
Senyum jahil Fattah sepanjang jalan menuju kantor membuat Wil ingin sekali mengajak nya duel di arena, bagaimana bisa di bersikap konyol di hadapan asisten pribadi nya, dia sendiri tidak menyangka kalau Valerie akan melakukan hal itu pada nya.
Flashback on
"Berikan tanganmu"
Wil melirik pada Valerie yang masih mengulurkan tangannya, dia tidak paham dengan keinginan istrinya itu, meski ragu dia tetap melakukan nya, dia penasaran dengan apa yang akan di lakukan istri nya itu pada tangan nya.
Valerie menerima uluran tangan suaminya, lalu menempelkan di dahi nya, sebagai mana taqzim nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Wil yang merasa asing atau mungkin belum terbiasa dengan apa yang di lakukan oleh istrinya, atau mungkin dia lupa kalau dia sekarang bukan lagi laki-laki lajang.
"Maaf" ucap Valerie sambil menunduk kepalanya, dia hanya ingin melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri namun agak nya suami nya itu tidak berkenan, satu yang mungkin Valerie lupakan jika pernikahan mereka hanya karena kepentingan saja.
Wil yang melihat istrinya tertunduk pun menghela nafasnya, bukan dia tidak berkenan tapi dia belum terbiasa dengan semua itu, jadi dia terkejut di sana.
"Sudahlah, jangan merasa bersalah, aku hanya belum terbiasa, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau"
Mendengar apa yang di katakan suaminya, Valerie mendongak menatap Wil yang kini berdiri di depan nya, netra awas nya menangkap sesuatu di sana, seperti ada yang salah dengan tampilan suami nya, tapi apa?.
Dia pun menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki, tapi tidak juga menemukan kejanggalan yang dia maksud, sampai pusat perhatian nya terhenti pada dasi yang terpasang di leher suaminya, dia pun mendekati Wil yang membeku saat istrinya mengikis jarak di antara mereka.
Mungkin efek semalam atau dasar nya Wil yang masih menginginkan pergulatan dia memejamkan matanya saat tangan istrinya terangkat menatap rapikan dasi nya.
"Sudah"
Terdengar helaan kecewa dari mulut Wil, dia sudah berharap lebih tapi ternyata semau hanya sia-sia, Fattah yang berdiri di sana mematung melihat ekspresi kakak angkat nya itu, apa lagi saat mendengar ucapan dari Valerie yang semakin membuat Tama terlihat konyol di sana.
"Kamu kenapa memejamkan mata seperti itu"
Tidak ada jawaban dari Wil dia masuk ke dalam mobil yang sudah terbuka.
__ADS_1
"Makan siang di rumah atau tidak?"
"Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan" dingin nya pada Valerie.
"Jalan kan mobil nya, apa kamu akan tetap berada di sini" bentak Wil saat menyadari bahwa Fattah menahan tawa.
Fattah pun masuk ke dalam mobil yang langsung meninggalkan rumah, mereka pergi diiringi lambaian tangan dari Valerie yang masih berada di teras rumah.
Valerie masuk ke dalam rumah saat mobil yang di tumpangi oleh suaminya itu keluar dari gerbang dan tak terlihat lagi oleh nya, dia melanjutkan langkahnya menuju dapur, dia ingin memasak makanan untuk suami nya.
Sementara di dalam mobil, Fattah terus saja menggoda kakak angkat nya itu, satu dua kali Tama tidak menunjukkan reaksi apa pun, tapi ke tiga kali nya dia langsung menarik leher nya menggunakan setelah tangan nya.
"Kak, lepas aku belum menikah, nanti kalau kita menabrak bagaimana?" panik nya, untung saja jalanan yang di lalui tidak terlalu banyak mobil yang lalu lalang di sana.
"Sekali lagi mengejekku, aku potong gaji mu sampai habis"
Fattah yang mendengar itu langsung diam, tanpa mengeluarkan kata, dia masih menyayangi gaji nya, jadi dia tidak ingin macam-macam, dia tahu bagaimana sifat kakak nya itu, yang tidak main-main dengan apa yang keluar dari mulutnya.
Flashback off
"Kerja kan ini semua dan sebelum makan siang semua sudah harus beres di atas meja kerja ku"
"Bos yang benar saja" ucap Fattah yang keberatan dengan semua itu.
"Itu hukuman untuk mu, berani-beraninya kamu mengejek ku" sungut Wil yang sampai di ubun-ubun.
"Tapi....."
"Kerjakan atau aku potong juga bonus bulanan mu?"
Fattah tanpa banyak bicara langsung mengangkat tumpukan dokumen yang ada di meja kerja kerja Wil, niat nya masih ke sini ingin menggoda Wil, tapi malah dia yang kena apes karena tumpukan dokumen yang harus nya di kerjakan oleh bos nya itu kini berpindah tangan pada nya.
__ADS_1
Dia keluar dari sana tanpa menutup pintunya, Fattah melenggang begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun.
Wil yang melihat itu hanya menyungging senyum nya saat berhasil membalaskan dendam nya, dia masih tidak bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi tadi, dia hanya berfikir kalau mereka akan menjalani pernikahan ini bukan seperti pasangan pada umum nya yang menikah karena cinta.
Apa harus mereka lakukan itu semua, tiba-tiba dia mengkhawatirkan dirinya sendiri, dia takut jatuh cinta yang sekali lagi akan menghancurkan nya, dia harus membentengi hatinya untuk tidak jatuh hati pada istri kontrak nya.
Waktu terus berlalu, perputaran jam dinding menunjukkan angka satu, yang arti nya waktu makan siang telah berlalu dan Valerie tetap berada di meja makan menunggu suaminya untuk pulang, mungkin suaminya lupa atau memang tidak menganggap nya sama sekali.
Dia menghela nafas nya, lagi-lagi dia harus sadar diri mengenai pernikahan nya itu, apa dia terlalu berharap untuk bisa menjalani semua sebagai mana mestinya, karena prinsip nya dia ingin menikah satu kali seumur hidupnya.
Hati nya terasa nyeri yang tak tertahan saat mengingat semua ini, dia tidak mungkin menembus pagar tembok yang di bangun suami nya, dia harus menyadari bahwa tidak ada cinta di antara mereka, bisa jadi belum atau mereka yang tidak mau saling terbuka nanti nya.
Dia yang ingin beranjak dari sana pun di kejutkan oleh suaminya yang kini berdiri di belakang nya.
"Kenapa belum makan?" tanya Wil yang mendadak pulang saat meeting selesai, dia mengingat janji nya yang akan mengusahakan pulang untuk makan siang bersama.
"Apa masakan nya tidak sesuai lidah kamu?" lagi-lagi Wil memberikan perhatian nya, dia juga menatap satu persatu menu yang menggugah selera makan nya.
Di meja tertata menu makan siang sederhana yang jarang sekali dia makan, di mana ada oseng brokoli wortel, sup jagung, ayam goreng bawang, udang asam manis.
"Aku yang masak tadi" seru nya.
"Bik, bibik" teriak nya pada asisten rumah tangga nya yang tergopoh-gopoh menghampiri Wil yang seperti tengah menahan amarahnya, begitu juga dengan Valerie yang ketakutan saat dengar suara menggelegar dari Wil.
"Saya, Tuan" ucap nya bik Nah yang menunduk takut.
"Siapa yang menyuruh dia memasak?" bentak nya.
Bik Nah hanya diam, dia tidak berani hanya sekedar mengangkat kepalanya.
"Jangan memarahi mereka, aku sendiri yang ingin memasak nya untuk mu, maaf kalau kamu tidak suka"
__ADS_1
"Pergi dari sini"