
Seorang pria sedang menyetir dijalan tol. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang mematuhi peraturan. Terlihat dia sangat menikmati pemandangan hijau dijalan, dengan mimik yang tenang seperti tidak banyak beban pikiran.
_Tentu saja. Karena dia sudah bisa fokus untuk mengajar di Kampus. Tidak perlu bolak-balik lagi ke SMA. Ciee Reicard. Semangat hihihi_
Saat itu dia melihat jam ditanganya. Dan waktu sudah menunjukan hampir jam 12 siang. Seperti biasa, dia teringat akan wanita yang sedang dekat denganya. Lalu diapun berniat untuk berhenti di Rest Area agar bisa menghubunginya. Sekaligus menghilangkan rasa pegal ditanganya karena menyetir.
_Guys! Sikap seperti itu sangat bagus ya. Karena saat dijalan tol main hp itu sangat berbahaya. Kecuali, kalau urgent. Itu juga harus sangat berhati-hati._
Di Kolam Renang
Terlihat Alvin dan Kevin yang sedang minum jus dimeja pinggir kolam. Badan mereka sudah pada basah. Karena sekitar 15 menit yang lalu mereka sudah berenang.
_Bukan Kevin namanya kalau tidak iseng mulu_
Tiba-tiba dia pergi meninggalkan Alvin. Alvin yang super jutek tidak penasaran apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Kevin masuk ke dalam.
"Sarah? Sarah?." panggil Kevin.
"Iya pak. Tunggu sebentar!" jawab Sarah yang sedikit berlari dari dapur.
"Kenapa pak?" tanya Sarah yang sudah menghampirinya.
"Tolong ambilkan saya handuk! Basah nih. Jangan lupa buat Alvin bawain juga." titah Kevin. Terlihat dari pakaianya air menggenang dilantai dekat pintu keluar masuk kolam renang.
"Iya pak."
"Anterin ke kolam renang." titah Kevin sambil berlalu.
Kevin buru-buru masuk ke kolam renang lagi. Lalu dengan cepat berenang ke ujung kolam.
Alvin yang sedang menatap layar hp, meliriknya.
"Gak jelas tuh orang." umpat Alvin.
"Pak Alvin? Maaf ini handuknya." ucap Sarah yang tiba-tiba datang membawa dua handuk.
Alvin tidak menjawabnya. Dia hanya melirik Kevin dan menaikan alisnya. Namun, dia tetap menerimanya.
"Sarah handuk saya tolong bawa kesini!" teriak Kevin dari kolam renang posisi tengah-tengah.
Sarah pun menurutinya. Alvin mulai panas. Dan bertanya-tanya. Apa sebenarnya taktik sahabatnya itu.
Saat Sarah akan meberikan handuk kepada Kevin.
"Sarah? Kamu bisa berenang gak?" tanya kevin.
"Tidak pak. Waktu ke Laut juga hanya berenamg ditepian Pantai." ucap Sarah.
__ADS_1
"Mana sini handuknya!"
Saat Sarah memberikan handuknya. Tiba-tiba tanganya ditarik oleh Kevin. Spontan dia pun tercebur ke kolam.
"Pak pak tolong. Saya gak bisa berenang." ucap Sarah sambil berusaha memegang pundak Kevin.
"Kamu bisa benar gak bisa berenang?" tanya Kevin.
"Nggak pak."
Alvin yang melihatnya langsung kaget dan menyimpan hpnya.
"Aduh. Jangan pegangan ke pundak! Kaki saya tiba-tiba kram. Aduh sakit!"
"Hah? Serius pak? Pak saya takut." Sarah sudah gemeteran.
Kevin pura-pure menenggelamkan badan. Spontan Sarah teriak.
"Pak Alvin tolong! Tolong saya. Saya gak bisa berenang. Pak kevin kakinya kram. Tolong" Sambil dek-dekan.
Karena Alvin merasa kaget. Dia langsung menarik tangan Kevin yan pura-pura akan tenggelam.
"Vin tolong vin!" ucap Kevin pura-pura minta tolong.
Sarah masih memegang pundak Kevin. Badanya sudah basah semua. Dia merasakan kakinya melayang. Susah napak ke dasar kolam. Pikir dia kolamnya dalam. Dia makin shok.
"Tolong!" Dia hampir menangis air matanya sudah berkaca-kaca.
Sarah hampir tenggelam karena tangan Alvin yang membantunya terlepas. Alvin langsung menarik badan Sarah. Yah, tidak sengaja malah pelukan deh. Tapi Sarah wanita kuat. Walupun dirinya sudah meneteskan air mata karena takut. Dia pura-pura tidak apa-apa. Saat Alvin nyuruh Sarah untuk menggerakan kakinya. Tiba-tiba Kevin berbicara.
"Vin? Enak benar lho meluk-meluk dia." ucap Kevin sambil pura-pura berdecih. Padaha dia menahan tawa. Saat Kevin bilang begitu. Alvin dan Sarah spontan saling melihat tubuhnya yang menempel dan setelah itu mereka saling tatap.
"Halllloooow." ucap Kevin membuyarkan tatapan mereka.
Alvin pun langsung menarik badan Sarah kepinggir.
_Widih. Mantap Pak Kevin misi mu berhasil_
Sarah langsung berlari membawa handuk Alvin. Karena baju basah bagian dada dan bagian punggung kebawahnya terlihat. Lalu dia menghampiri Kevin dan berterimakasih kepada Alvin yang sudah menolongnya. Alvin masih berdiri melihat Kevin yang masih pura-pura kram dikakinya.
Sedangkan Sarah memegang kaki Kevin yang tidak kram itu.
"Apaa masih kram pak?" tanya Sarah yang masih shok.
"Udah nggak sayang." ucap Kevin sambil tertawa.
Sarah tidak tersenyum sama sekali. Karena tahu Kevin hobby bercanda.
__ADS_1
Sedangkan Alvin yang melihatnya hanya berdecih dan meninggalkan mereka.
"Pak Alvin tunggu!" ucap Sarah.
Alvin menghentikan kakinya.
"Kenapa?" tanya Alvin.
"Maaf. Handuknya saya pakai dulu. Badan saya basah soalnya. Akan saya ambilkan lagi." ucap Sarah sambil buru-buru kedalam. Namun, dia terpeleset oleh air bekas Kevin masuk tadi.
Gedebuk
Sarah jatoh
Alvin yang melihatnya spontan berlari dan menolongnya.
"Hati-hati bisa kan?" tanya Alvin sambil berusaha membantu Sarah berdiri dengan memegang kedua pundak Sarah.
"Bahaya. Bahaya. Kalau seperti ini terus. Bisa-bisa saya banyak dosa." umpat Alvin yang sedikit kesal pada dirinya sendiri. Karena dia udah beberapa kali menyentuh wanita yang bukan mahramnya.
"Makasih pak." ucap Sarah sambil berlalu meninggalkan Alvin. Sedangkan Alvin kembali ke kolam renang untuk menemui sahabatnya.
Beralih ke Reicard yang sudah di Rest Area. Disudah membeli minuman di minimarket lalu duduk dan buru-buru mengambil hpnya disaku.
Trut trut truut
Telpon tidak diangkat
Trut trut trut
Telpon tidak diangkat
Reicard yang sedang cape-capenya mengepalkan tangan dan menahan amarah.
"Kemana dia? Ya Tuhan. Apa yang sudah terjadi terhadapnya? Kenapa perasaan saya sangat tidak enak? Kenapa sifat berperasangka buruk terhadapnya selalu timbul? Ampunilah saya. Semoga dia bisa membuktikan ucapanya. Tidak akan berpaling ke lain hati." ucap Rei sambil menundukan kepalanya diatas meja. Tangan kananya memegang air mineral yang sudah diminumnya.
"Saya sangat khawatir. Akankah hari-hari berwarna ini akan kemabli sirna? Hari dimana saya sangat merasakan kesepian dan tidak ada yang memerhatikan. Saya tahu, saya denganya berbeda keyakinan. Namun gimana nanti. Karena jodoh Engkau yang ngatur Ya Tuhan. Jiika memang suatu saat nanti saya harus berpisah dengannya. Maka berikanlah kasih sayang orangtua kepada Saya. Tapi jika saya harus bersatu dan mewujudkan mimpi untuk bisa bersama-sama denganya. Semoga dia baik-baik saja. Saya tahu perpisahan itu akan ada. Namun, apa akan secepat itu? Dan diwaktu yang sekarang?" ucap Rei kembali dan tak terasa air matanya menetes. Lagi-lagi bukan karena cengeng. Tapi karena fikiran yang ntah kenapa terasa mulai menjadi beban.
Dreet dreet dret
Sarah menelpon Rei. Spontan dia langsung mengangkatnya dan menarik nafasnya dengan panjang.
"Ya?" sapa Rei jutek.
"Dimana? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sarah yang masih memakai handuk. Karena baru selesai mandi.
Rei tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Saya mau ketemu kamu. Nanti ke rumah ya. Saya jemput!" Rei mematikan telponya.
"Apa yang terjadi denganya?" batin Sarah.