadi pas bibi mau kesini. Nyonya nelpon suruh cepatan pulang. Mau ada banyak karyawan Rumah Sakit ke rumah." ucap bi Ana.


"Terus?" tanya Alvin.


"Bibi gak bisa lama-lama tuan disini. Nanti tuan pulang sama si neng aja yah." ucap bi Ana membawa bunga.


"Ya bi." ucap Alvin.


"Ini siapa tuan?" bi Ana melihat Rei.


Alvin hanya tersenyum.


"Massya Allah. Nggak Tuan, nggak Dhen Kevin, nggak Mas Rei ini. Semuanya ganteng-ganteng hihi." ucap bi Ana.


"Terimakasih bu." ucap Rei sambil mengelus pundak bi Ana.


"Yaudah saya duluan ya tuan, mas Rei." sambil menganggukan kepala dan berlalu.


"Bibi? Bibi ? Tunggu aku. Sendalku copot." teriak Sarah membuka maskernya sebawah dagu.


Karena bi Ana sudah berlalu. Jadi, dia tidak mendengarnya. Sedangkan, Alvin dan Rei melihat Sarah ke arah mobil.


Rei tidak asing mendengar suara tersebut. Sedangkan Alvin hanya mengerutkan alisnya.


"Bibiiiiii? Bagaimana ini?" teriak Sarah. Karena kesusahan dia mencopot sandalnya dan berjalan hanya menggunakan kaos kaki, sambil membawa bunga.

__ADS_1


"Maaf. Siapa wanita itu?" tanya Rei ke Alvin.


"Wanita yang tinggal dirumah saya. Tetangganya ibu yang barusan lewat." ucap Alvin.


Sarah sudah berada 2 meter dibelakang Rei. Belum melihat Rei. Karena Rei masih menghadap Ke Alvin.


Sarah dan Alvin saling menatap.


"Maaf Pak Alvin. Sendal saya talinya copot sebelah." ucap Sarah cemberut.


"Terus saya harus bagaimana? Itu urusan kamu." ucap Alvin menatapnya dengan tajam.


"Dan jangan teriak-teriak disini. Ini pemakaman." ucap Alvin.


Rei masih berfikir dan belum berbalik badan. Wanita itu benar Sarah apa bukan.


"Maaf deh." ucap Sarah.


Karena Rei penasaran. Rei berbalik badan.


"Sarah?" panggil Rei.


Bukan dusta. Sarah sangat kaget saat melihat Rei ada dihadapanya.


"Reiii? Kok kamu disini? Apa ada yang meninggal?" tanya Sarah. Sambil sesekali melirik Alvin yang terlihat kebingungan.


Rei yang melihat Sarah tidak memakai sandal, tidak menjawabnya. Dia langsung menggendong Sarah.


"Apa yang kamu lakukan tanah ini pasti panas. Apa gak lihat cuacanya?" tanya Rei menatap Sarah.


Sarah yang digendongnya tidak menjawab karena shok.


Sedangkan Alvin melihat Rei menggendong Sarah. Darah mudanya langsung mendidih karena shok, menahan cemburu, dan kesal. Alvin sudah bisa menyimpulkan. Bahwa Sarah dan Rei memiliki hubungan.


"Oh jadi. Yah. Yasudahlah." ucap Alvin dalam hatinya dan bergegas pergi.


"Maaf Rei. Saya duluan ya." ucap Alvin sambil berlalu.

__ADS_1


"Iya iya vin." jawab Rei dan berbalik badan. Namun, Alvin keburu pergi.


__ADS_2