
Valerie yang baru saja masuk ke dalam rumah ke papa mertua nya itu kembali keluar dari sana, bau pengharum ruangan dan juga aroma masakan yang ada di sana membuat kepala nya berdenyut, dengan rasa mual yang membuat nya berlari menuju wastafel yang ada di taman rumah, dia memuntahkan cairan bening karena sejak pagi dia tidak bisa makan apa pun.
Wilmar dan juga papa nya mengikuti Valerie yang sedang membersihkan mulut nya, rasa cemas menggelayuti hati Wilmar saat melihat Valerie yang tidak bisa makan apa pun, sedangkan tubuh nya memerlukan asupan makanan, di tambah lagi ada satu nyawa yang bersemayam di dalam tubuh nya yang juga membutuhkan makanan.
"Kenapa istrimu Wilmar?" Tanya Papa Tama yang belum tahu kalau hasil kecebong nya kini telah menghasilkan kecebong nya juga.
"Ada yang ingin aku katakan pada papa, ini mengenai keinginan papa waktu itu!"
"Keinginan Papa?" cicit Papa Tama.
"Iya Papa akan punya grand son"
"Haah, kamu hamil Valerie?" Tanya Papa Tama memastikan apa yang di katakan oleh anak nya, raut wajah nya seketika berubah menjadi binar bahagia saat anggukan kepala menantu nya menjawab pertanyaan nya.
"Selamat untuk kalian berdua, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua"
"Terima kasih Pa" ucap kedua nya bersamaan.
"Mulai saat ini pulang lah ke rumah ini, ini juga rumah kalian, meski aku pun juga memberikan rumah untuk kalian" pinta Papa Tama yang ingin selalu berdekatan dengan anak, menantu juga calon cucu nya.
Banyak nasehat dari Papa Tama baik untuk Wilmar sendiri yang harus selalu siap siaga kapan pun dan di mana pun saat ini, dia juga meminta Valerie untuk tidak lagi bekerja, sama seperti apa yang di minta Wilmar.
Valerie mengiyakan permintaan Papa mertua dan juga suami nya, Papa Tama juga mengatakan kalau Ayah nya juga sudah kembali dari Singapura begitu juga dengan ibu dan adik nya yang kini sudah sembuh dari penyakit nya.
Ada rasa bahagia dan juga kesedihan di hati nya, keluarga nya sama sekali tidak mempedulikan nya, bahkan saat pulang pun mereka sama sekali tidak mengabari nya, bahkan dia tahu semua itu dari papa mertua nya, sebegitu tidak di anggap nya kah dia karena dia seorang wanita.
Wilmar merangkul pundak Valerie yang menundukkan kepala nya saat Papa Tama menceritakan tentang keadaan keluarga istrinya saat ini, dia tahu apa yang di rasakan oleh Valerie, usapan lembut nya sedikit banyak menyalurkan perasaan tenang pada Valerie yang tidak boleh merasakan emosi yang memuncak.
Menyadari perubahan dari menantu nya, Papa Tama menghentikan ceritanya, dia mengalihkan pembicaraan nya mengenai perjalanan mereka ke Jepang.
Perbincangan mereka terhenti saat salah satu pelayan mendekati mereka dengan membawa nampan berisi makan malam, seperti perintah dari Papa Tama yang menginginkan makan malam di taman.
__ADS_1
Valerie kembali mual saat mencium bau masakan yang di bawah oleh pelayan itu, dengan cepat Papa Tama meminta pelayan itu untuk membawa kembali makanan itu ke dalam, sementara Wilmar dia berdiri di samping Valerie yang masih merasakan mual di perut nya.
"Separah itu efek kehamilan nya terhadap makanan Wil?" Tanya Papa Tama yang kini berdiri tidak jauh dari Valerie yang langsung merapatkan tubuh nya ke arah Wilmar, dia mengendus-endus aroma tubuh suami nya yang membuat rasa mual nya berangsur menghilang.
"Iya Pa, padahal kemari tidak seperti ini, dia masih bisa makan banyak kemarin, tapi satu hari ini dia belum makan apa pun, hanya meminum susu kehamilan saja, bahkan buah pun dia tidak bisa memakan nya" keluh Wilmar.
Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Valerie yang seperti itu, apa lagi ada satu nyawa yang bersemayam dalam rahim istri nya yang juga harus mendapatkan asupan makanan dari indung nya.
"Kamu ingin makan apa Valerie, katakan saja nanti akan papa carikan"
Valerie hanya menggeleng dalam pelukan Wilmar, bau parfum papa mertua nya itu terasa menusuk hidung nya, dia ingin mengatakan nya tapi dia tidak sampai hati mengatakan nya, dengan terpaksa dan membuang malu nya dia menyembunyikan wajah nya di ketiak Wilmar untuk menyamarkan bau parfum Papa mertua nya.
"Eehh, kamu kenapa?" Heran Wilmar.
"Aku tidak tahan dengan parfum Papa" lirih nya yang masih terdengar oleh Wilmar.
"Paaa, menjauh lah"
"Kenapa?"
"Kalian ini kenapa?" Bingung Papa Tama dengan sikap kedua anak muda yang ada di hadapan nya.
"Calon cucu mu mual mencium aroma parfum mu!"
"Sakit" decak Wilmar saat lagi-lagi Valerie mencuit nya.
"Wah alergi sama parfum Kakek rupa nya" ucap nya, dia sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang di alami oleh Valerie.
"Maaf Pa" ucap Valerie yang masih menyembunyikan wajah nya.
"Kalian kembali lagi ke kamar, Wil bawa istrimu istirahat, dia tampak pucat sekali"
__ADS_1
"Aku mau pulang" rengek Valerie yang sama sekali tidak ingin masuk ke dalam rumah itu, dia seperti trauma dengan bau yang menyambut nya saat akan masuk ke dalam rumah.
Wilmar pun menjelaskan kondisi Valerie yang juga alergi dengan baru ruangan di rumah itu, Papa Tama pun memaklumi nya dan membiarkan mereka pergi dari sana, dia tidak bisa memaksakan kehendak nya, apa lagi menyangkut kenyamanan untuk calon cucu nya sungguh merepotkan meskipun masih belum terbentuk sempurna.
Dia masuk ke dalam rumah setelah anak dan menantu nya itu pergi meninggalkan rumah besar nya, keheningan malam kembali menemani nya, dia hanya seorang diri tanpa ada siapa pun, Wilmar tidak pernah melarang papa nya untuk menikah lagi, tapi trauma akan sakit hati karena pengkhianatan membuat nya memilih untuk tidak membuka hati untuk wanita mana pun, dia lebih memilihย bekerja untuk melupakan kesakitan nya.
****************
Wilmar menempelkan sidik jari nya di sensor yang terpasang di pintu dengan Valerie yang berada di gendongan nya, pintu terbuka secara otomatis, begitu juga dengan lampu yang menyala dengan sendiri nya saat sensor menangkap bayangan seseorang, wilmar menutup pintu menggunakan kaki nya, dia berjalan menuju kamar, lalu merebahkan Valerie yang tertidur di ranjang dengan sangat hati-hati dia tidak ingin membangunkan istrinya yang tengah terlelap.
Cup.
Selamat tidur istri ku, aku mencintai mu.
Cup.
Wilmar terus memandangi wajah istri nya yang sedang terlelap seuntai kata cinta yang terucap meski hanya dalam hati itu membuat nya merasa bahagia, dia ingin mengungkap perasaan nya membelenggu nya selama ini, rasa yang kembali hadir di tengah-tengah kebahagian nya yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Valerie menggeliat dalam tidur nya, perlahan dia membuka mata yang beradu dengan mata tajam yang kini menatap lembut pada nya.
"Kenapa bangun heem"
"Aku lapar"
"Lapar?"
Valerie mengangguk entah dia sangat ingin makan saat ini, perut nya bernyanyi ria ingin segera terisi oleh makanan.
"Kamu mau makan apa?"
"Bubur ayam"
__ADS_1
Haaaaahh..
Jangan lupa like komen ya akak bestie kesayangan othooorrr ๐๐๐๐๐