Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Salah masuk Toilet


__ADS_3

Seperti pergantian siang dan malam. Begitupun hari ke minggu. Minggu ke bulan.


Jakarta, 22 Desember 2022


Saat itu Sarah sedang dikantor menatap layar komputer. Lalu dia menyelesaikan dokumenya yang hanya tersisa selembar. Untuk menghilangkan pegel dan mata lelah. Dia menyenderkan tubunya dikursi dan memeramkan matanya sebentar.


Dreeet dreeet dreeet


Hp Sarah bergetsr didekat meja komputer.


Saat dilihat Rei menelponnya.


"Hallo Rei?" sapa Sarah.


"Hallo. Apa kamu sibuk?" tanya Rei.


"Nggak Rei. Ini aku baru aja nyelesaian dokumen. Bentar lagi mau keluar buat makan siang. Kalau kamu Rei?" tanya Sarah.


"Biasa. Saya masih dikampus." ucap Rei.


"Rei? Kapan kita bertemu? Sudah seminggu kita jarang banget bertemu Rei. " ucap Sarah.


"Nanti malamya kita bertemu. 3 hari yang akan datang mama akan datang ke rumah. Belum lagi papa udah dijalan mau kesini. Jadi kita akan sulit bertemu." ucap Rei.


"Dari Jerman?" tanya Sarah.


"Iya. Merayakan natal disini." ucap Rei.


Sarah sedikit diam. Hatinya sangat benar-benar sakit. Dada nya mulai terasa engap saat Rei mengatakan kata Natal.


"Ehm. Sarah?" panggil Rei.


"Eh iya. Maaf Rei. Aku sedikit ngantuk. Tadi dokumen banyak banget. Mataku sedikit perih dan pegal." ucap Sarah.


"Hem. Yaudah deh. See you." ucap Rei.


"Iya sayangku. Jangan lupa makan sayang!" ucap Sarah.


"Hem." Rei mematikan telponnya.


Sedangkan Sarah. Menyimpan hpnya didadanya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Rasa engap semakin terasa saat dia menahan rasa ingin mengis. Dia pun buru-buru berlari ke toilet.


"Ya Allah. Kenapa? Kenapa aku? Harusnya aku tidak bersedih lagi mendengar kata-kata itu. Aku tahu. Rasa cintaku kepadanya semakin hari semakin berkurang. Dan aku hanya akan menunggu perpisahan denganya. Tapi kenapa? Hati seakan berat untuk memutuskan. Kenapa ini? (Menangis sesegukan). Rei? Sepertinya aku tidak bisa Rei. Aku gak mau kita berpisah. Tapi bagaimana ini? Kita gak bisa seperti ini terus Rei. Aku memang sudah menyiapkan obat hatiku nanti ketika kita memang harus berpisah Rei. Dengan cara aku mencintai Alvin. Aku sangat minta maaf Rei. Bukanya hati aku menduakan mu. Tapi jika aku tidak seperti ini. Luka ku akan jauh lebih besar dibanding sekarang yang aku bayangkan. Disaat waktunya nanti tiba kita berpisah. Aku tidak tahu. Aku akan seperti apa jadinya. Karena Alvin sepertinya tidak tertarik kepadaku Rei. Dia selalu jutek dan menghindariku. Beberapa bulan kebelakang. Sikapnya masih seperti itu kepadaku. Aku hanya bisa memendam cintaku. Dan aku setiap harinya seperti ini Rei. Selalu fokus bekerja. Rei? Aku....." ucap Sarah. Seketika ucapan dalam hatinya terpotong. Saat ada seseorang yang mengtuk pintu toilet.


"Hey? Siapa disana? Sepertinya kamu seorang wanita? Apa ada dua orang disana?" tanya Seorang laki-laki clining service.


"Maaaf. Maaf. Tunggu sebentar." ucap Sarah.


"Waduh mbak. Sengaja apa gimana? Ini kan toilet pria? Kenapa bisa salah masuk?" taya CS tersebut.


"Maaf. Tadi saya buru-buru." ucap Sarah yang keluar dan membuka pintu toilet. Dia buru-buru pergi. Lalu masuk lagi ke dalam kantor untuk mengambil masker. Karena dia akan makan siang.

__ADS_1


"Pak? Kenapa wanita tadi?" tanya Radika yan baru saja mencuci tangan dan mukanya.


"Saya lihat di id card nya. Namanya Sarah. Tapi dia buru-buru pergi. Saya beberpa menit ngepel lantai ini. Kirain siapa kan yang nangis sesegukan didalam toilet. Mana toiletnya salah. Malah disini (menunjukan tulisan toilet pria)." ucap Cs tersebut.


"Oh. Yasudah." ucap Radika sambil berlalu.


Saat dia keluar. Radika masuk ke dalam kantor. Dia berpapasan dengan Sarah yang memakai masker. Tapi matanya terliha bengkak. Tidak seperti biasanya. Karena saat berpapasan biasanya Sarah menyap Radika dengan Ramah.


Di pantry.


"Ehm. Kamu kenapa?" tanya Radika.


"Apanya yang kenapa. Aku gak apa-apa." ucap Sarah yang lagi makan dan menutupi wajahya dengan satu tangan.


"Ah masa? Tapi kok kamu nangis sih?" tanya Radika penasaran. Dengan menaikan kedua tanganya diatas meja. Dia menatap Sarah. Sambil sesekali melirik hp Sarah.


"Hem. Biasalah. Masalah hati. Udah ah gak usah mancing-mancing. Mulut aku ntar suka keceplosan." ucap Sarah.


"Eh. Gak apa-apa kali. Toh selama kita kerja bareng. Kamu kan udah jadi sahabat saya. Saya aja sering curhat. Begitupun kamu. Iya kan?" ucap Radika.


"Hem iya sih. Tapi kali ini.." ucap Sarah.


"Ayolah. Cerita yah." ucap Radika menaikan turunkan alisnya.


"Huh. Maksa. Yaudahlah ntar ceritanya. Jangan disini yah." ucap Sarah.


Dreet dreet dreet


Hp Sarah bergetar. Alvin menelpon.


"Ih. Malah tertawa. Angkat!" ucap Radika.


"Iya." Sarah tertawa kuda.


"Siapa?" tanya Radika.


Sarah memperlihatkan layar hp nya. Yang menelpon itu "Pak Alvin Wjy."


"Widih. Mulai. Seneng-seneeeeeng." ucap Radika sambil meminum air yang udah dibelinya.


"Ini gimana? Keburu mati." ucap Sarah.


"Telpon balik buruan! Nanti kamu dijutrkin lagi loh." titah Radika.


"Hem ya deh." ucap Sarah.


Trut trut trut


"Darimana?" angkat Alvin. Yang saat itu sedang berada di Restoran.


"Aku lagi." ucap Sarah.

__ADS_1


"Bilang aja lagi makan sambil nangis." ucap Radika sambil berlalu.


"Radikaaaaaaaa. Anak itu." Sarah kesal. Menggigit bibirnya.


"Siapa?" tanya Alvin.


"Radika. Rekan kerja. Maafya." ucap Sarah.


"Apa kamu sedang menangis?" tanya Alvin.


"Heeeem. Memangnya kalau aku menangis. Bisa menghibur?" tanya Sarah sambil minum segelas air putih.


"Ah. Lupakan! Saya nanti jemput kamu sedikit telat ya! Ada urusan dulu. Kamu kalau belum saya jemput. Jangan kemana-mana!" ucap Alvin.


"Kok jemput aku lagi? Tumben." tanya Sarah.


"Suruh mama. Dia mau ngajakin kamu ke RS." ucap Alvin.


"Untuk apa?" tanya Sarah.


"Mau apa nggak?" tanya Alvin tegas.


"Mau mau. Kapan sih aku nolak permintaan Tante." ucap Sarah bangga.


"Hem. Yaudah ya. Saya mau makan dulu." ucap Alvin.


"Okee. Nanti hati-hat. Eh nggak deh. Matiin ya." ucap Sarah.


"Ada apa dengan dia?" batin Alvin dan mematikan telponnya.


Dreet dreet dreet


Kevin menelpon Alvin.


"Ada apa?" Angkat Alvin.


"Malam minggu. Dikantor baru gue ada acara. Lho ikut ya! Jangan lupa ajak Andreas sama Reicard." ucap Kevin.


"Kenapa Rei harus ikut?" tanya Alvin.


" Yaelah. Tumben lho nanya gitu? Cemburu ya takut dia ketemu Sarah?" ucap Kevin.


"Ya nggak juga sih. Acara apa sih?" tanya Alvin.


"Ah masa? Biasanya kalau kita ke luar. Lho pasti ngajak Rei. Tumben-tumbenan kali ini. Apa lho cemburu kali. Haha" ucap Kevin jail.


"Apasih lho. Acara apa gue nanya tuh." ucap Alvin kesal.


"Masih aja nih orang munafik." batin Kevin.


"Ehm." Alvin berdehem.

__ADS_1


"Ya yaa. Biasalah. Acara tahunan kantor gue." ucap Kevin.


" Hem. Oke. Oke. Yaudah ya." Alvin mematikan telponnya.


__ADS_2