
Wilmar bangkit dari tidur nya, dia memeluk Valerie dalam dekapan hangat nya, dia sungguh tidak menyangka kalau pernikahan nya yang menginjak usia empat bulan itu membuahkan hasil.
Kecebong nya berkembang biak dengan baik saat bertemu dengan pasangan nya, Wilmar menghujani Valerie dengan ciuman di seluruh wajah nya, bahkan kini dia berjongkok di hadapan Valerie dengan telinga yang dia tempelkan di perut Valerie yang masih rata, Valerie tersenyum saat melihat binar bahagia di wajah suami nya, dia menggelengkan kepala nya mengusir semua kemungkinan yang akan terjadi nanti nya.
"Halo Boy"
"Ini Daddy"
Sapa nya Wilmar pada calon anak nya yang bahkan masih sebiji kacang hijau.
"Hey Boy, kau dengar Daddy berbicara dengan mu" ucap nya sekali lagi, ciuman yang dia lakukan membuat Valerie terkikik.
"Ya Daddy, aku mendengar mu" jawab Valerie menirukan suara anak kecil.
"Kita ke rumah sakit ya, setelah ini kamu tidak aku ijinkan bekerja"
"Tapi....!"
"Tidak ada tapi, ingat ada anak ku di dalam perut mu"
"Iya, aku tahu Tuan muda Wilmar, tapi aku tidak bisa lepas tangan begitu saja, apa lagi Ayah ku sepertinya dia membuat ulah lagi" lirih nya tanpa berani menatap suami nya.
"Aku tahu jauh sebelum kamu tahu, itu urusan ku, kalau dia tidak bisa aku atur lepaskan saja tugas mu dari tempat rekreasi itu!" Ketusnya, dia sangat marah dengan ulah Ayah mertuanya itu yang tidak berpikir panjang jika mengambil keputusan.
"Sekarang juga lepaskan perusahaan itu, aku akan memberikan mu salah satu anak perusahan untuk mu, sebagai hadiah dari ku!"
"Hadiah perpisahan?" Pungkas nya dengan wajah tertunduk.
"Tidak akan ada perpisahan, jangan coba-coba untuk pergi dari ku ingat itu!" Marah Wilmar yang tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Valerie.
__ADS_1
"Bukankah kita akan berp-hhhhmmmpp...!"
Valerie tidak bisa melanjutkan ucapan nya saat dengan cepat Wilmar membungkam mulut nya dengan ciuman kasar yang menuntut balasan di sana, dia tidak sanggup mendengar apa yang akan di katakan oleh Valerie, tidak ada terbesit satu keinginan dalam hati nya berpisah dengan Valerie.
Dia akan tetap mempertahankan wanita itu apa pun yang terjadi, wanita itu hanya milik nya dan akan menjadi milik nya sampai kapan pun.
Deru nafasnya memburu, kali ini bukan karena nafsu, melainkan rasa takut yang menggebu, takut akan suatu hari wanita yang kini ada di depan nya itu tak terlihat lagi dalam pandangan nya.
Tidak bisa dia bayangkan betapa sakit hati nya nanti jika itu benar-benar terjadi, sanggupkah dia melewati hari tanpa wanita yang begitu manis sekaligus cerewet itu.
"Bisa jangan pernah membahas perpisahan" pinta nya setelah tautan bibir mereka terlepas.
Valerie tidak menjawab dia juga bingung dengan semua nya, dia takut terlalu berharap sementara dia tahu kalau semua ini hanya pernikahan bisnis semata, dalam lubuk hatinya dia juga tidak ingin berpisah dengan suami dan juga anak nya, tapi dia juga tidak bisa berharap banyak dengan semua itu.
Wilmar tidak benar-benar memberikan kepastian akan semua itu, hubungan mereka masih berada di antara hitam dan putih perjanjian yang mereka tanda tangani, dia sebenarnya juga bingung dengan sikap Wilmar saat ini, laki-laki itu terlihat sangat menyayangi nya, apa mungkin.
Tidak...
Valerie tidak ingin berharap lebih pada pria yang menatapnya dengan.....
Penuh damba...
Keraguan nya begitu kuat hingga dia tidak mampu menjawab Wilmar yang menunggu jawaban dari mulut nya.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku, apa kamu akan benar-benar pergi meninggalkan aku dan juga anak kita?"
Deg.
Jantung Valerie berdetak hebat saat mendengar kata 'anak kita' yang terucap dari bibir Wilmar, kata itu seakan menyentil hati kecil nya yang kini berperang dengan logika nya yang juga menginginkan kepastian.
__ADS_1
"Sudah tidak perlu di jawab, cepat mandi dan kita sarapan dulu, kamu mau makan apa?"
Valerie melepaskan pelukan Wilmar saat perut nya seakan di aduk saat mendengar kata makan, dia memuntahkan seluruh isi perut nya yang terisi berbagai macam makanan saat kondangan tengah jalan kemarin.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya"
Valerie mengangguk...
Perut nya terasa kram di bagian bawah, dia merintih kesakitan dengan memegangi perut nya, Wilmar membawa nya pergi ke rumah sakit, dia meminta Fattah untuk mendaftarkan nama Valerie di dokter kandungan terbaik yang ada di sana.
Valerie dengan tegas menolak saat Wilmar akan mendudukkan nya di kursi roda yang di siapkan oleh salah satu petugas yang ada di sana, dia memilih di gendong oleh suaminya itu.
Dengan senang hati wilmar mengabulkan keinginan Valerie, mereka langsung di persilahkan masuk oleh suster yang berjaga di depan pintu ruangan dokter kandungan.
Serangkaian pemeriksaan di lakukan, Valerie di nyatakan hamil dengan usia kandungan tiga Minggu, membuat Wilmar sungguh merasa bahagia, saking bahagianya dia tidak sadar jika masih berada di ruangan dokter, dia terus saja menciumi perut Valerie yang baru san di bersihkan dari gel yang di oleskan oleh dokter saat USG tadi.
Dengan seksama Wilmar mendengarkan apa yang di katakan oleh dokter, mengenai anjuran dan juga larangan untuk ibu hamil, juga tentang dia yang di minta selalu siaga dengan segala kondisi yang di alami oleh ibu hamil yang mengalami perubahan mood yang sangat drastis.
"Apa saat hamil boleh melakukan hubungan suami istri Dok?" Tanya Wilmar dengan harap cemas jika saja kesenangan nya itu tidak bisa dia lakukan, sementara Valerie dia sangat malu dengan pertanyaan Wilmar, meski dalam hati nya juga penasaran dengan semua itu, bisa berdiri kalau harus menahan selama sembilan bulan lebih.
Valerie bernafas lega, saat mendengar penjelasan dokter, bahkan hubungan suami istri seperti itu memang harus di lakukan untuk menjalin ikatan batin antara ayah dan anak yang ada di kandungan ibu nya.
Yang itu othor nya ngawur, gak mau rugi kek nyaπππ.
Valerie yang malu bukan kepayang pun segera menarik wilmar kelaut dari sana, bisa-bisa nya suami nya itu juga menanyakan tentang posisi yang aman, durasi juga berapa kali harus melakukan hubungan dalam satu Minggu.
Sungguh Valerie ingin segera keluar dari sana saking malu nya, dia berucap dalam hati nya untuk tidak kembali lagi memeriksakan kandungan pada dokter tersebut.
Wilmar yang merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan nya pun, bingung dengan sikap Valerie yang menyeretnya, mereka masuk ke dalam mobil dengan kekesalan yang tertahan.
__ADS_1