
Tanpa membersihkan dirinya, Wilmar masuk kedalam mobil, pesan yang ditunjukkan oleh Fattah membuatnya tidak bisa menahan diri nya lagi, dia bergegas pulang dari semarang menuju Yogyakarta.
Jarak tempuh yang harus nya memakan waktu tiga jam, hanya di tempuh Wilmar dalam satu jam beberapa menit saja, beruntung jalanan sedikit lenggang karena jam kantor.
Saat dia hendak membelokkan mobil nya kearah rumah, netra nya tertuju pada sosok yang dia kenali sedang duduk di samping kemudi mobil nya yang berhenti karena lampu merah, dia yang tadi nya berniat pulang mengurungkan niatnya, dia mengikuti mobil yang di samping mobil nya dengan jarak yang dia rasa cukup aman.
Wilmar mengikuti mobil tersebut, sampai mobil itu berhenti di pelataran parkir sebuah hotel mewah, dia melihat dua orang berlawanan jenis turun dari sana setelah si laki-laki membukakan pintu untuk wanita yang ada di samping nya, senyum keduanya membuat darah Wilmar mendidih, tangan nya terkepal kuat dengan buku jari nya yang memutih.
Mereka masuk kedalam hotel tersebut, menuju resepsionis dan berlalu dari sana, Wilmar pun turun dari mobil mengikuti kedua orang tersebut, dia bersembunyi di balik tembok saat dia orang tersebut menoleh kebelakang, mungkin merasa kalau ada orang yang tengah mengikuti mereka.
Kotak besi itu mengantarkan kedua orang itu naik ke lantai atas Wilmar bergegas menuju depan pintu lift tersebut, dia termangu saat melihat kotak besi tersebut berhenti di lantai yang cukup jarang di masuki oleh kalangan orang biasa, hanya kalangan tertentu saja yang bisa mengakses lantai tersebut.
Wilmar menyusul kedua nya, namun saat dia sampai di lantai tersebut dia menggeram marah, saat melihat dua orang tersebut masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu tanpa mengunci nya.
Dengan penuh amarah Wilmar kembali ke rumah nya, dia masuk begitu saja tanpa memperdulikan baby Jenno yang mengalungkan tangan kearahnya.
Dia mengguyur tubuh nya dengan air dingin rasa tubuh nya memanas setelah menyaksikan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, andai saja hanya foto atau video mungkin dia masih bisa menyangkalnya, bisa saja foto atau video itu hanya editan semata tapi yang tadi dia lihat itu sudah jelas tanpa rekayasa.
Satu jam di mengguyur tubuh nya, sampai suara tangisan putranya menyadarkan dia dari semua masalah nya, dia tidak ingin larut dalam masalah, dengan cepat dia keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya.
Ketukan pintu membuat nya urung mengenakan pakaian nya dia membuka pintu masih mengenakan handuk yang melingkar di pinggang nya, suara tangisan putra nya semakin memekik membuat nya langsung membuka pintu.
"Maaf tuan .... "
"Pergi!"
Ucap Wilmar saat baby Jenno sudah berada dalam gendongan nya, pintu dia kunci dari dalam sambil menimang putranya yang selama satu Minggu ini hanya bisa dia lihat dari ponsel saja.
Tangisan baby Jenno berubah menjadi tawa saat dengan gemas Wilmar menciumi pipi tembem putranya itu, suara tawa putranya itu seakan menjadi pengobat dari rasa sakit yang dia rasakan.
Baby Jenno seakan tahu kesedihan Daddy nya pun berguling-guling memperlihatkan pada Wilmar bahwa dia sudah bisa tengkurap dan sebaliknya.
__ADS_1
"Kamu hebat boy lagi, ayo lagi kamu pasti bisa"
Mengerti dirinya tengah di semangati oleh Daddy nya baby jenno semakin menunjukkan bakat nya yang membuat Wilmar tertawa, dia bahkan sesekali mencontohkan gerakan menggulingkan tubuh nya di atas karpet bulu.
Cukup lama mereka bermain sampai keduanya terlelap dengan baby Jenno yang tidur di atas dada Daddy nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu terbuka begitu saja oleh Tama yang baru pulang dari kantor, dia membuka pintu kamar anak nya menggunakan kunci cadangan yang tersimpan di brangkas ruang kerja nya, dia tahu kalau yang ada di dalam sana hanya ada anak dan cucu nya saja maka dari itu dia berani membuka nya, apa lagi pelayan rumah nya mengatakan kalau baby Jenno harus minum susu nya, sementara menantu nya itu tadi pagi mengatakan kalau ada pekerjaan di kantor cabang yang Wilmar berikan pada nya.
Papa Tama menggelengkan kepala nya saat melihat posisi tidur anak dan juga cucu kesayangan nya itu, tingkah kedua generasi penerusnya itu sama persis dengan nya dulu, putranya itu dulu juga sering tidur di atas tubuh nya sampai istrinya merajuk dan berakhir dengan perselingkuhan istri nya itu dengan kakak kandung nya.
Papa Tama mengangkat tubuh gempal cucu nya tersebut yang langsung menangis saat berada di gendongan nya, membangunkan sang Daddy yang juga terbangun dari tidurnya.
"Dasar anak Ayah, aku kakek mu kenapa tidak mau dengan ku heem" kesal papa Tama menciumi baby Jenno yang semakin menangis dalam gendongan nya.
Wilmar pun merebut putranya, dia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersama baby Jenno.
"Anakmu harus minum susu Wilmar"
"Kau sudah tidur sejak jam tiga dan ini sudah hampir makan malam, kau masih saja ingin tidur"
"Pa .... "
"Apa yang terjadi?" tanya papa Tama saat melihat ada yang di sembunyikan oleh putranya itu.
"Keluarlah pa!"
Papa Tama keluar dari sana dengan seribu pertanyaan yang ada di kepalanya, dia yang tidak ingin menduga-duga pun masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk membersihkan diri nya.
Sementara di lantai bawah Valerie baru saja sampai dari kantornya, dia di minta hadir dalam rapat kali ini sebagai pemegang saham tertinggi, Wilmar memberikan sepenuhnya saham salah satu perusahaan cabang itu untuk nya, resmi atas nama nya yang juga sudah di tanda tangani oleh papa Tama sebagai pemegang saham mayoritas di sana.
__ADS_1
Jadi apa pun yang terjadi perusahaan itu tetap akan menjadi milik nya meski pernikahan mereka berakhir, yang mana perusahaan itu adalah kompensasi yang di janjikan Wilmar jika mereka bercerai seperti yang tertera di surat perjanjian yang telah mereka bakar secara bersama-sama setelah kelahiran Baby Jenno.
Valerie yang mengetahui suami nya pulang tanpa memberikan kabar kepadanya itu bergegas masuk ke dapur, dia berniat untuk memasak makan malam untuk mereka semua, dia bergegas naik ke lantai atas tempat di mana anak dan suami nya berada.
Pintu terbuka saat Valerie masuk kedalam kamar, pemandangan di depan nya itu seakan menjadi mata pisau yang menyayat hati nya entah kenapa, hatinya begitu sakit menyaksikan ayah dan anak yang tengah berbagi kehangatan tersebut, buru-buru dia menghapus air mata nya yang mengalir tanpa dia komando, Valerie meletakan tas nya di meja, dengan cepat dia menggangu pakaian. nya dan bergegas menuju dapur, setelah mencium putranya yabg sama sekali tidak terganggu oleh nya.
Dia mengolah bahan makanan yang sudah di siapkan oleh pelayan, dia yang sedang asyik memasak tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan nya di meja makan.
Valerie yang akan meletakan makanan nya di meja pun menghentikan langkah nya saat melihat suami nya itu duduk di meja makan sambil menatap kearah nya, dia yang salah tingkah hampir saja menjatuhkan piring yang berisi balado ayam favorit suaminya, untung saja pelayan yang berada di dekatnya dengan sigap membantunya.
"Hati-hati nona!"
Valerie mengangguk, dia berlalu dari sana rasa canggung terhadap suami nya begitu kentara, membuat Wil menaikan sebelah alis nya dengan baby Jenno yang anteng di pangkuan Daddy nya sambil menikmati sebotol susu di tangan nya.
Valerie menyelesaikan masakan nya, kini di meja makan sudah tersaji beberapa menu makanan yang sangat menggugah selera, papa Tama turun menuju tempat di mana anak dan cucunya berada, bukan karena merindukan generasi penerus nya tapi karena aroma masakan yang di masak oleh menantunya itu mengetuk lambung nya.
Valerie sendiri dia naik ke kamarnya untuk membersihkan diri nya, rasa lengket akibat keringat saat berada di luar tadi bertambah saat dia mengolah makanan itu, kini dia sudah berada di samping suami nya yang asyik bermain dengan putranya, dia mengulurkan tangan nya, namun bayi nya itu justru melengos yang membuat Valerie semakin merasa tidak di butuhkan.
"Duduk dan makanlah Val, biarkan saja dia dengan Daddy nya, pasti dia masih kangen sama Daddy nya" ucap papa Tama menginterupsi keterdiaman Valerie yang masih menatap kearah suami yang yang tidak mengeluarkan suaranya.
Papa Tama yang sedang menikmati sup iga di mangkuk nya itu menghentikan kegiatan nya saat melihat ada yang tidak beres dengan anak dan menantunya, namun dia memilih diam untuk saat ini, dia tidak ingin suasana makan malam berujung dengan perdebatan.
Lambungnya yang sejak tadi meminta untuk di isi pun terasa penuh saat melihat itu, dia hanya menyuapkan sedikit nasi dan lauk ke dalam perut nya lalu mengambil alih baby Jenno yang kembali terlelap dalam gendongan Daddy nya.
"Apa pun masalah kalian selesaikan dengan baik, setiap rumah tangga pasti ada pasang surut nya, keterbukaan dan saling memahami serta rasa percaya pada pasangan sangat di perlukan"
"Tapi sebelum itu kalian harus mengisi perut kalian dulu, karena apa pun yang terjadi pasti menguras tenaga"
"Dan satu lagi, lepaskan kaos mu, putramu ini harus menghirup keringat si pembuatnya agar bisa tidur dengan nyenyak dengan ku"
Dengan paksa papa Tama melepas kaos yang di kenakan Wilmar, jadilah Wilmar bertelanjang dada saat makan malam, Valerie yang ingin beranjak dari duduk nya pun kembali menikmati makanan nya saat Wilmar meminta nya untuk makan bersama nya, sementara papa Tama dia membawa cucunya itu masuk kedalam kamar nya.
__ADS_1
Setelah melewati kecanggungan karena hanya berdua saat menikmati makan malam di tengah banyaknya masalah yang merasa pendam sendiri, sampai satu kalimat yang meluncur dari mulut Wilmar membuat Valerie memejamkan mata nya, dia hanya bisa diam tanpa menanyakan alasan nya.
"Lebih baik kita .... "