
Valerie memeluk erat Wil seakan dia benar-benar ketakutan di tinggalkan oleh pria yang telah menjadi suami nya itu, rasa nyaman mengalahkan akal sehat nya yang dalam diam membentengi hati nya agar tidak jatuh pada laki-laki itu.
Rasa nyaman dan merasa di lindungi membuat Valerie semakin menjatuhkan hati nya, sementara Wil yang mendapatkan pelukan seperti itu entah mengapa hati nya seakan teriris dan keinginan untuk terus melindungi wanita itu semakin kuat.
Wanita yang sejak dia nikahi tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga nya, terlepas itu atas permintaan nya sendiri, yang dia lihat juga tidak ada keinginan dari keluarga nya untuk menemui atau menanyakan kabar putrinya.
Valerie yang merasa lebih baik pun melepas pelukan nya pada Wil yang mengelus rambut nya.
"Kamu kenapa?"
"Mandi lah, atau mau ku mandikan heem" ucap Wil lagi sambil memencet hidung merah Valerie yang memerah akibat dia yang menangis.
"Mandikan!" seru nya manja.
"Ini tidak hanya sekedar mandi biasa ya" seru Wil dengan seringaian yang terlihat jelas di wajah nya.
Pipi Valerie memanas saat Wil menangkap maksud dari sinyal yang dia berikan, dia ingin mengukir kenangan indah bersama Wil yang akan dia jadikan momen terindah di sepanjang hidup nya nanti.
Valerie memekik saat Wil mengangkat tubuh nya menuju kamar mandi, mandi yang bukan hanya mandi untuk mereka berdua, tidak ada yang akan menganggu mereka saat ini, Wil mematikan seluruh ponsel milik nya dan juga Valerie,dia tidak ingin acara nya terganggu dengan urusan di luar rencana bulan madu nya.
Satu jam berlalu sepasang pengantin kadaluarsa itu keluar dari kamar mandi dengan senyum penuh kepuasan terpatri di wajah mereka, kini mereka bersiap pergi ke luar untuk makan siang yang kesorean bahkan mereka saking asyik nya memadu kasih.
Wil membawa Valerie yang baru saja menikmati ramen di salah satu restoran yang tidak jauh dari asakusa view hotel pun kini berjalan menelusuri indah nya kota Tokyo di bawah hangat nya matahari yang hampir pulang ke peraduan nya, Wil sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan nya seakan dia takut kehilangan wanita itu.
Binar bahagia terlihat di mata Valerie saat indera penglihatan nya menangkap taman indah di depan nya, tempat yang sangat ingin dia kunjungi sejak masih sekolah dulu dan kini suami nya itu mengabulkan keinginan nya meski tak pernah terucap dari mulut nya.
Valerie berlari meninggalkan Wil yang tampak tersenyum melihat tingkah nya yang seperti anak kecil, bahkan dia merentangkan kedua tangan nya dengan kelapa yang mendongak ke atas, guguran bunga sakura berjatuhan di wajah nya cantik nya.
Wilmar dia mengabadikan moment tersebut di dalam ponsel nya, dia beberapa kali mengambil foto-foto Valerie, dia mengagumi ciptaan tuhan yang begitu indah di depan nya, sampai dia tidak menyadari kalau Valerie berada di samping nya, menarik nya untuk berjalan menelusuri indah nya taman Ueno.
Valerie berhenti tepat di tengah jalan mengambil beberapa bunga yang berserakan dengan gaya centil nya dia melemparkan bunga itu ke arah Wil yang memperhatikan nya, dengan cepat dia berlari meninggalkan Wil yang menggeram kesal karena ulah nya.
Kejar-kejaran antara ke dua nya di sepanjang jalan menuju danau itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana, mereka terpaku pada kedua pasangan yang berlarian di antara mereka, sampai di mana Wil meraih pinggang Valerie yang memekik.
Pekikan Valerie berubah menjadi tawa saat tahu bahwa suami nya lah yang tengah memeluk nya, tubuh nya di balik sejajar dengan Wil yang menundukkan kepala nya.
Dahi mereka menempel dengan senyum yang mereka di sudut bibir Valerie, kedua tangan nya meremas kaos suami nya saat bibir mereka bersatu dia tengah taman ueno, di tambah lagi guguran bunga yang berjatuhan dari tangkai menambah kesan romantis di antara kedua nya.
__ADS_1
Mereka larut dalam pagutan yang membakar jiwa, mereka mencurahkan segala rasa yang ada selama yang mereka bisa, suara tepukan tangan menyadarkan mereka kalau saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
"Sungguh memalukan" desis Valerie saat pelukan mereka terlepas.
Valerie menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya, berjalan menjauh dari sana di ikuti oleh Wil yang menampilkan wajah datar nya.
Nyatanya dia juga menikmati, Wilmar be like.
Wil mengikuti Valerie yang kini duduk di salah satu bangku taman yang ada di pinggir danau yang di tumbuhi banyak pepohonan di sana, juga ada perahu karet yang bisa di sewa pengunjung yang ingin menikmati hembusan angin yang menerpa di atas danau yang indah.
Juga pemandangan sunset yang menghiasi cakrawala menambah kecantikan danau yang sangat di nantikan oleh pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu seperti mereka saat ini.
Valerie memalingkan wajah nya malu saat Wil duduk di samping nya, dia tidak ingin menatap wajah suami nya saat ini, rasa kesal bersatu dengan rasa malu yang membuat nya ingin tenggelam ke dasar samudera, dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini.
Sadar kalau di acuhkan oleh istri nya, Wil menempelkan cone ice cream yang yang tadi di beli nya, rasa dingin sekaligus manis di ujung bibir nya menarik perhatian Valerie yang langsung menatap suami nya yang tengah menikmati es krim rasa coklat vanila di tangan kiri nya.
Dengan satu tangan lain yang menggenggam cone ice yang berbeda rasa dengan yang tengah dia nikmati, ujung es krim yang sudah berantakan itu menarik perhatian Valerie yang langsung menarik nya dari tangan Wil.
"Hey itu milik ku" goda Wil.
Wil meneguk ludah nya saat melihat ulah Valerie yang menikmati es krim nya, jilatan sensual yang di lakukan Valerie membuat nya membayangkan kalau saja es krim itu adalah milik nya yang tengah di manjakan oleh lidah tak bertulang milik istri nya.
Seketika tombak nya pun terbangun dari pertapaan nya yang kini siap untuk bertarung kembali, wajah nya memerah dengan keringat dingin yang membasahi wajah nya, dia kepanasan dengan tingkah Valerie yang entah sengaja atau tidak menggoda nya seperti itu.
Semilir angin sore hari itu tidak membuat Wil merasakan sejuk di sana, hawa panas menjalar di sekujur tubuh nya, tanpa mengatakan apa pun Wil menarik Valerie masuk ke hotel yang terletak tidak jauh dari sana.
Libido nya sedang berada di puncak dan dia butuh pelepasan untuk semua itu, tanpa basa-basi Wil memesan kamar tanpa menghiraukan apa pun.
Bahkan senyum ramah resepsionis tidak dia indah kan, Wil malah membentak nya karena mereka tidak kunjung memberikan nya kunci kamar yang telah dia pesan.
Valerie yang menyadari suami nya seperti itu pun hanya menundukkan wajah nya, dia tidak ingin bertatap mata dengan resepsionis yang dengan jelas menangkap maksud Wil yang sudah tidak bisa menahan diri nya.
"Ini Tuan" ucap resepsionis itu memberikan kunci.
"Lamban" ucap Wil yang langsung merampas kunci yang di letakkan di atas meja.
Valerie mengikuti langkah suami nya yang sedang mati-matian menahan hasrat nya, sampai di kamar pintu di tutup secara kasar.
__ADS_1
Ceklek.
Ceklek.
Suara kunci yang di putar dua kali membuat Valerie langsung merinding di tempatnya, setelah itu Valerie tidak lagi bisa mengingat apa pun selain meneriakkan nama suami nya.
Di iringi ******* kedua nya yang sama-sama memacu menuju puncak tertinggi, sampai di mana pekikan panjang Valerie yang menandakan kalau dia lagi dan lagi harus malah dari permainan luar biasa suami nya.
Wil tidak menghentikan gerakan nya, dia terus menggerakkan pinggul nya yang semakin kencang, cengkraman tangan Valerie di sprei yang semakin mengencang menandakan betapa dia tidak mampu menjabarkan rasa yang mengalir di setiap aliran darah nya.
lenguhan panjang di sertai rasa hangat di rahim Valerie menerbangkan jutaan kupu-kupu di perut Valerie yang menerima benih murni dari sang suami yang kini ambruk di atas tubuh nya.
Mata Valerie terpejam saat rasa kantuk menyerang nya, dia tidak sanggup melawan rasa kantuk nya, begitu juga dengan Wil yang terlelap di atas tubuh istri nya.
Cukup lama mereka di posisi seperti itu sampai Valerie yang merasa kebas di sekujur tubuh nya pun membuka matanya, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh nya, Wil masih ada di atas tubuh nya dengan adik kecil nya yang mengkerut masih ada di dalam diri nya.
Valerie mendesah sakit saat berusaha menyingkirkan suami nya, dia geli sendiri melihat suami nya yang tidur dengan posisi seperti bayi yang tengah menyusu pada ibu nya.
Bagaimana dia bisa tidur dengan posisi seperti ini, aku seperti tengah menyusui bayi gede, batin Valerie berusaha mendorong suaminya.
Gerakan yang dia lakukan sama sekali tidak menunjukkan hasil, Wil sama sekali tidak bergeser dari atas tubuh nya, dia tetap terlelap, justru adik kecil nya yang mulai menggeliat di dalam tubuh nya, menciptakan rasa geli di dalam rahim nya.
Valerie terdiam.
Dia tidak lagi menggerakkan tubuh nya saat ini, tubuh nya remuk redam, dia tidak ingin membangunkan singa lapar yang tidak pernah puas dengan tubuh nya.
Sekali lagi dia harus menahan kebas, dari pada membangunkan suami nya dengan adik kecil yang sudah siap siaga.
Dia yang tengah gelisah tidak lagi bisa memejamkan mata nya, sampai dia merasa puncak mercusuar nya di mainkan lagi oleh suami nya, sadar kalau Wil sudah terbangun dari tidur nya, Valerie pun memejamkan mata nya dengan harapan suaminya itu melepaskan nya saat ini.
"Jangan pura-pura tidur, aku tahu kamu sudah bangun sejak tadi" suara serak Wil membuat Valerie terbelalak.
"Menyingkir lah, kau ini berat sekali" gerutu nya menutupi malu nya.
"Kita tuntaskan dulu yang ini sayang"
"Aaaaahhhh..."
__ADS_1