Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Richard bertengkar dengan Alexandar


__ADS_3

"Sarah?" panggil Alvin kepada Sarah yang sedang duduk disofa menunggu bi Ana.


"Iya pak?" jawab Sarah sambil berdiri.


"Jangan tersinggung! Saya tidak ingin kamu risih. Pashmina itu kalau tidak memakai jarum, akan selalu kamu betulkan. " titah Alvin. Karena tidak mau menyentuh Sarah dia menyimpan jarumnya di meja sofa.


"Terimakasih pak. Saya sangat senang." ucap Sarah sambil mengambil jarumnya. Lalu memakai pashmina itu, layaknya seorang wanita muslim yang memakai kerudung.


"Seperti ini pak?" tanya Sarah yang sudah memakainya.


Alvin hanya meliriknya sebentar.


"Pakai kaos kaki! Takut kaki kamu gatal karena kita akan ke pemakaman." titah Alvin.


"Oh iya. Yaudah bapa duluan aja. Saya mau ke atas dulu ambil kaos kaki nya." ucap Sarah sambil berlalu.


Alvin tidak menjawabnya.


"Maaf Sarah. Andai kamu tahu. Andai kamu merasakan. Saya sangat peduli sama kamu. Bahkan kepedulian ini semakin lama semakin berubah menjadi rasa. Dan rasa berubah menjadi cinta. Dan cinta. Membuat saya ingin memiliki kamu seutuhnya. Apa saya terlalu jauh bermimpi? Melihat penampilan kamu yang sekarang. Saya sangat sedih. Jika mimpi menikah dengan kamu itu kenyataan. Saya akan menuntut kamu untuk menutup semua aurat. Dan kamu mamah. Jika aku sudah menikah nanti. Aku pun akan mewujudkan keinginan papah agar mama menutup aurat mah. Karena selama papa masih ada, dan sudah tiada pun mama masih belum mewujudkanya." ucap Alvin dalam hatinya.


"Tuan?" suara bia Ana memanggilnya.


"Sarah mana?" tanya bi Ana.


"Hem. Bibi udah siap? Kita tungvu Sarah dimobil aja yuk bi. Udah mau jam 10 nih." ajak Alvin.


--- Waktu menunjukan pukul 10:10 menit.


Terlihat mobil putih mewah berhenti diluar area pemakaman.


Alex keluar dari mobilnya dengan memakai kacamata hitam diikuti sahabatnya yang akan menunjukan makam Ali. Lalu dia menelpon Rei untuk menanyakan keberadaanya.


Truut truut truut


"Hallo pah?" Rei yang sedang menyetir mengangkat telpon dari Alex.

__ADS_1


" Dimana?" tanya Alex.


" Udah mau parkir." ucap Rei.


Alex melihat mobil yang dibawa Rei. Melaju mendekat ke mobil yang dibawanya. Lalu dia langsung mematikan telponya.


Rei memberhentikan mobilnya dibelakang mobil yang dibawa Alex. Kemudian membuka sabuk pengaman, dan memakai jas yang dibawanya tanpa mengancingkanya. Rei keluar membawa bunga yang sudah dibelinya.


"Pah?" panggil Rei.


Alex mengisyaratkan agar Rei memberikan bunga kepadanya. Lalu bunga itu dititipkan ke sahabatnya.


"Kenapa pah?" tanya Rei yang sedikit ketakutan dengan mimik wajah Alex.


"Sama siapa kamu semalam di Hotel?" tanya Alex sambil mencengkram krah kemeja yang dipakai Rei.


"Apaan sih pah? Aku sendiri." ucap Rei melepaskan tangan Alex dan membenarkan kemejanya.


"Jangan bilang kalau kamu bersama gadis itu." ucap Alex melotot.


"Memangnya papa gak tahu. Kamu dekat dengan gadis yang menjadi murid kamu di SMA? Dan sekarang dia ada disini." ucap Alex.


"Pah?" panggil Rei yang berusaha akan menjelaskan.


"Dan apa ini? Apa kamu berantem sama orang lain untuk merebutkannya?" tanya Alex memegang bibir Rei yang masih terlihat terluka.


Rei mengibaskan tangan papa nya.


"Selalu seperti ini. Aku pikir papa ngajak aku kesini dengan niat yang baik. Padahal aku sudah berharap ajakan papa sekarang, akan membuat aku dekat sama papa." Rei menatap Alex dengan tajam.


"Dan tentang gadis itu. Aku akan menikahinya. Tanpa restu papa sekalipun." ucap Rei kembali.


Alex semakin melotot dan akan menonjok Rei.


"Lancang sekali kamu bicara." ucap Alex.

__ADS_1


Saat Alex akan menonjok Rei. Tiba-tiba tanganya dipegang oleh sahabatnya.


"Lex? Tolonglah ini pemakaman. Lagi dia sudah dewasa. Sudah sepantasnya dia menikah. Jangan kamu mencampuri urusan hatinya." ucap Sahabatnya Alex yang terbawa emosi.


Alex hanya mengibaskan tangan sahabatnya. Lalu mendekat ke arah Rei yang sudah berkaca-kaca menahan amarah. Alex yang melihatnya. Langsung memeluknya dengan erat. Air mata Rei yang sudah menggenangpun tumpah dipelukan papa nya.


"Maaf Rei. Tidak seharusnya papa seperti itu. Lagi-lagi papa tidak bisa menahan emosi. Kamu anak papa satu-satunya. Papa ingin yang terbaik untuk kamu. Maaf kalau didikan papa terlalu keras untukmu. Setelah ini kamu bisa kenalkan papa sama gadis itu. Kalau kamu mau." ucap Alex melepaskan pelukanya. Dan berganti memegang kedua bahu Rei. Lalu menatapnya.


"Bagaimana jika gadis itu tahu. Kalau kamu laki-laki yang gampang sekali menangis dan sangat manja? Apa tidak malu?" tanya Alex menggoda.


"Ternyata papa bisa bercanda juga." Rei menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.


"Jangan cengeng!" Alex mendorong bahu kanan Rei.


"Ini air mata amarah pah." ucap Rei menaikan alisnya.


Prok prok prok


Suara tepuk tangan sahabatnya.


"Gak usah lebay bro! Ini bukan drama." ucap Alex dan merangkul sahabatnya. Merekapun berjalan memasuki pemakaman disusul Rei dari belakang.


Dimobil Alvin


Sekitar 5 menitan lagi Alvin, Sarah, dan bi Ana sampai ke pemakaman.


"Bi? Kayaya aku mau pilek. Kepalaku terasa berat dan perih. Tenggorokan udh gak enak bi." ucap Sarah yang menyenderkan kepalanya dikursi mobil. Dia duduk dibelakang bersama bi Ana. Sedangkan Alvin didepan sendiri.


"Waduh. Harus cepat-cepat minum obat itu neng. Sekarang bawa masker gak. Di pemakaman takutnaya banyak debu loh." ucap bi Ana.


"Bawa dong bi. Cuma aku kayanya gak bisa lama-lama disana bi. Cuaca sangat panas." ucap Sarah.


"Gak apa-apa bentar juga. Kamu kenalan aja neng sama Tuan Ali. Jangan lupa mendo'akanya ya." titah bi Ana.


Didepan Alvin hanya fokus menyetir dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Yang hanya terdengar bisik-bisik.

__ADS_1


__ADS_2