Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Makan Siang


__ADS_3

Cuaca mendung yang semakin gelap membuat Alvin mempercepat langkahnya ke area parkir. Kemudian dia menyalakan alarm mobilnya. Bergegas dia menuju mobilnya lalu mengendarai mobilnya dengan kencang.


Dirumahnya Indah sudah menunggu Alvin. Sedangkan Bi Ana membereskan bekas masak. Karena Indah sudah menunggu agak lama. Dia pun memutuskan untuk menelpon anaknya.


Trut trut trut


Handphone berdering.


Tidak ada jawaban dari Alvin.


Saat dia mau nelpon yang kedua kali nya. Suara mobil yang akan parkir terdengar. Dia pun bergegas keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang. Benar saja yang datang ialah anaknya yang sudah lama ditunggu. Dari kejauhan dia hanya tersenyum manis dengan penuh kebahagiaan. Sedangkan Alvin baru memarkirkan mobil lalu keluar dan bergegas masuk ke rumah. Alangkah terkejutnya dia. Melihat mamah kesayanganya sudah berdiri didepan pintu. Dia hanya menghentikan langkahnya, tanpa sepatah kata pun, dan senyuman sedikitpun, dia hanya menatap mama nya. Mamah nya yang sedang tersenyum, tiba-tiba mengecutkan bibir sambil berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah. Alvin langsung mempercepat langkahnya, dan memeluk mamah nya dari belakang.


"Kenapa mama pergi? Aku senang mama udah bisa keluar kamar mah." Sambil menempelkan kepala kanan ke pundak mamah nya.


"Karena mama masih punya kamu yang akan membuat hari-hari mama terus berwarna."


"Makasih mama." Melepaskan pelukanya dan ganti merangkul mama nya dengan tangan kanan.


"Hmmm. Ayo makan mama sudah lama nunggu kamu vin" Sambil berjalan berbarengan.


Alvin membuka jas nya dan mengimpanya di sofa. Mereka pun makan bareng. Sedangkan bi Ana yang sudah selesai membereskan dapur, hanya mengintip mereka sambil bergumam. "Apa saya harus bilang sekarang ya? Sarah sekarang sedang perpisahan. Dia bentar lagi akan cari kerja ke sini. Kalau saya membiarkan dia langsung kost saya khawatir. Saya aja yang sudah lama tinggal disini tempat ini merasa masih sangat asing. Pasti karena Jakarta juga luas. Apalagi Sarah." Sambil menyenderkan badanya ke tembok dekat kulkas.


Alvin yang sudah selesai makaln dan menyenderkan badana ke kursi, spontan melihat bi Ana yang sedang melamun, dia pun langsung memanggil nya.


" Bi Ana?" Suaranya yang kenceng menghentikan lamunan bi Ana.


Bi Ana pun melihat ke arahnya.


"Oh Ya tuan?" Sambil berjalan cepat menuju tuan nya."


"Duduklah!"


Bi Ana pun duduk sebari melirik ke Mama Indah, yang hanya tersenyum melihatnya.


"Bibi ada masalah apa?"


"Masalah?" Sambil melihmat ke arah Mama Indah.


"Gak ada tuan."


"Bicara lah bi."


Dengan nada gugup dan wajah yang sedikit menunduk bi ana pun berbicara.


"Sebenarnya bibi mau minta izin ke tuan dan nyonya."


Indah memotong pembicaraan.


"Kalau izin pulang saya gak kasih bi." Dengan mimik nya yang serius.


"Maa. Bi Ana belum selesai bicara." Suara tegas nya keluar.

__ADS_1


"Bibi mau minta izin tuan?"


"Tunggu bi. Kenapa ya akhir-akhir ini bibi panggil saya tuan?"


"Maaf tuan. Oh maaf sebenarnya saya panggil Dhen Alvin tuan, semenjak mTuan Ali pergi.


Spertinya panggilan tuan lebih nyaman untuk menghormati nyonya juga."


"Hmmmm, terus bi?"


" Anak angkatnya Pa Rt dikampung, mau cari kerja di Jakarta. Sebulan yang lalu dan kemarin sore istrinya minta tolong ke saya. Agar anaknya dicariin tempat kost. Cuma saya juga gak tahu tempat didaerah sini masih asing. Setelah saya fikir panjang, apa boleh sebelum dia dapat kerja tinggal dulu disini?."


"Lulusan apa bi?." tanya Alvin.


"SMA tuan, cuma waktu SD dia telat setahun sekolahnya. Jadi usianya sekarang 18 tahun pas dia keluar sekolah."


" Kok bisa telat bi sekolahnya?" tanya Mama Indah.


"Sebenarnya dia udah sekolah. Tapi waktu ayah dan ibu nya mau berangkat merantau ke sini. Mereka kecelakaan, bus yang mereka tumpangi menabrak trotoar jalan tol. Saat itu anaknya murung dan gak mau sekolah. Hampir tiap hari nangis. Tapi pa rt sama istrinya tidak putus asa membujuknya untuk sekolah lagi."


"Memangnya dia gak mau kuliah bi?." tanya Alvin.


"Dia kesini cari kerja tujuanya untuk menabung agar dia bisa kuliah tuan, karena dia tu orangnya cerdas banget, sopan juga orang nya. Dia juga gak mau merepotkan pa rt karena biaya kuliah besar. Dan mereka hanya mendapatkan uang dari hasil tani saja."


"Terus orang nya cantik bi?" tanya mama Indah sambil mengedipkan mata ke bi Ana dan melirik Alvin.


"Apaan si mah?" tiba-tiba Alvin medorong kursinya ke belakang, dia berdiri dan pergi membawa jas nya.


" Maaf nyonya?" Bi ana bertanya dengan penuh pengharapan.


"Ya boleh bi" Sambil meminum air putih


"Serius nyonya?"


Mama indah hanya menganggukan kepala. Lalu dia berdiri akan pergi.


"Beresin ya bi." Sambil menunjuk ke arah meja makan.


" Iya nyonya. Terimakasih nyonya."


"Yaa bii."


Gerimis mulai turun, Kota Jakarta sudah sangat gelap. Kevin masih sibuk ngobrol dengan mandor bangunan.


"Kira-kira berapa lama lagi bangunan ini akan selesai?" tanya kevin.


"Kurang lebih satu bulan pak, ini hanya tinggal pasang plafon, pasang kabel dan ngecat doang pa."


"Ya semoga tepat waktu. Karena saya akan merekrut banya karyawan baru."


"Oh iya pa. Nanti saya kabarin lagi pa perkembanganya."

__ADS_1


"Ya Terimakasih. Saya tinggal dulu ya mau balik ke kantor."


"Oh iya baik pa".


Kevin pun bergegas pergi, karena gerimis yang semakin membesar dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kencang.


Malam pun tiba. Kevin dan teman-temanya sudah berkumpul ditempat basket. Ada yang lagi latihan, ngobrol, dan bersiap-siap. Sedangkan Kevin sibuk menelpon Alvin yang tidak dapat ditelpon berkali-kali tetapi tidak ada jawaban.


"Bro gimna? Udah ada kabar belum? Bentar lagi kita mulai nih, tar keburu malam" teriak temanya Kevin.


"Si Alvin gak bisa dihubungi. Gue telpon berkali-kali gak diangkat"


"Yeh. Kemana tuh anak?"


Tak lama, telpon berbunyi.


"Ini dia si Alvin, baru nelpon nih anak."kata Kevin


"Hallo vin. Dimana?"


"Dikursi sebelah kanan lho." Sambil tertawa


kevin mematikan handphone nya, dan balik badan ke arah Alvin.


"Push Up lho" Sambil menunjuk Alvin dan tertawa. Kemudian Kevin duduk disebelah Alvin.


"Sejak kapan lho disini?." tanya Kevin.


"3 menit yang lalu.Tumben lho basket. Udah lama kan gak main?"


"Mantan Istri ngelarang gue ketemu anak. Anak gue baru 11 bulan lagi lucu-lucunya, gue pengen banget ketemu." Sambil menyenderkan diri dikursi.


"Bukanya dia mau nikah lagi?"


"Siapa yang bilang?"


"Nyokap gue."


"Kok tante Indah bisa tahu?"


"Mantan istri lho, mau nikah sama Anaknya teman nyokap. Dulu kan lho pernah bawa mantan istri lho ke rumah gue, waktu ulang tahun bokap gue."


"Oh ya ya. Yaudahlah gue gak mau ambil pusing, dia yang ninggalin gue. Bukanya gue gak mau dapet hak asuh anak. Tapi anak gue masih butuh dia."


Lagi asyik ngobrol tiba-tiba temanya yang tadi memanggilnya.


"Bro. Ayolah keburu malam."


"Oke Oke" Alvin menjawab sedangkan Kevin langsung berdiri dan menghampiri temannya.


Penonton Cewek mulai histeris melihat mereka akan main. Sedangkan penonton cowok memberikan suilan. Mereka pun bermain basket, dengan sangat seru.

__ADS_1


__ADS_2