
Dirumah sakit, terlihat Alvin yang sedang duduk sambil menatap layar handphone nya dengan sangat fokus. Sedangkan, Mamahnya kembali tertidur. Tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh Andreas yang baru saja datang. Alvin yang melihatnya hanya memberikan isyarat kepada Andreas, agar dia duduk disebelah Alvin. Karena dia tidak mau Mamahnya yang sedang istirahat bangun. Andreas yang baru saja duduk, memberikan berkas kepada Alvin yang dibawanya dari kantor.
"Tuan maaf, ini berkasnya." Sambil memberikan berkas. "Iya. Mau saya cek." Alvin menerimanya sambil memasukan handphone nya kedalam saku celana. Alvin pun mengecek semua berkasnya. Sedangkan Andreas hanya menatap Indah yang sedang berbaring ditempat tidurnya.
"Ndres. Kamu jangan panggil saya tuan lagi!" Sambil melihat-lihat dokumen. "Kenapa tuan?" Melirik Alvin. "Saya masih muda. Lagi kita hampir seumuran kan? Jadi, panggil saya Pak. Seperti orang-orang dikantor." ucap Alvin. "Oh iya baik pak." Balas Andreas sambil tersenyum.
Dirumah Alvin
__ADS_1
Tercium bau Ikan bakar yang sangat wangi, membuat Kevin yang sedang bekerja di laptopnya menyender ke kursi sambil menikmati aromanya. Namun, kerjaanya yang sangat padat membuat dirinya sangat kehausan. Didapur, bi Ana yang sedang membakar ikan, dan membuat sambal matah terlihat sangat kecapean. Tiba-tiba dari belakang ada yang memegang pundak Bi Ana. Spontan dia pun kaget. Saat dilihat, ternyata Kevin yang sudah membawakannya air es menatapnya sambil tersenyum. "Kenapa bi? Nih bi, bibi pasti haus. Duduk dulu lah minum sebentar." ucap Kevin. "Eh dhen Kevin. Makasih ya dhen. Tadi dhen Kevin kirain siapa, nih bibi lagi masak buru-buru. Takut tuan keburu datang." Sambil berjalan ke arah kursi dan duduk sambil minum. Sedangkan Kevin, melihat ikan yang sedang dibakar. "Bi ini udah ada yang gosong daun pisang nya. Kok gak diangkat?" tanya Kevin sambil meperhatikan ikan bakarnya. "Belum dhen sebentar lagi. Emang ikan goreng mah seperti itu." jawab bi Ana sambil menghampirinya. "Emm. Gitu ya bi. Kayanya enak nih." Sambil tersenyum. Bi Ana yang mendengarnya hanya tertawa dan melanjutkan membiat sambal matah. "Bi, saya mau mandi dulu yah." ucap Kevin sambil berlalu. "Oh iya dhen." Sambil menoleh ke arah Kevin.
Di Pantai
Sinar matahari yang sangat panas, membuat orang-orang sangat merasa kehausan. Tidak terkecuali Sarah dan teman-temanya, yang sedang memesan es kelapa. Karena pembeli nya yang sangat banyak, mereka pun harus mengantri. Sarah yang sangat haus memutuskan untuk mengambil air mineral ke dalam bus. Sedangkan teman-temanya masih menunggu Es kelapa sambil duduk dipinggir pantai.
Saat Sarah sudah masuk ke dalam bus, dan minum sambil nyender dikursinya. Handphone nya tiba-tiba berbunyi, tanda ada chat yang masuk. Karena keringat didahinya yang hampir menetes, Sarah pun mengelapnya. Setelah itu, dia baru buka handphone nya. Saat dilihat, chat yang masuk ternyata dari Reicard. "Dimana? Aku mau ngajakin kamu berenang." baca Sarah. Dia kaget campur senang. "Hah? Serius nih?" ucap Sarah yang sumeringah. Sarah membalas chatnya. "Aku dibus nih abis minum. Kamu kesini. Tunggu aku diluar bus nya ya. Sekalian aku mau ngabarin dulu teman-teman." balas Sarah. Sarah pun langsung menelpon Emeli, untuk ngasih kabar.
__ADS_1
Dirumah Alvin
Terlihat Kevin yang baru selesai mandi. Tubuh nya yang sangat sispek dengan kulit yang sangat putih. Akan membuat para wanita semakin terpesona jika melihatnya, terlebih lagi saat melihat parasnya yang tampan dan bibirnya yang merah muda. Dia yang sedang bercermin, bergumam. "Tidak bisa berandai-andai atas semua kejadian yang sudah terjadi. Ingin sekali bertemu denganmu Roger (anaknya). Hem lupakan. Jika gue mengingatnya, itu akan membuat pikiran saya tambah moment. BTW gue tampan juga yah. Bisa kali jadi duren (duda keren)" Sambil mengangkat kedua alis nya. Dia pun pergi mengambil pakaian dilemari Alvin.
Cuaca yang sangat panas, membuat Alvin merasa kehausan. Karena dimobil tidak ada air, akhirnya dia memutuskan untuk turun dan akan membeli air disalahsatu minimarket. Andreas memarkirkan mobilnya dipinggir jalan raya. Saat dia meminta agar dirinya yang membeli air, Alvin menolaknya. Saat Alvin akan nyebrang, ada salahsatu mobil yang melintas dengan pelan dan kaca mobilnya dibuka. Mobil itu berwarna hitam dengan plat nomor yang ditentukan sendiri. Benar sekali, ketika plat nomor itu terlihat. Mobil itu milik Reno Sahabatnya Alvin. Namun, yang bikin Alvin kesal dia membawa seorang gadis cantik dan mengobrol sambil tertawa. "Sialanan tuh sih Reno, kalau sampai dia selingkuh. Gak ada ampun, jurus taekwondo. Gue keluarin." ucap Alvin dalam hatinya. Saat dia buru-buru akan menyebrang, tiba-tiba seorang anak kecil yang bawa-bawa gitar dan membawa minuman digelas kecil, menabraknya. Minuman itu pun tumpah ke sweeter yang dipakainya. Alvin shok, dan melihat ke arah anak kecil itu. Namun, anak kecil itu berlari sangat kencang. Saat Alvin berbalik badan ada dua orang Preman mengejar anak kecil tadi. Spontan, Alvin menangkis salahsatu Preman itu. Mereka pun berantem. Andreas yang mendengar suara keributan langsung keluar mobil. Saat dia melihat Tuan nya berantem dengan dua orang Preman. Dia pun menghampirinya "Berhenti! Kalau tidak saya akan menelpon Polisi." ucap Andreas. Kedua Preman itu kabur, sedangkan orang-orang yang ada disana hanya ngelihatin mereka berdua. Alvin langsung masuk mobil dan Andreas membeli minum ke minimarket.
Dimobil Alvin mengeluarkan handphone nya. Lalu melihat pinggir bibirnya yang sudah berdarah. Belum lagi perut kirinya yang kena tendangan preman tadi. Dia pun bergumam. "Kalau kondisinya seperti ini, bagaimana saya berangkat. Hem. Lumayan juga berantem kalau dua lawan satu. Efeknya kerasa." Sambil melihat sweeternya yang kotor.
__ADS_1
Dirumah, bi Ana sudah selesai masak. Lalu dia menyiapkan masakanya di meja makan. Setelah itu, dia beresin bekas masaknya. Tak terasa keringat menetes dari dahinya. Dia pun langsung bergegas ke kamar untuk merebahkan tubuhnya. Tidak lupa, sebelum ke kamar dia ngambil segelas air putih untuk dibawanya.
Saat dia rebahan, dengan bantal yang sedikit ditinggikan. Dia mengeluarkan handphone dari celemek yang belum dibukanya. Lalu dia melihat handphone nya, dan saat dicek banyak sekali panggilan tak terjawab dari Bu Rena (Ibu angkatnya Sarah). Karena gak diangkat, Bu Rena ngasih chat ke bi Ana. "Bu, maaf. Kok saya telpon gak diangkat ya? Maafya bu saya jadi ganggu he. Bu, saya cuma mau ngingetin nanti Sarah hari rabu jadi yah. Biarin aja kalau gak ada yang nganterin, biar dia naik bus aja. Soalnya, kalau diundur kan gimana ya bu. Saya lagi banyak tagihan sekarang, belum lagi kemarin tagihannya nambah bekas ongkos perpisahan Sarah. Ongkos sama buat jajannya aja 1 juta bu. Saya akhir-akhir ini sama suami sering berantem. Gara-gara banyak pengeluaran. Soalnya, hasil tani kan lagi menurun bu. Tapi suut ya bu, tolong jangan bilang Sarah ya. Terimakasih." baca bi Ana sambil menyipitkan matanya.