
Emeli mengetuk pintu beberapa kali.
"Ini udah selesai" ucap Sarah sambil memakai gelang.
"Kita duluan deh, nunggu dibawah tangga ya. Biar barengan sama teman-teman yang lain" ucap Emeli.
"Iya, aku mau pake sandal dulu nih"
Tidak ada jawaban, karena ke-3 temanya langsung turun. Sarah pun langsung memakai sepatu hells berwarna hitam yang tidak terlalu tinggi. Dia bergegas akan mengunci pintu, namun saat dia akan mengambil kunci, pandanganya tertuju pada paper bag yang dikasih pak Rei. Dia pun penasaran dengan isi paperbag tersebut, dan langsung melihat isinya.
Ilustrasi gaya Rambut Sarah dan wajahnya. Hanya kebayanya yang berbeda.
Alangkah terkejutnya dia, Jam Tangan yang sangat indah dan bermerek. Jam tangan itu berwarna hitam mengkilat, dan bisa disentuh. Dia sangat bahagia, lalu menempelkan jam tangan itu ke dada nya. Tak berfikir lama, gelang yang tadi dipake diganti oleh jam yang sedang digenggamnya. Kemudian dia keluar dan mengunci pintu. Teman-temanya dibawah sudah menunggunya dan alangkah takjubnya mereka, ketika melihat Sarah yang turun dari tangga, memakai stelan kebaya berwarna gold dengan kainya batiknya yang sangat indah. Sepatu heels yang tidak terlalu tinggi, membuatnya semakin terlihat cantik terlebih lagi parasnya yang dipolesi make up dan rambut yang disanggul layaknya pramugari menjadikan dia tampil begitu berbeda.
"Waahhh." Teman-temanya hanya melongo.
"Sarah? Sejak kapan berubah menjadi putri" ucap Risa.
Teman-temanya masih pada ngelihatin.
"Terimakasih. Tapi gak usah berlebihan. Ayo nanti kita telat lagi" ajak Sarah yang baru saja turun. Mereka pun langsung ke ruang function room. Ketika teman-temanya masuk duluan ke ruang function, Sarah yang terakhir saat akan duduk digodain oleh siswa IPS yang duduk dipaling depan.
"Nona cantik yang terakhir ini akan jadi miliku" Dengan PD nya dia berkata. Semua yang ada diruangan tersebut mensoraki nya "huuuhhh huuhhh" ada juga yang bilang "Ciee-ciee." Tapi ada juga siswa yang kesel "Ngaca woy ngaca."
Siswa IPS tadi mejawab dengan latang nya "Memiliki seorang yang istimewa itu bukan dengan ngaca, tapi dengan ketulusan." Semua yang ada diruangan kembali bersorak. Sedangan Sarah yang dipujinya langsung duduk dan melihat ke arah Pak Rei yang sudah menatapnya duluan dengan tajam. Saat Sarah menatapnya, pak Rei membuang muka. Seolah dia tidak suka dengan apa yang barusan terjadi.
"Sudah. Sudah. Mohon perhatian semuanya. Acara akan segera dimulai" titah MC yang mengondusifkan keadaan. Acara pun dimulai, musik dan tarian yang dipersembahkan anak seni berjalan dengan sangat lancar, sambutan dari Kepala Sekolah, pembacaan puisi, Pidato perpisahan akan dilaksanakan. Waktu sudah menunjukan pukul 21:15 wib. Acara inti pemberian piagam kelulusan dan pengalungan mendali mulai dilaksanakan. Banyak siswa-siswi yang menangis. Sarah yang menunggu giliran dilihatin terus sama Pak Rei. Tapi dia tidak menyadarinya, karena dia sedang menunduk sambil memainkan handphone nya. Sarah hampir terbawa suasana ingin menangis, tapi dia berusaha tegar dan tidak ingin meneteskan air mata. Selain karena dia yang berusaha kuat tapi dia tidak ingin menangis karena malu sama Pak Rei juga.
"Penghargaan ini belum seberapa. Ada banyak hal yang harus aku capai diluar sana. Aku tidak akan menangis, tidak akan. Tangisan ini hanya untuk keberhasilan aku nanti. Semoga aja hmm" gumam Sarah.
Tiba-tiba Pundak kirinya dipegang dari depan. Spontan dia melirik, ternyata Devi.
"Kalau kamu udah dipanggil. Kita difoto diluarya. Aku duluan" ucap Devi yang sudah memakai mendali bertuliskan almamater sekolah dan membawa piagam kelulusan.
"Iya Dev." ucap Sarah sambil tersenyum.
Setengah jam kemudian, giliran Sarah dipanggil.
Ketika cameramen sudah mengambil fotonya, dan Sarah akan pergi keluar tiba-tiba Pak Rei datang.
"Jangan lama-lama ya! Saya tunggu di loby" Sambil berlalu.
Sarah kaget, dan dia tidak menjawabnya karena Pak Rei yang sudah berlalu.
Emeli, Saras dan Risa menghampirinya.
"Ayoo kita foto bareng!" ajak Emeli.
Mereka pun berfoto bareng. Tidak lupa Sarah juga berfoto dengan Devi dan teman-teman lainya.
__ADS_1
Setelah itu, Emeli dan Saras kemali ke dalam untuk menunggu acara karaokean sedangkan Risa menemui pacarnya yang udah janji akan membeli baju untuk mama pacarnya. Dan Sarah langsung ke loby untuk bertemu dengan Pak Rei. Saat Sarah tiba di loby, dia tidak menemukan pak Rei. Hanya ada 2 orang resepsionis dan satu orang security. Dengan tidak ada rasa malu, Sarah menanyakanya kepada security.
"Mohon maaf pak, tadi udah ada orang yang duduk ditempat antrian gak?"
"Maaf mbak. Sepertinya belum ada Hanya ada beberapa teman-teman sekolah mbak yang lewat kesini"
"Oh. Makasih ya pak"
"Iya mbak"
Saat Sarah berbalik badan, terlihat Rei yang baru saja membuka pintu loby. Seperti biasanya, kalau berdekatan sama pak Rei jantungnya selalu berdebar dan membuatnya salah tingkah. Mereka saling tatap, tidak ada sedikit kata pun yang keluar. Hingga Pak Rei memalingkan muka. Dan berjalan duluan
"Ikuti saya!
Sarah tidak menjawab, dia hanya menurutinya. Langkah Rei tiba-tiba terhenti dan berbalik badan menatap Sarah.
"Kenapa lagi? Kita mau kemana sih?" tanya Sarah.
"Kunci kamar kamu siapa yang bawa?"
"Ih mau ngapain tanya kunci kamar?" Sarah Shok.
"Jawab aja."
"Ada nih ditas."
"Yaudah."
"Ke kamar, kamu ga."
"Nggak. Mau ngapain?" Sarah memotong pembicaraan.
"Kebiasaan. Saya belum selesai berbicara, jangan dipotong dulu"
"Hm."
"Ke kamar kamu, kamu ganti pakaian dulu. Saya mau ngajak kamu jalan" Alangkah malu nya Sarah.
"Te te rus bapa nunggu dimana?"
"Saya juga mau ganti pakaian. Gak enak jalan pake jas."
"Yaudah. Oh iya?"
"Kenapa?" Rei sudah berbalik badan.
"Coba lihat dulu sebentar"
Saat Rei melihatnya, Sarah menunjukan Jam tangan yang diberikanya.
"Terimakasih" Sambil tersenyum imut.
__ADS_1
Rei tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan kembali bergegas menuju kamarnya.
"Wah. Mimpi apa nggak nih? Baru kali ini seorang Reicard tersenyum" Sarah ergumam.
Saat Sarah tiba dikamarnya, dia langsung kekamar mandi untuk bersih-bersih lalau mengganti pakaian dan menghapus make up nya. Setelah itu, dia mengecek handphone nya. Ada beberapa notifikasi dan panggilan tak terjawab. Salahsatunya dari Bu Ana.
"Bu Ana? Ada apa ya?"
Karena penasaran dia menelpon balik.
Trut tru trut
"Hallo?" Suara bu Ana.
"Hallo ibu. Maafin aku ya, tadi abis ada acara jadi hp nya aku silent."
"Oh gitu. Pantesan ditelpon gak dijawab"
"Iya bu. Ibu kenapa nelpon?"
"Ibu mau kirim alamat rah, sekalian mau nanyain hari rabu kamu jadi kesini?"
"Iya jadi bu."
"Mau pake apa?"
"Kalau gak ada yang nganterin pake bus bu."
"Hmm. Ibu takut kamu kesasar rah"
"Mudah-mudahan nggak bu"
Beralih ke Rei.
Rei yang sudah selesai berganti pakean, menelpon Sarah. Tetapi Sarah sedang berada dipanggilan lain. Rei pun keluar dan memutuskan untuk nunggu di loby.
Tuk tuk tuk
Pintu kamar Sarah dibuka oleh Risa yang akan berganti pakaian.
"Rah,kamu gak jadi pergi?" tanya Risa.
"Ya ampun" Sarah kaget.
"Bu, nanti disambung lagi ya aku mau keluar dulu."
"Iya iya rah."
Telpon dimatikan
Sarah bergegas keluar dengan memakai rok panjang payung dan sweeter, sedangkan rambut nya masih tersanggul.
__ADS_1