Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Richard menggendong Sarah


__ADS_3

...Diloby, Pak Rei sudah duduk menunggunya....


Saat sedang menunggu Sarah, pintu loby terbuka.


"Pak? Kok disini? Kirain masih di function?" Bu Anjani yang baru saja datang menyapanya.


"Iya baru saja. Saya gak ikut acaranya"


"Oh gitu. Oh ya, tadi pak Hendra bilang mau pulang duluan, soalnya ada rapat sama kepala Dinas."


"Saya belum bertemu."


"Kayanya beliau masih difunction."


"Ya. Kalau gak ketemu, nanti saya telpon"


"Oh iya pak."


"Ehh. Ada Sarah. Mau kemana rah?" tanya bu Anjani.


Sarah yang baru saja datang dibelakang pak Rei sedikit kesal, melihat Pak Rei ngobrol dengan Anjani, namun dia tetap berusaha tenang. Dan pak Rei sendiri sedikit terkejut, saat Bu Anjani bertanya kepada Sarah.


"Ini bu, aku mau ke function room karaokean"


Rei yang langsung mendengarnya sangat kesal.


"Oh yaudah. Kayanya teman-teman kamu juga masih disana."


"Iya bu. Saya permisi ya."


Sarah melihat ke arah pak Rei, sambil memberikan tatapan tajam, Rei yang kembali menatapnya hanya memberikan tatapan datar.


"Saya permisi pak!" ucap Sarah.


Sarah pun keluar membuka pintu loby.


"Yaudah pak. Saya permisi dulu ya, mau nelpon calon mertua hihi"


"Apa sudah mau menikah?"


"Mudah-mudahan pak" Sambil tersenyum.


"Semoga dipermudah"


"Terimakasih. Mari pak" Sambil menganggukan badan.


"Ya bu."


Pak Rei pun buru-buru mengejar Sarah yang sudah duluan keluar. Diluar Sarah terlihat menghentikan langkahnya, sambil menatap ke layar handphone nya. Saat itu dia menelpon Emeli, saat handphone sudah berdering tiba-tiba tercium bau parfum yang sudah tidak asing. Telpon yang masih berdering dimatikan. Lalu Sarah melihat ke belakang, namun disana tidak ada Pak Rei.


"Cari Saya?" bisik Rei, yang ternyata ada disamping nya.


"Ih. Reicard ngeselin, ngeselin, was" Sambil memukul lengan kanan kiri pak Rei dan mendorongnya. Rei kembali mendekat, dia memegang kedua bahu Sarah dan menatapnya sambil tersenyum. Sarah pun menatapnya namun dengan tatapa tajam.


"Apa?" tanya Sarah.


Pak Rei tidak menjawabnya justru semakin mendekat.


"Jangan dekat-dekat!" Sarah kesal.


Pak Rei masih tidak menjawabnya


namun malah semakin mendekatkan diri, lalu berbisik.


"Saya mendengar suara jantung kamu berdebar"


"Itu karena kesal Reicard"


"Sepertinya bukan."


"Iya ih"Sambil mendorong pak Rei.


Namun pak Rei menariknya, hingga tubuh mereka hampir menempel.


"Jangan cemburu!"


"Kenapa?" tanya Sarah dengan suara lantang.


"Cantik nya ntar hilang" Sambil melepaskan tubuh Sarah dengan lembut.

__ADS_1


"Udahlah sana. Aku udah nelpon Emeli mau karaokean dulu."


"Bu Anjani mau menikah"


"Terus nikah nya sama Reicard?"


"Nggak. Saya bukan calonya."


"Terus?"


"Tadi, bu Anjani bilang. Pak Hendra mau pulang duluan malam ini, mau rapat sama kepala Dinas. Dan saya belum menemuinya"


"Terus?"


"Bu Anjani buru-buru tadi, katanya mau nelpon sama calon mertua nya."


"Hmmm. Terus?"


"Terus saya kesini nemuin cewek cantik" Berkata tanpa senyuman.


"Hmm ingaaaatt. Jangan dekat-dekat. Janur kuning belum dibikin loh" Sambil membalikan badan.


"Hmm ya." ucap Rei.


"Ayoo!"


"Kemana?" tanya Rei.


"Katanya mau jalan-jalan"


"Ini hampir setengah 11"


"Terus gak jadi?"


"Nggak sih. Makin malam makin enak"


"Apanya?" tatap Sarah dengan menyipitkan pandanganya sambil berbalik badan menatap Rei.


"Suasananya. Ayo sambil jalan"


"Hmmm."


Disepanjang perjalanan mereka asyik berbincang, sekitar 15 menit.


"Sebentar lagi sampe"


"Kamu tahu gak? Tadi aku saat teman-teman belanja kesorean, bahkan hampir jam 7 baru mau siap-siap untuk acara"


"Kok bisa?"


"Tadi pas kita buru-buru pulang, tas Risa gak sengaja jatoh dia gak ngeuh. Terus pas mau buka kunci dia baru ngeuh, kan kunci dia yang megang"


"Terus?"


"Aku buru-buru balik lagi nyari tas dia. Untunya ketemu, masih belum ada yang ngambil"


"Terus?"


"Itu aku buru-buru ngambilnya sambil berlari. Mungkin kalau aku lomba lari, aku bakalan menang."


"Hmm. Terus?


"Reicaaaaard." Sambil menyenggol tubuh Rei.


"Kenapa?"


"Terus-terus mulu"


"Hmm. Berhenti dulu ya. Kaki aku pegel."


"Tanggung bentar lagi sampe."


"Mana sih tempatnya kok belum kelihatan?"


"Gak bakalan kelihatan lah ini kan malam"


"Hmm"


"Kamu bisa lihat ke atas gak?"

__ADS_1


"Mau apa?"


"Tolong cariin 1 bintang!"


Sarah pun melihat ke atas dan mencari satu bintang, namun karena habis ujan bintang pun tak nampak.


"Mana ad,


Belum selesai berbicara Tiba-tiba Rei menggendongnya, lalu mereka saling menatap.


"Maafin saya. Ini tempatnya terlalu jauh, saya kira kamu gak kecapean. Kalau tahu dari awal, pasti akan cari tempat yang lebih dekat" ucap Rei sambil berjalan menggendong Sarah.


"Aduh" Sarah seperti kesakitan.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?"


"Tolong turunkan aku!"


Rei menurunkanya


"Kenapa?" Rei menatapnya.


"Jangan digendong, jalan nya pelan-pelan aja" Minta sarah dengan lirih.


"Kenapa?"


"Kalau digendong aku jadi penen kentut" berkata sambil menunduk.


"Hmmm" tanpa tersenyum atau tertawa.


"Susah ya membuat kamu biar tertawa" Sambil tersenyum imut dan menatap Rei.


"Aku tahu kamu berbohong. Untuk apa?"


"Aku gak mau kamu cape. Kamu kan kerjaan aja banyak banget, masa waktu santay kamu dipakai buat cape-cape gendong aku."


"Maaf. Kalau kamu gak nyaman."


"Gak apa-apa"


"Kamu lihat! Tempatnya udah hampir sampe"


Saat Sarah memandangnya, alangkah bahagia nya dia. Tempat kuliner yang berjejer panjang, dihiasi oleh lampu-lampu yang sangat indah berwarna-warni.


"kamu tahu gak? Aku pertama kali nya ke tempat kuliner yang besar seperti ini. Aku sangat bahagia. Bahagia banget. Terimakasih" Spontan memeluk Reicard.


"Iya sama-sama" Sambil kembali memeluk Sarah.


"Oh ya ampun. Alangkah malu ya aku, maaf maaf aku benaran tidak sengaja. Aku baru menyadari kalau kamu orang baru untukku. Biasanya kalau aku bahagia, aku memeluk ayah ibu atau nggak teman-temanku." Sarah melepaskan pelukan dan berjalan duluan.


Reicard tidak mengatakan apapun, dia hanya berjalan mengikuti Sarah. Namun, langkahya terhenti saat dia ingat kepada orang tua nya yang sangat sibuk. Papa nya sibuk jadi Dosen diluar Negri hanya setahun sekali papa nya pulang. Sedangkan Mama nya sibuk jadi Desainer Milenial.


Dari kecil, dirinya dititipkan dirumah neneknya. Dan dipantau terus untuk pendidikanya oleh Pak Hendra. Tak terasa air mata menetes dari matanya yang sangat indah. Sarah yang berjalan cukup jauh, baru menyadari kalau tidak ada langkah kaki yang mengikutinya.


"Air mata ini lagi-lagi menetes. Bukan karena Saya cengeng, tapi rasa sakit tidak diperhatikan dan kekesalan yang selalu terpendam penyebabnya" ucap Rei dalam hatinya.


Sarah dari kejauhan berlari menghampirinya, dia shok karena Rei yang hanya berdiri tidak berjalan dan seperti melamun.


"Reicard? kamu gak apa-apa?" tanya Sarah sambil memegang wajah Rei dengan sangat lembut.


Rei yang belum keburu menghapus air matanya, hanya memalingkan wajah.


"Tidak apa-apa. Ayoo jalan"


Rei jalan duluan, tapi Sarah menarik tangan kirinya, spontan Rei berbalik menghadap Sarah. Dan Sarah langsung memeluknya.


"Apa yang terjadi kepadamu, sungguh membuatku terharu. Tapi tolong jangan sampe air mata kamu menetes lagi!"


Rei hanya berbisik dan tidak balik memeluk Sarah.


"Ayo kita makan, hibur Saya. Mau kan?" tanya Reicard.


"Dengan cara apa?" Sarah masih


memeluknya.


"Suapi saya seperti bayi." pinta Rei sambil menghapus air matanya.


"Bayi nangis karena lapar hihi" Sarah melepaskan pelukanya.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Rei.


Mereka pun pergi sambil pegangan tangan.


__ADS_2