
Valerie tidak punya keberanian untuk menatap Wil sejak bangun tidur tadi, dia terus menghindar tatapan mata suaminya.
Dia begitu malu saat ketahuan menatap kagum pada suami nya saat dia sedang tidur, bahkan saat menyiapkan sarapan pun dia tetap menundukkan kepalanya.
Tingkah nya yang salah tingkah sejak tadi itu di perhatikan oleh mertuanya yang juga ikut sarapan bersama mereka, yang ada di dalam pikiran Tama, apa kedua pengantin baru yang sedikit kadaluarsa itu sedang bertengkar atau memang kedua nya sama-sama menjaga jarak.
Apakah harapan nya agar pernikahan anak dan menantunya itu akan berlanjut sampai maut memisahkan hanya harapan belaka yang tidak akan pernah terwujud.
Tapi Tama juga tidak ada keinginan untuk ikut campur masalah kedua nya, mereka sama-sama sudah dewasa untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri, dia akan turun tangan jika di perlukan.
Wil yang menyadari itu pun tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan, dia menikmati sarapan yang di siapkan oleh istrinya.
"Bagaimana keadaan perusahaan mu?" tanya Tama pada menantunya.
"Sudah berangsur membaik Pa, pembangunan yang mangkrak juga akan segera di operasi kan lagi" jawab Valerie apa ada nya.
"Apa suami mu itu tidak membantu mu sama sekali" sindir Tama yang tidak di tanggapi apa pun oleh Wil.
"Semua itu berkat suami Valerie pa, dia yang
membantu mengurus perusahaan"
"Bagus"
"Aku mendengar kabar kedua orang itu kamu jebloskan penjara?"
"Iya" jawab Wil yang langsung beranjak dari duduk nya.
"Ayo kita berangkat, aku ada meeting pagi ini" ajak nya pada Valerie yang sudah menyelesaikan sarapan nya.
Valerie pun berpamitan pada mertuanya, lalu menyusul suaminya yang telah lebih dulu meninggal meja makan.
Suara klakson mobil terdengar tiga kali saat Valerie berjalan menuju mobil nya, dan itu berasal dari mobil suaminya, dia berjalan memutar arah menuju mobil yang di tumpangi nya, dia yang sengaja ingin berangkat sendiri pun terpaksa urung dari pada membuat suaminya marah.
Dia masuk di dalam mobil dan duduk di samping suami, Wil menatap pada Valerie yang kini duduk di sebelah nya dengan pipi yang memerah, dia tersenyum miring melihat nya, dia seakan sangat senang membuat istri itu salah tingkah.
“Kenapa kamu menyiapkan kemeja ini, lihat ada lobang di sini” tunjuk nya pada jahitan di pinggir ujung kemeja nya.
Valerie yang tadi nya menatap kearah jalanan pun menoleh pada suami nya, dia mendekatkan dirinya untuk melihat baju yang kata nya berlubang itu, namun saat dia mendekati ke arah wil, suaminya itu menolehkan wajah nya yang membuat bibirnya mencium pipi Valerie.
__ADS_1
“Nanti ya, aku sedang mengemudi, kamu sepertinya sudah tidak sabar”
Plak.....
“Hei kenapa memukul ku?” tanya Wil saat Valerie sudah memalingkan wajahnya lagi.
Valerie tetap diam, dia kesal setengah mati pada suami nya itu yang sejak tadi membuat nya salah tingkah.
Cup.
“Aku tidak suka di abaikan, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku”
“Jalankan mobil nya, kamu tidak dengar semua orang membunyikan klakson nya”
__ADS_1
“Biarkan saja”
“Jangan aneh-aneh”
“Cium aku dulu, baru aku akan mengemudikan mobil nya lagi”
Tin.
Tin.
Tin.
Tanpa berpikir panjang Valerie menuruti keinginan suami nya, dari pada mereka berakhir di kantor polisi karena menyalah aturan lalu lintas.
Wil kembali berulah saat Valerie akan mencium pipi nya di menoleh ke arah nya, membuat bibirnya menempel pada bibir Wil yang langsung **********, bahkan sesapan itu terus berlanjut meski mobil yang mereka tumpangi kini berjalan membela jalanan kita Yogyakarta.
Valerie memukuli dada suaminya saat mereka nyaris menabrak pagar pembatas di sebelah kiri jalan.
__ADS_1