
Di Bandara Soekarno-Hatta.
Tiga bulan kemudian.
Sarah dan Alvin sudah baikan. Mereka sudah tunangan dan akan segera menikah. Sedangkan Rei. Dia akan melanjutkan kuliahnya di Luar Negri. Pertemuan Keluarga Alvin dan Rei setelah Sarah terbangun dari koma. Menjadi moment yang sangat indah. Dimana Alexandar menyuruh Alvin menganggap dirinya sebagai Papah keduanya. Dan Rei menjadi adiknya. Karena Rei dan Alvin lahir duluan Alvin yan hanya berjarak 5 bulan. Amanda menganggap Indah sebagai adiknya.
Alvin yang sudah berada di mobilnya menelpon Sarah.
"Hallo?" sapa Sarah.
"Udah siap?" tanya Alvin.
"Masih satu dokumen lagi. Apa kamu udah jalan?" tanya Sarah.
"Udah di Mobil nih." ucap Alvin.
"Yaudah jalan dulu! Keburu yah aku kelarin dokumen dulu." ucap Sarah yang masih menatap layar hpnya.
"Ya." ucap Alvin.
"Tunggu!?" panggil Sarah.
"Kenapa?" tanya Alvin.
"Adik kamu berangkat sama siapa?" tanya Sarah.
Alvin menarik napas panjang.
"Sama papa kedua." ucapnya.
"Kamu hati-hati ya! Ingat gak boleh kebut!" ucap Sarah sambil tersenyum.
"Ya." ucap Alvin dan mematikan telponnya.
Di Bandara Soetta (Kurang lebih pukul 12:30 WIB)
Amanda dan Indah sedang asyik mengobrol di Restorant. Sedangkan Rei dan Alex masih saja diam-diaman walaupun mereka duduk bersebelahan.
Rei menatap layar hpnya. Dan menghapus semua foto-foto kebersamaannya bersama Sarah.
"Terimakasih. Sudah membuat saya nyaman saat didekatmu. Ternyata perkataan saya dulu benar. Salahsatu dari kebahagiaan itu akan ada. Sekarang saya bahagia karena sudah mendapatkan kasih sayang orang tua kembali. Tapi, saya harus melepaskan kamu. Kamu begitu istimewa. Saya harap rasa sakit ini semakin menghilang saat saya jauh disana." batin Rei. Dan tak terasa air matanya jatuh.
Alex yang tak sengaja melihatnya. Langsung merangkulnya.
"Maafin papa Rei." ucap Alex.
"Sudahlah pah. Papa gak salah. Bukan jodoh pah. Rasa ini hanya sebentar pah. Rei ingin mendapatkan yang lebih baik darinya.Tapi pah apa?" ucapan Rei terpotong oleh Alex.
"Sudah! Sudah! Papa tahu apa yang akan kamu katakan Rei. Setelah papa pikir-pikir. Masalah keyakinan itu hak kamu Rei. Silahkan kalau kamu akan menjadi Mualaf. Papa gak larang Rei. Kamu sudah Dewasa. Hanya satu yang papa minta. Jangan menjadi anak manja dan cengeng lagi! Papa dan mama semakin tua Rei. Kewalahan kalau kamu seperti itu terus." ucap Alex sedikit menghibur.
"Papah." Rei memeluk Alex dan menangis sesegukan.
Sejam kemudian.
Alvin dan Sarah tiba.
Rei dan Sarah bertemu. Mereka saling menatap. Alvin hanya meliriknya dan mencoba menahan cemburunya karena harus ngerti keadaan.
__ADS_1
"Sudah mau berangkat?" tanya Sarah.
"Ya." ucap Rei.
"Kapan kesini lagi?" tanya Sarah sambil tersenyum.
Alvin dan Rei kaget dengan pertanyaan Sarah.
"Kenapa harus tahu?" tanya balik Rei.
Sarah tidak menjawabnya. Hanya menggigit bibir bawahnya dan melihatke bawah.
"Kenapa?" tanya Alvin yang juga penasaran.
"Perpisahan itu pasti ada Rei. Dua diantara kebahagiaan yang dulu kamu inginkan. Satu sudah kamu dapatkan. Dan yang satunya masih harus kamu cari. Maaf Rei. Aku," ucapan Sarah berhenti karena rasa tangis yang tidak bisa ditahan.
Rei hanya menunduk dan menganggukan
kepalanya. Sedangkan Sarah berusaha menatap Alvin.
"Saya tidak suka melihat kamu menangis. " ucap Rei yang menatapnya dengan tajam.
"Apa Alvin akan menjagaku disaat Kamu jauh Rei? Aku tidak punya," ucapan Sarah terpotong.
"Saya ini kakak kamu. Dan Alvin suami kamu nanti. Saya percaya sama dia. Dia akan terus melindungi kamu. Jangan merasa kamu sendiri lagi sekarang. Mau saya bahagia kan?" ucap Rei.
Sarah tidak menjawab. Dia hanya menatap Alvin yang penuh harap.
Alvin hanya tersenyum dan mengangguk.
"Jangan berharap saya akan peluk kamu. Kita ini belum halal Sarah." ucap Alvin menatap Rei dan menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.
Rei tidak menjawab. Dia malah meneteskan air mata dibalik kacamatanya.
"Kamu masih saja cengeng." ucap Sarah yang menyeka air matanya.
Rei hanya sedikit tertawa kuda.
"Ayo!" ajak Alex yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Rei langsung berpindah memeluk Alex.
"Anak manja. Dimaklum ya!" ucap Alex kepada Alvin dan Sarah.
Mereka pun tertawa.
10 menit kemudian.
Pesawat berangkat menuju Kerajaan Saudi Arabia. Membawa Rei, Amanda, dan Alex. Sarah, Alvin, dan Indah hanya tersenyum. Sarah memeluk Indah. Sedangkan Alvin menelpon Andreas untuk menjemput Indah ke Bandara. Karena Alvin akan mengantarkan Sarah untuk kembali ke Kantornya.
Dimobil.
Sarah hanya menatap kaca mobil. Dan Alvin hanya fokus menyetir.
"Masih sedih?" tanya Alvin.
"Nggak lah. Aku lagi mikirn kamu." ucap Sarah jutek.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alvin.
"Apa kamu masih akan seperti ini kalau kita sudah menikah?" tanya Sarah polos.
"Hem. Memangnya kamu tahu menikah itu seperti apa?" tanya Alvin melirik Sarah sebentar.
"Em. Ya tentu. Kita tidak boleh mencintai orang lain lagi. Terus kita punya anak dan aku gak boleh kemana-mana kalau kamu gak izinin." ucap Sarah menatap Alvin.
"Hanya hafal tiga? Itu saja?" tanya Alvin yang masih fokus menyetir.
"Iya." ucap Sarah yang masih menatapnya.
"Yang kedua apa tadi?" tanya Alvin.
"Yang kedua?" ucap Sarah berpikir kemudian tertawa. Karena yabg dia sebutkan adalah punya anak.
"Iiiihh Alviiin. Yang kedua kenapa memangnya?" tanya Sarah.
"Senang aja. Udah siap jadi ibu dari anak saya? Umur kamu baru 19 loh." tanya Alvin menggoda.
"Em. Udah. Haha. Iiih. Udah ih jangan dibahas. Malu ih." ucap Sarah.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya.
"Langsung ke kantor ya?" tanya Sarah.
"Iya." jawab Alvin.
"Tapi aku lapar vin." ucap Sarah.
"Ya beli dulu. Tapi makan nya dikantor ya!" ucap Alvin.
"Hem. Kalau kita sudah menikah apa aku masih boleh kerja? Aku kan mau kuliah vin." tanya Sarah.
"Dimana?" tanya Alvin.
"Ya dikantor sekarang." ucap Sarah.
"Nggak. Hari ini terakhir kamu kerja disana." ucap Alvin.
"Haah? Jangan ih! Janganlah! Aku masih butuh uang." ucap Sarah.
"Aku akan mempercepat pernikahan kita. Mungkin 3 hari lagi." ucap Alvin.
"Hah? Benarkah itu?" tanya Sarah.
"Ya." ucap Alvin.
"Nanti aku kerja dimana? Bagaimana kalau pak Kevin kecewa?" tanya Sarah.
"Saya sudah bicara sama dia. Kamu akan jadi istri saya. Jadi kerjaan kamu gimana nanti." ucap Alvin.
"Ya deh. Kalau kamu sekarang mau ke Kantor lagi apa ke pulang?" tanya Sarah.
"Ke Mesjid dulu. Nanti ke Kantor lagi. Ada meeting." ucap Alvin.
"Iya sayang." ucap Sarah.
__ADS_1
Alvin tidak menjawab dan hanya melajukan mobilnya.
"Ya Allah. Sejujurnya aku masih memikirkan Rei. Aku masih merasa kehilangan. Hanya do'a yang bisa aku berikan untuknya. Dan terimakasih Ya Allah. Sebentar lagi aku akan menikah dengan orang yang aku cinta." batin sarah dan melirik Alvin sambil tersenyum.