
Hari sabtu diwaktu sore. Jam 17:15 di Kota Jakarta
Tiiid tiiid tiiid
Suara klakson dari mobil Alvin yang berwarna merah marjan. Dia memarkirkan mobilnya tepat didepan kantor Sarah. Mendengar bunyi klakson, dia dan teman kerjanya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Karena mobilnya tidak dia kenali. Dia pun melanjutkan ngobrolnya.
Tiiiid tiiid tiid
"Aduh. Itu siapa sih?" tanya teman Sarah.
"Saya tidak mengenali mobilnya. Jadi tidak tahu." ucap Sarah yang melihat ke arah mobil tersebut.
Karena tidak mau lebih lama menungu. Alvin menghampiri Sarah. Saat mobil sudah didepanya. Dia membuka penutup atas mobil dan kaca nya. Sarah yang melihatnya kaget. Sedangkan Alvin dengan sikapnya yang selalu dingin. Tidak melirik Sarah dan tetap dengan pandanganya ke arah depan. Karena kaget Sarah langsung menghampirinya.
"Pak Alvin? Bapa jemput saya?" tanya Sarah.
Alvin tidak menjawabnya. Dia membuka kacamatanya dan menatap Sarah dengan tajam.
"Hehee. Jangan marah ya! Kirain bukan mobil bapa tadi?." ucap Sarah sambil tersenyum menggoda.
"Saya telpon kenapa gak diangkat?" tanya Alvin membuang muka.
"Hpnya masih disilent. Saya baru keluar kerja." ucap Sarah.
"Masuk!" ajak Alvin.
"Terimakasih pak! Udah ya jangan ngambek lagi ya!" ucap Sarah memohon.
"Kamu kan tahu sebulan ini Kevin nyuruh saya jagain kamu. Kalau pagi gak nganterin kamu kerja. Berarti pulangnya saya jemput kamu." ucap Alvin.
__ADS_1
"Kenapa ya pak? Pak Kevin sampai segitunya sama saya? Kan saya bisa naik taksi. Kalau nggak belajar pake angkutan umum." ucap Sarah.
"Kamu kan Cinderella nya." ucap Alvin.
"Hem. Saya tahu pak, kalau itu alasana kayanya gak mungkin deh. Pak Kevin kan hobby bercanda. Mana mau dia sama saya? Lagipula Saya lagi dekat sama seseorang." ucap Sarah.
Seakan mendapat kabar buruk. Jantung Alvin tiba-tiba berdetak kencang.
"Apa kamu berpacaran?" tanya Alvin menahan cemburu.
"Nggak sih. Kita gak pernah jadian. Cuma sekedar dekat saja. Sedikit punya mimpi sih untuk bisa bersamanya terus." ucap Sarah.
"Maksud kamu kalian akan menikah?" tanya Alvin yang api dihatinya semakin membara.
"Ya namanya udah dekat. Sayangnya, mimpi itu hanya 25 persen lah. Karena rasa nyaman doang." ucap Sarah.
"Kenapa gak sampai 100 persen mimpinya?" tanya Alvin.
"Kenapa bisa?" tanya Alvin.
"Beda agama pak." ucap Sarah.
Bagai bara api disiram air, yang hanya menyisakan asap. Begitulah hati Alvin saat Sarah menucapkan itu.
"Masih ada harapan. Tenang belum ada tenda biru" ucap Alvin dalam hati.
"Terus pria yang satunya. Apa saya boleh tahu?" tanya Alvin penasaran
Sarah yang mendengar pertanyaanya langsung berbalik badan menatap Alvin.
__ADS_1
"Kenapa kamu?" tanya Alvin.
"Sebegitu penting kah pertanyaannya?" tanya Sarah menaikan alisnya sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa kata-kata itu selalu kamu balikan?" tanya Alvin kesal.
"Biar bapa kesal aja hihi." ucapnya.
Alvin tidak menjawab.
"Mulai seperti Kevin nih cewek. Tapi kenapa saya harus penasaran ya sama pria yang satunya? Oh tidak. Itu gak penting. Lupakan." ucap Alvin dalam hatinya dan melajukan mobil dengan kencang.
"Pria itu ada disampingku. Tapi maaf. Saya mengatakan hal yang tidak sejujurnya pak. Melihat gerak-geri Pak Kevin yang selalu berusaha mendekatkan kita. Itu membuat saya tanda tanya pak. Apa bapa punya perasaan yang sama seperti saya. Maaf bukan terlalu percaya diri. Hanya saja saya lebih berhati-hati. Takut prasangka saya itu benar. Bahwa kita memiliki rasa yang sama. Sebab itulah saya tidak mengatakan yang sejujurnya. Karena tidak mau membuat hati bapa terluka. Sedangan cinta saya kepada dia masih jauh lebih besar. Ntah karena nyaman atau bagaimana. Atau karena dia selalu romantis. Sedangkan bapa selalu jutek dan banyak menghindar jika bertemu saya tanpa sengaja." tulis Sarah dibuku harianya.
Karena setengah jam yang lalu mereka sudah sampe rumah. Setelah itu, dia menutup dan mengunci buku harianya lalu menaruhnya dibawah kasur. Kemudian dia melihat jam. Waktu hampir magrib. Dia pun bergegas ke kamar mandi. Karena setelah magrib dirinya akan bertemu dengan Reicard.
---
Waktu menunjukan pukul 20:00 wib. Seperti biasanya. Alvin dan Kevin pergi ke studio musik. Bi Ana diajak Indah ke Pasar Malam. Sedangkan Sarah karena sudah izin untuk pergi ke mereka. Dia sudah berada di taksi untuk bertemu Rei dirumahnya. Rei tidak pernah menjemput Sarah karena dari Jaksel ke Jaktim lumayan jauh. Kurang lebih hampir satu jam. Sarah yang meminta sendiri agar Rei tidak menjemputnya dan hanya mengantarkanya. Dia tidak mau kalau Rei menghabiskan waktu dan energi untuk bolak balik menjemputnya.
----
Di Jakarta Timur
Rei dan Amanda melambaikan tangan dan tersenyum kepada Papa nya yang sudah melajukan mobil, untuk pergi bertemu sahabat-sahabatnya ditempat Badminton.
"Lihat Rei. Papa mu itu kalau udah sembuh gak ada capenya. Baru datang tadi sore aja udah pergi lagi." ucap Amanda sambil berjalan bersama Rei ke dalam rumah.
"Yah. Seperti itulah mah. Beda perlakuanya kepada Rei. Yang udah lama bertemu pun, selalu jutek. Sperti orang asing mah." ucap Rei sambil menyalakan tv.
__ADS_1
Saat mobil papa nya keluar gerbang dan baru saja pergi. Tibalah taksi yang ditumpangi Sarah. Pak Maman yang melihatnya buru-buru pergi karena kebelet. Dan hanya menyuruhnya Sarah masuk. Tanpa memberi tahu, kalau dirumah ada Amanda. Saat itu hp Rei ditinggal dikamarnya. Sedangkan dirinya sedang menonton tv bersama Amanda sambil melepas rindu. Antara Anak dan Ibunya. Sedangkan dari tadi siang bi Lea udah izin pergi untuk menhadiri hajatan dirumah saudaranya yang masih daerah Jaktim. Karena jauh untuk balik lagi. Akhirnya Sarah memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Rei. Saat dia masuk dia berjalan pelan-pelan seperti biasa dia merasa takut.
Disofa terlihat Rei sedang tiduran sambil melihat Tv dipangkuan Amanda. Tidak lupa Amanda mengelus-ngelus rambut anaknya yang sudah lama tidak bertemu denganya. Karena saat mereka akan bertemu selalu gagal. Dan angkah terkejutnya dia. Spontan darah mudanya mendidih, nafasnya naik turun, dan tubuhnya bergetar hebat. Rasa ingin menjerit, nangis karena amarah, dan segala yang dirasanya campur aduk. Dengan cepat amarah itu memuncak. Sarah melihat hp ditanganya dan mengambil foto mereka. Lalu dia langsung memesan taksi untuk pergi. Namun, karena perasaanya sedang berantakan dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia meminta kepada supir taksi untuk mengantarkanya ke salahsatu taman umum daerah sana.