
"Kamu mulai berat. Saya gak bisa lama-lama gendong kamu sekarang." ucap Rei.
"Masa sih? Apa karena beban fikiran aku berkurang saat aku dekat kamu? Jadi nya bb ku bertambah seperti ini." ucap Sarah menggoda Rei.
"Ke mobil yah. Ambil sandal dulu. Saya masih merasa pusing. Kalau kamu mau ke makam. Sendiri aja ya. Susul mereka." ucap Rei sambil menurunkan Sarah.
"Sandal siapa?" tanya Sarah.
"Saya kan bawa mobil mama. Kayanya ada sandal ganti punya mama. Kamu pake aja." ucap Rei.
"Jangan! Nanti mama kamu nyariin." ucap Sarah.
"Gak usah bawel. Sandal mama banyak. Dia mana inget kalau sandalnya ilang satu." ucap Rei sambil membuka bagasi mobilnya.
Setelah Sarah memakai sandal. Rei memutuskan untuk buru-buru masuk ke mobil.
"Sandalnya bagus Rei." ucap Sarah tersenyum.
"Ya. Yaudah pergilah. Mereka sudah disana. Tubuh saya masih pada sakit." ucap Rei.
"Maafin aku ya sayang." ucap Sarah sambil menggenggam tangan Rei.
"Ya gak apa-apa. Hati-hati!" ucap Rei.
"Ya. Yaudah ya aku pergi. Oh iya. Kamu nanti langsung pulang apa gimana?" tanya Sarah.
"Iya bentar lagi. Saya mau istirahat dulu sebentar. Sore mau langsung ke Gereja." ucap Rei.
Deg
"Ya Allah. Bagaimana kedepanya aku sama dia? Kenapa disetiap mendengar kata Gereja. Hati aku sakit. Seperti akan ada luka yang sulit terobati." ucap Sarah dalam hatinya.
"Hey. Kenapa malah melamun?" tanya Rei.
Sarah tidak menjawab.
"Saraaah." teriak Rei.
"Eh iya Rei. Hubungi aku nanti yah!" ucap Sarah.
"Hem." Rei menganggukan kepala dan tersenyum.
Dimakam.
"Bi. Kenapa malah berdiri disitu?" tanya Alvin.
"Bibi malu tuan. Masih ada orang. Tuh." ucap bi Ana yang berdiri dibawah pohon.
"Hem. Ayo!" ajak Alvin.
"Iya tuan." ucap bi Anak. Dia pun mengikuti Alvin.
----
"Permisi!" ucap Alvin.
Alex dan sahabatnya yang baru saja menaburkan bunga spontan meliriknya.
"Iya?" ucap Alex.
"Terimakasih sudah kesini pak." ucap Alvin.
"Tunggu! Kamu ini," ucap Alex.
__ADS_1
Alvin meneruskan ucapan Alex.
"Ya. Saya Alvin. Anaknya papa Ali." ucap Alvin.
Alex yang kaget mendengarnya langsung memeluknya dengan erat.
"Kamu vin. Makin tampan dan gagah aja. Kaya papa kamu." ucap Alex.
"Bisa aja pa." ucap Alvin melepaskan pelukan lalu merangkul Alex. Dan bersalaman dengan sahabatnya Alex.
Tidak lupa Bi Ana juga mengulurkan tangan ke Alex dan sahabatnya.
"Vin? Di mobil ada anak om tuh. Nanti om kenalin yah." ucap Alex.
"Gak usah pak. Kita tadi berpapasan. Kadi udah kenalan. Namanya Reicard kan? Dan bapa Alexandar.? ucap Alvin tersenyum ramah.
"Nah. Betul-betul. Syukurlah. Apa sudah bertukar nomor?" tanya Alex.
"Sudah pak tadi." ucap Alvin.
"Yasudah. Saya sekalian pamit ya. Gak enak ngobrol disini. Bukan tempatnya. Nanti saya telpon kamu ya." ucap Alex menepuk pundak Alvin.
"Oh iya iya pak. Hati-hati!" ucap Alvin.
"Ya. Kamu juga." ucap Alex.
Sahabtnya Alex hanya mengganggukan kepala. Begitupun dengan Alvin.
---
Dreet dreet dreet
Hp Sarah bergetar. Tanda Telpon masuk.
"Hallo pak Kevin?" sapa Sarah.
"Di makam Papa nya Pak Alvin pak. Sama pak Alvin dan bibi." ucap Sarah.
"Oh yaudah. Tadi si Alvin gak jawab telpon saya. Tolong bilangin suruh telpon balik ya!" ucap Kevin.
"Iya pak." ucap Sarah
Kevin mematikan telponnya.
Ketika Sarah akan melangkahkan kaki nya. Dia berpapasan dengan Alex dan sahabatnya.
"Permisi pak." ucap Sarah menganggukan kepala.
"Iya. Maaf. Apa mau ke makam nya Ali juga?" tanya Alex.
"Iya pak." ucap Sarah tersenyum.
"Luar biasa. Cantik sekali. Pasti istrinya Alvin ya?" tanya Alex tersenyum.
Dret dret dreet
Hp Alex tiba-tiba bergetar. Rei menelponnya.
"Kenapa?" tanya Alex.
"Pah. Masih lama gak? Aku mau ke rumah deh. Tambah pusing nih." ucap Rei.
"Iya ini bentar lagi. Kamu naik mobil putih aja. Biar papa nyetir sendir. Tunggu!" ucap Alex mematikan telponnya.
__ADS_1
Sarah yang mendengarnya bengong. Dan bertanya-tanya.
"Maaf. Kami buru-buru. Mungkin lain waktu bisa bertemu lagi." ucap Alex sambil tersenyum dan berlalu.
"Oh iya pak." Sarah pun melanjutkan langkahnya.
Dimakam.
Alvin berjongkok menatap nama papanya dan mengepalkan tangan kanannya. Lalu menempelkan tanganya ke tanah. Tidak ada sedikitpun kata-kata yang keluar. Dia mengingat kejadian saat Reicard menggendong Sarah. Betapa hatinya sangat terluka. Ingin marah. Tapi tidak ada hak. Karena Sarah bukan wanitanya.
Dret dreet dreet. Bi Ana ditelpon Indah.
"Aduh. Nyonya lagi. Giman nih? Pasti nyonya nyangkanya saya udah dijalan pulang. Gimana nih? Mana Tuan masih lama kayanya(melihat Alvin). Apa saya pulang aja ya? Ah ke neng Sarah aja. Dia bisa pesanin taksi kali." ucap bi Ana dalam hatinya.
"Bi?" panggil Sarah yang baru saja datang.
"Eh. Neng-neng sini dulu deh. Ayo-ayo sini." ajak bi Ana. Dia ngajak Sarah ke dekan pohon dia berdiri.
"Kenapa bi?" tanya Sarah.
"Neng. Ayo buruan pesenin bibi taksi. Ini nyonya udah nelponin trus. Bibi disuruh pulang neng." ucap bi Ana.
"Oh iya Tante kan udah nunggu dirumah. Kita bareng aja bi pulang nya. Ini aku pesenin taksi ya." ucap Sarah.
"Iya pesenin neng. Nih bibi mau langsung kesana ya. Nunggu dijalan nih." ucap Bi Ana sambil berlalu meninggalkan Sarah.
"Bi? Aku gimana?" tanya Sarah memble.
"Udah sama tuan aja." teriak bi Ana.
Dimakam.
"Pah? Maaf aku baru kesini pah. Pah, tadinya aku sangat senang. Karena aku mau kenalin papa ke wanita yang aku suka pah. Tapi sekarang nggak lagi pah. Karena aku tahu. Ternyata dia lagi dekat sama anaknya teman papa. Yang barusan kesini." ucap Alvin dalam hatinya.
"Ehm. Pak Alvin?" panggil Sarah.
Alvin mengerutkan keningnya. Lalu melihat ke arah sumber suara.
"Loh kok? Kamu doang? Mana bibi?" tanya Alvin.
"Loh? Apa bibi tadi tidak pamit? Bibi kan pulang duluan. Barusan banget." ucap Sarah.
Alvin hanya menggelengkan kepala.
"Hem." Sarah jongkok dibelakang Alvin.
"Ngapain kamu disini?" tanya Alvin kesal.
"Ngapain? Ya mau do'ain papa nya pak Alvin lah. Klau nggak. Ngapain tadi saya ikut kesini?" tanya Sarah manyun.
"Ya maksudnya. Sanaan dikitlah. Jangan terlalu mepet!" ucap Alvin.
"Ini kan gak mepet pak. Ini ada jarak setengah meter." ucap Sarah. Menaikan satu alisnya.
"Ya ampun." Alvin menepuk jidatnya.
"Bapa kenapa? Apa saya ada salah?" tanya Sarah.
"Tahulah." ucap Alvin berdiri.
Sarah melihat Alvin berdiri dan menatapnya dengan tajam.
"Kenapa?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Aneh." ucap Sarah sambil menaburkan bunga. Dan mencoba fokus berdoa'a. Sedangkan Alvin yang masih berdiri hanya menatapnya.
"Andai kamu tahu. Saya cemburu. Saya cemburu. Kenapa kamu bermesraan didepan saya?" ucap Alvin dalam hatinya dan mengepalkan tangan.