Kala Penyesalan Datang Terlambat

Kala Penyesalan Datang Terlambat
Temani aku


__ADS_3

Tama yang mendengar penjelasan Fattah pun tampak mengeratkan rahang nya, dia tidak habis pikir dengan ulah mantan istri dan juga kakak kandungnya yang sejak dulu selalu saja ingin membuat nya hancur.


Namun dia tidak selemah itu hanya untuk menghadapi dua sampah tersebut, dia menatap tajam pada putranya yang kini menelan ludahnya kasar.


"Pikirkan cara untuk menaikan saham ke posisi semula, dan cari bukti untuk penjarakan mereka berdua"


"Iya" jawab Wil yang tidak ingin memperpanjang masalah.


"Dan kamu Valerie, jangan terlalu di pikirkan, biar semua ini di urus oleh suami mu, biarkan perusahaan mu di pegang oleh nya sampai kondisi nya pulih, seperti yang dia janjikan"


"Baik pa"


Tama keluar dari sana di ikuti oleh Bima yang mengangguk tanda kalau dia akan membantu mereka, itu membuat Wil dan juga Fattah bisa bernafas sedikit lega, setidak nya ada yang akan membantu nya.


Wil menghempaskan dirinya di sofa yang ada di sana, kepala nya berdenyut hebat akibat kurang tidur dan juga masalah saham yang tiba-tiba turun meski masih di posisi aman, namun itu tidak bisa di abaikan begitu saja, apa lagi ancaman papa nya yang tidak main-main.


"Kak, kenapa masalah ini bisa bocor?" tanya Fattah yang terlihat sangat frustasi di sana.


"Harus nya aku yang tanya sama kamu, bukan malah sebaliknya" geram Wil yang terkena amukan papa nya tadi, bahkan di depan istrinya sekaligus.


"Fattah, apa kamu tidak mencurigai seseorang, yang terlibat di dalam rencana ini?" tanya Valerie.


"Itu tidak mungkin kakak ipar, karena aku hanya mengerjakan nya dengan asisten pribadi mu saja" ucap Fattah sambil meringis menahan sakit di kaki nya akibat tendangan dari Wil.


"Kamu kenapa?" Valerie menatap heran pad Fattah yang tampak kesakitan memegangi kaki nya.


Dia menatap suaminya yang seolah tidak tahu apa-apa.


"Tidak apa kak, hanya kakiiii aaauuu....." keluh nya saat lagi-lagi Wil menendang nya.


"Apa yang kamu lakukan" tuduh Valerie.

__ADS_1


"Aku melakukan apa?" acuh Wil yang langsung bangkit dari duduknya.


Dia tampak menghubungi seorang yang mungkin bisa membantu nya, percakapan mereka cukup serius meski Wil tidak banyak melakukan pembicaraan.


"Aku mencurigai Mikha di sini, mungkin saja bukan dia pengkhianat nya"


"Ayo kita pulang, kamu harus cepat istirahat" lanjut Wil yang berjalan mendekati Valerie, dia menggandeng pinggang ramping Valerie keluar dari ruangan tersebut, namun sebelum menghilang dari pandangan Fattah, Wil berpesan untuk menyelesaikan tugas dari big bos nya malam ini juga.


Membuat Fattah kesal dengan ulah atasannya yang seenaknya saja itu, belum sempat dia mengajukan protes nya Wil dan juga Valerie sudah pergi dari sana.


Sebuah pesan masuk membuat Fattah urung mengumpat, dia membuka pesan tersebut dengan mata yang terbuka lebar.


Nikmati hukuman mu, itu akibat nya jika kamu berani memanggil istriku dengan sebutan kakak ipar.


Duaar.


Kepala Fattah rasa nya ingin meledak saat ini, hanya karena sebuah panggilan saja dia harus mengerjakan tugas Wil, kenapa tidak dia saja yang menjabat sebagai CEO nya di sini jika semua keputusan ada pada nya saat ini.


Apa mungkin kakak angkat nya itu cemburu dengan panggilan yang dia sematkan, bukan kan benar apa yang dia lakukan, Valerie istrinya Wilmar bukan, jadi salah nya di mana dia memanggil kakak ipar pada wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Wil ada di basemen kantor hujan lebat, tiba-tiba mengguyur bumi di sertai petir yang menyambar, bisa dia pasti kan kalau jalanan akan macet dan juga banjir akan menghadang jalan pulang nya, bukain lagi angin yang bertiup kencang bisa membuat pohon tumbang atau pun patah, dia menarik Valerie masuk ke dalam menelusuri lorong.


Sampai mereka tiba di sebuah apartemen yang ada di sebelah kantor Wiratama Corporindo, Valerie tersenyum kagum dengan itu, bagaimana Wil bisa memikirkan tentang semua itu, namun dia juga bingung kenapa suami nya malah mengajaknya kemari bukan nya pulang seperti yang dia katakan.


Wil menarik tangan Valerie memasuki lift dan menekan tombol enam puluh, yang merupakan lantai tertinggi di tempat ini.


"Kamu ingin membawa ku kemana?" tanya Valerie yang tidak lagi bisa menahan rasa penasaran nya.


Namun Wil tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Valerie, sampai mereka tiba di lantai enam puluh, Wil yang tidak melepaskan genggaman nya pun membawa Valerie masuk ke dalam apartemen yang ada di sana.

__ADS_1


Ruangan yang mula nya gelap itu tiba-tiba terang saat Wil menghidupkan lampu nya, mereka masuk ke dalam, Valerie menutup mulutnya yang takjub dengan desain yang ada di dalam nya.


Wil mendudukkan Valerie yang masih terlihat pucat, ada sedikit nyeri di hati nya saat mengingat kembali apa yang dia lakukan kemarin malam, Valerie yang menyadari perubahan wajah suaminya pun mengelus rahang tegas nya.


"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku juga salah, jadi lupakan saja ya"


Wil mengangguk, toh itu sudah terjadi dan tidak bisa di putar kembali.


"Kamu mau makan apa?" tanya Wil.


"Apa saja boleh, tapi biarkan aku tidur dulu, aku mengantuk sekali"


"Tidurlah di kamar" jawab Wil yang beranjak menunjukkan kamar.


Wil menoleh saat merasa tidak ada pergerakan di belakangnya, dia mengerutkan keningnya saat Valerie tetap duduk di sofa.


"Kata nya mau tidur?"


Valerie yang mendapatkan pertanyaan itu mengulurkan tangannya, dia ingin di gendong oleh suaminya, ya dia ingin di manjakan oleh Wil selama uang yang dia bisa, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menikah setelah perpisahan mereka nanti.


Wil yang mendapati Valerie yang ingin bermanja-manja dengan nya pun hanya menggeleng kepalanya, suatu saat dia akan merindukan saat-saat seperti ini, saat di mana dia tidak akan lagi mendapatkan kemanjaan dari Valerie.


Wil kembali menghampiri Valerie, dengan satu sentakan tubuh ramping Valerie sudah berada dalam gendongan nya, dia berjalan menuju pintu kamar yang masih tertutup.


Valerie membantu Wil membukakan pintu juga menghidupkan lampu nya, kamar itu terlihat bersih seperti ada kehidupan di sana, setiap hari selalu ada orang yang bertugas membersihkan apartemen tersebut dan mengganti seprei nya setiap minggunya.


"Tidurlah" pamit Wil yang akan bersikap keluar dari sana, tak lupa dia juga mengecup kening Valerie.


"Mau kemana?" tanya Valerie yang tidak ingin di tinggalkan oleh Wil.


"Aku akan memesan makan, jadi saat kamu bangun nanti, makanan sudah siap"

__ADS_1


"Boleh temani aku, sampai aku tidur, aku ingin mendengar detak jantung mu"


Eeehhh.


__ADS_2