Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Semua Karyawan Terpesona


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 05:15 wib. Sarah dan Bi Ana sedang berbincang di dapur. Bi Ana yang akan mengepel bagian bawah rumah, sedang menyapu. Dan Sarah yang saat itu selesai memotong sayuran untuk dimasak, dia akan naik ke atas untuk membangunkan Rei. Namun, saat dia sudah didekat tangga. Tiba-tiba Indah yang sudah bangun memanggilnya.


"Sarah? Tunggu sebentar!" panggil Indah.


"Oh iya Tante, kenapa Tan? Ada yang bisa dibantu?" tanya Sarah.


"Nggak. Saya cuma mau ngasih kamu baju nih. Ini baju waktu Tante masih muda loh. Kata kamu kan baju-baju kamu masih di teman kamu." ucap Indah yang membawa baju dikoper dan memberikannya ke Sarah.


"Wahh. Terimakasih banyak tante. Aku senang sekali. Kebetulan aku mau mandi nih, malah gak ada baju ganti hihi." ucap Sarah.


"Yaudah. Kamu mandi lah. Oh iya, kapan-kapan kita jalan bareng yah, keliling Kota Jakarta." ucap Indah


"Wah? Serius tante?" tanya Sarah gembira. "Iya. Kalau anak tante udah pulang ya. Soalnya tante males nyetir sendiri hm." ucap Indah.


"Oh gitu. Yaudah saya naik ya tan." ucap Sarah.


Dia pun naik membawa koper baju. Sedangkan, Indah pergi ke meja makan dan manggil bi Ana. Dia menanyakan banyak hal tentang Sarah kepadanya. Bi Ana pun menceritakan semua yang diketahuinya. Dari mulai Sarah ditinggalkan orang tuanya, diangkat anak, biaya sekolah, sampai kesini buat nyari kerja agar bisa kuliah, dan bantu orang tua angkatnya. Namun, bi Ana sedikit kebingungan akan sikap majikanya itu. "Kenapa nyonya bisa langsung seperhatian itu ya sama Sarah? Apa jangan-jangan neng Sarah mau diangkat jadi mantunya? Apa tuan akan mau? Terus bagaimana dengan guru muda itu? Uh jadi saya yang bingung." ucap Bi Ana melanjutkan nyapunya, saat Indah sudah pergi ke kamarnya lagi.


Dirumah Reicard


"Sayang? Anak mama? Bangun yah! Ini udah mau jam delapan." ucap Amanda ( Mamah nya Rei) sambil mengelus pundak anaknya dengan lembut.


Rei tidak menjawab, dia hanya sedikit bergeser. Seolah tidak mau disentuh sama mamanya.


"Sayang? Maafin mama ya! Mama baru pulang tadi malam pas kamu udah tidur. Mama mau bangunin kamu tapi kamu kayanya cape banget." ucap Mama nya yang masih duduk didekat Rei.


"Udahlah ma. Mama sama papa sama aja, kalau Rei mau ketemu ada aja alesanya. Rei kaya gak punya orang tua mah. Mama juga tahu, sekarang nenek udah gak ada mah." ucap Rei yang ternyata udah bangun. Namun, masih dalam posisi tidur hampir tengkurap.


"Mama gak akan kaya gitu lagi deh. Tapi anak mama jangan marah ya!" ucap mama nya, sambil berusaha membalikan tubuh Rei. Rei pun berbalik badan, dan pindah ke pangkuan mamanya lalu memeluknya sambil tertidur. Walaupun Rei jarang bertemu dengan kedua orang tua nya. Tapi mereka sangat memanjakan Rei. Hotel di Jakarta punya papah nya, sudah dibalik nama kan atas nama dia. Selain itu, nenek nya yang kaya raya tapi sudah meninggal memberikan banyak warisan. Termasuk salahsatunya mobil mewah yang sering dipakainya.


Saat Rei lagi enak tidur, tiba-tiba ada suara membangunkanya.


"Rei? Rei ? Bangun ih! Tidurnya jangan kaya gini. Aku geli ih" ucap Sarah cemberut.


Ternyata, pertemuan Rei sama mama nya tadi hanya mimpi. Jam enam pagi tadi, Rei sudah janjian sama Sarah di restorant yang kemarin. Sarah dari rumah Alvin naik taksi. Sedangkan Rei, nunggu di Restorant. Saat mereka selesai makan. Mereka masuk mobil, saat itu Rei akan berangkat ke kampung dan melajukan mobilnya. Namun, karena merasa masih ngantuk karena tidur jam setengah 3 pagi. Dan jam setengah 6 udah bangun lagi. Membuatnya balik lagi ke rumahnya bersama Sarah. Saat itu, Rei tidur dikasurnya. Namun, posisi dia persis seperti dimimpinya yaitu dipangkuan mamanya. Nyatanya, dia tidur pindah ke pangkuan Sarah yang sedang duduk didekatnya. Dan dia melingkarkan pelukan ke perut dan ke punggung Sarah. Tapi, karena Sarah membangunkanya. Dia pun terkejut dan spontan matanya terbuka. Namun, dia belum bisa mengatakan apapun. Hanya kesedihan dipelupuk matanya, karena pertemuan dengan Amanda mamahnya hanyalah mimpi.

__ADS_1


Sarah mencoba membenarkan posisi Rei. Rei yang masih berada diposisi paha Sarah pun, hanya menatapnya. Sarah yang melihat Rei seperti itu langsung mengelus lembut wajah Rei.


"Kamu kenapa?" tanya Sarah.


"Aku bermimpi tidur seperti ini. Tapi bukan kamu yang ada disini, tapi mama." ucap Rei tanpa senyuman.


Sarah tidak menjawab, dia hanya menyuruh Rei untuk duduk. Saat Rei duduk, Sarah langsung memeluknya. Rei pun memeluk Sarah sangat erat dan meluapkan kesedihanya. Dia bercerita banyak, bahwa mama nya pergi ke Kuala Lumpur saat akan bertemu dengannya.


Kantor Kalimantan


Siapa yang tak kagum dan tergila-gila, melihat seorang pria yang sangat berkharisma turun dari mobilnya. Stelan jas, rompi, dasi dan kacamata yang dipadukanya. Dia berjalan dengan seorang asistant yang tak kalah keren denganya. Semua karyawan berdiri melongo melihatnya. Saking penasaranya mereka berbisik-bisik.


"Siapa mereka?"


"Wah ganteng-ganteng banget"


"Itu kan anaknya Pak Ali, CEO kita yang meninggal"


"Wah anaknya CEO mirip banget ya"


"Apa dia baru pertama kali kesini? Wah gantengnya"


"Lihat senyumnya! Manis banget"


Alvin baru pertama kali berkunjung ke kantornya yang di Kalimantan, setelah papahnya meninggal. Dia dan Andreas menyapa para karyawan dengan senyuman dan sediki anggukan badan. Karena sejutek gimanapun Alvin. Dia harus tetap ramah ke Karyawannya. Lalu Pak Cipta, sebagai direksi, HRD, Manager, dyl. Mereka sudah berdiri untuk menyambutnya. Setelah itu, Alvin dipersilahkan duduk dikursi Papahnya. Saat melihat kursi itu, dia merasa sangat sedih. Nafasnya tiba-tiba naik turun menahan rasa ingin menangis. Tapi, karena dia tidak mau melihat semua yang ada disana ikit bersedih. Diapun langsung duduk dan menunduk dengan tangan kanan yang menghalangi wajahnya.


"Pah, aku udah sampe dikantor papah. Tempat yang selalu bikin Alvin cemburu, karena papah yang sering mengunjunginya. Dan meninggalkan Aku dirumah pah. Hari ini dan seterusnya aku akan meneruskan perjuangan papah untuk Perusahaan ini." ucap Alvin dalam hatinya.


Setelah itu, dia mengisyaratkan agar semua yang ada disana duduk. Pak Cipta, kemudian berdiri dia memperkenalkan Alvin terlebih dahulu, lalu memperkenalkan stafnya satu-satu.


Beralih ke rumah


Bi Ana yang sedang rebahan dikamarnya menghubungi Kevin.


Trut trut trut

__ADS_1


Telpon tidak diangkat


Trut trut trut


Telpon tidak diangkat


Terut


"Hallo?" jawab Kevin dengan mata yang masih meram.


"Dhen. Maaf kalau bibi ganggu, dhen Kevin lagi dimana ya?" tanya bi Ana.


"Oh bibi yang ganggu tidur saya." ucap Kevin sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Hihii maafya dhen. Masih tidur ya?" tanya bi Ana.


"Ya. Saya kan tidur dikamar Alvin bi. Semalam datang jam 11an. Nongkrong dulu sama Pak Andi samapai jam 2 bi." ucap Kevin.


"Aduh. Maaf dhen. Bibi gak tahu sih hihi" ucap bi Ana.


"Bibi ada apa nelpon?" tanya Kevin. Sambil melihat jam di hpnya, yang ternyata udah jam 11 lebih.


"Ini dhen. Mau nanyain, Sarah kapan ya ngelamar kerjanya? Dia kan udah disini, kemarin datangnya dhen. Cuma sekarang lagi ketemu temanya dulu, ngambil barang katanya." ucap bi Ana.


Kevin yang mendengarnya, langsung sumeringah. Namun, dia pura-pura cuek dan tidak memberitahukan kalau dia udah ketemu Sarah.


"Hemm. Jadi si cantik itu lagi pergi. Nanti sore deh, saya ngobrol sama dia." ucap Kevin dalam hatinya.


"Dhen?" panggil bi Ana.


"Oh iya iya bi. Nanti ya sorean aja. Biar sekalian saya ajak ke Kantor dia." ucap Kevin sambil menaikan alisnya. Taktik untuk mencomblangkan Sarah dan Alvin mulai berjalan.


"Oh iya dhen. Terimakasih ya dhen. Biar bibi telpon dulu Sarah biar cepat pulang." ucap Bi Ana.


"Ya bi." Kevin mematikan telponnya. Lalu dia pergi membuka jendela. Dan membentangkan tanganya, sambil melihat keluar.

__ADS_1


__ADS_2