Kala Penyesalan Datang Terlambat

Kala Penyesalan Datang Terlambat
Mertua tidak tahu diri


__ADS_3

"Hanya saja apa?" Tanya Papa Tama penasaran.


"Hanya sedikit menyebalkan"


"Oohh..."


Valerie sekali lagi merasa kepala nya berdenyut dengan tiga pria beda generasi di depan nya itu, sambil terus menerima suapan bubur dari tangan suaminya.


Tiga orang itu begitu mirip Wilmar bagai Papa Tama di usia muda, dan Jenno adalah Wilmar versi bayi, hanya saja sifat kedua nya yang sedikit berbeda, dimana Papa Tama yang terlihat kalem tapi menghanyutkan, berbeda dengan Wilmar yang dingin dan kaku jika di lihat dari sudut pandang orang yang tidak mengenal nya.


Perhatian ketiga nya teralihkan saat pintu ruang perawatan itu di buka dari luar, orang tua Valerie dan adik nya masuk kedalam menghampiri ketiga nya.


"Selamat siang Tuan Wiratama"


Tidak ada yang menjawab sapaan yang di lontarkan oleh pak Haidar, mereka melanjutkan aktifitas nya masing-masing karena terlalu muak dengan dia orang yang ada di depan nya itu.


"Ayah, ibu, Aldo kalian datang" ucap Valerie dengan senyum mereka di bibir nya.


"Iya, bagaimana kabar mu?" tanya pak Haidar pada putri nya.


"Aku baik Ayah, sekarang ayah sudah jadi kakek"


"Tampan sekali, apa ibu boleh mengendong nya?" Tanya Maya ibu Valerie.


"Boleh Bu"


Sementara dua laki-laki beda usia itu hanya diam dengan tatapan yang sulit di artikan, dengan berat hati mereka biarkan saja wanita yang tidak layak di sebut sebagai nenek itu menimang darah daging nya.


Valerie yang melihat kilatan marah di wajah suami nya pun merasa heran, apa yang tidak di ketahui nya sampai sorot mata Wilmar yang seperti itu tidak pernah di lihat sebelum nya.

__ADS_1


Juga adik nya itu terlihat tidak nyaman berada di dalam ruangan itu, dia sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Kamu kenapa Do?" tanya Valerie yang tidak lagi bisa menahan keingintahuan nya.


"Ituu mbak, aku harus meeting sebentar lagi, apa tidak apa kalau ayah dan ibu ada di sini sementara aku pergi!"


"Meeting?"


"Maksud kamu?" raut heran terlihat jelas di wajah Valerie, dia pun bertanya-tanya dalam hati apa yang tidak di ketahui selama dia hamil.


"Iya, perusahaan aku yang memimpin sekarang mbak!" jelas nya seakan tidak ada rasa bersalah sama sekali.


"Ini bagaimana maksud nya Ayah?" tanya Valerie pada ayah nya sementara Wilmar dan papa Tama mereka hanya mendengarkan apa yang penjelasan dari manusia tidak tahu diri itu.


"Ituu..."


"Perusahaan keluarga kita sudah ayah serahkan sepenuh nya pada adik mu, karena perusahaan butuh penerus, dan sudah ayah putuskan kalau adik mu lah yang menjadi penerus ayah sekarang"


Setetes air mata mengalir di pipi Valerie, ayah nya itu bagaimana dengan mudah nya mengatakan itu semua, apa karena dia seorang wanita jadi posisi nya selalu di sisihkan.


Tidak ingatkan ayah nya jika anak perempuan nya itulah yang menyelamatkan mereka dari hutang yang menggunung dengan menjual nya, lalu bagaimana bisa ayah nya itu menganggap nya tidak berarti.


Dia bagai lebah yang di ambil madunya lalu di buang begitu saja, Wilmar yang melihat kesedihan di mata Valerie pun bersumpah akan menghancurkan tiga manusia tak tahu diri itu, mereka hanya menganggap bahwa istri nya itu seperti barang yang bisa di tukar dengan harta.


Sialan sekali mertua nya ini,


Awas saja, akan ku hancurkan kalian sampai menjadi debu yang tak terlihat.


"Jangan khawatir menantuku, kekayaan keluarga Wiratama tidak akan membuat mu menjadi miskin, kamu bisa menikmati semua nya, kalau perlu habiskan, aku dan juga suami mu akan menjamin kebahagiaan mu" geram Tuan Tama saat mendengar ucapan dari besan nya itu.

__ADS_1


"Bukan kah mereka akan bercerai"


"Tidak akan ada perceraian di sini" geram Wilmar marah.


Tangan nya terkepal menahan emosi yang sejak tadi tertahan itu, dia menghapus air mata di pipi istri nya.


"Ayah, aku harus meeting sekarang"


"Ada investor asing yang ingin menanamkan saham nya"


"Valerie ayah pergi dulu ya, ayah harap kamu bisa menerima semua keputusan ayah"


"Kamu jaga diri baik-baik, hubungi ayah jika kamu butuh sesuatu"


"Aku bisa mencukupi kebutuhan istri ku"


"Ayo mas" ajak Maya yang sama sekali tidak peduli dengan anak dan cucu nya yang baru saja dia temui setelah sekian lama, tidak ada rasa rindu dan juga sayang di mata nya untuk anak perempuan nya.


"Pergilah dan pastikan jangan pernah lagi muncul di hadapan ku atau anak perempuan ku" tegas Tuan Tama.


"Dia putri ku..."


"Ayah ayo kita terlambat nanti"


Ketiga nya pun pergi dari sana, sementara tangis Valerie pecah di sana saat melihat perlakuan keluarga nya yang tidak pernah menganggap nya saja sekali, bahkan pengorbanan yang dia lakukan tidak terlihat sedikitpun di mata kedua orang tua nya.


Sejak kecil dia selalu di sisihkan hanya karena dia wanita yang di anggap tidak berguna, bahkan dia harus membiayai pendidikan nya seorang diri, beruntung dia mendapatkan beasiswa sampai di perguruan tinggi, kalau tidak mungkin dia akan berhenti di sekolah menengah atas.


"Sudah jangan menangis, kamu sudah menjadi ibu, apa kamu tidak malu dengan putramu yang tampan itu"

__ADS_1


"Kakak..."


__ADS_2