
"Kamu dari mana?" Sembur Valerie saat Wilmar membuka pintu ruangan nya.
Valerie menyengit heran saat wajah suami nya itu seperti memendam kepanikan dan juga kemarahan yang lebih mendominasi, tatapan nya juga tajam seakan ingin menerkam apa pun yang ada di depan nya.
"Kamu kenapa?" Tanya Valerie saat melihat raut menakutkan suami nya.
Selama pernikahan mereka tidak pernah Valerie melihat Wil yang seperti itu, laki-laki itu cenderung lembut dan perhatian meski tidak pernah terucap dari bibir nya.
Saat ini Valerie seperti melihat sosok lain dari suami nya yang tidak pernah dia ketahui, dia berangsur menjauhi Wilmar yang kini berada di samping ranjang.
"Dari mana kamu?" Tanya Wilmar dengan nada dingin nya.
"Aku? aku tidak kemana-mana"
"Jangan mencoba membohongi aku Valerie!"
Valerie terjingkat kaget saat suara Wil menggelegar di sana, meski raut wajah nya sudah berubah tidak semenakutkan tapi tetap saja, Valerie ketakutan dengan Wilmar yang seperti itu.
Melihat istrinya ketakutan, Wil mencoba menenangkan dirinya yang sedang di kuasai amarah.
Dia menghembuskan nafas nya berulang kali sampai dia bisa menguasai amarah nya yang perlahan menghilang saat Valerie berusaha menjauh dari jangkauan nya.
"Maafkan aku, aku hanya khawatir saat aku tidak menemukan mu saat aku membuka mata"
Deg.
Jantung Valerie seakan tidak baik-baik saja sesaat setelah mendengar apa yang di katakan oleh Wil, debaran jantung nya begitu bertalu-talu saat tangan besar itu terulur meraih tangan yang membekap dada nya, Valerie menggeser tubuh nya mendekat mengikuti tarikan Wilmar yang menarik nya masuk ke dalam dekapan nya.
__ADS_1
Kenapa sesakit ini melihat mu tidak ada di samping ku.
Gumam Wilmar yang kini menghujani puncak kepala Valerie dengan ciuman nya, ketakutan yang di rasakan lebih sakit dari saat Faizah meninggalkan nya seminggu sebelum pernikahan mereka, ketakutan ini jauh lebih menyesakkan dada nya seakan dia tidak bisa bernafas dengan baik.
Wil melepaskan pelukan nya, dia menatap wajah Valerie yang kini sudah tampak memerah, tidak seperti kemarin yang seakan tidak teraliri aliran darah sama sekali, di kecup nya dengan lembut bibir yang sudah kembali ranum itu dengan segenap jiwa nya.
Valerie yang masih memiliki kesadaran penuh pun mendorong Wilmar yang pasti tidak akan bisa mengendalikan diri nya jika dia terus membalas cecapan lidah nya.
"Kenapa menolak ku?"
"Aku cukup tahu diri Tuan muda, aku tidak ingin kepergok lagi seperti kemarin" gerutu Valerie yang tampak menggemaskan di mata Wilmar.
"Memalukan" lanjut nya lagi.
Wilmar tidak menanggapi apa pun yang di katakan oleh Valerie, dia lebih tertarik dengan pertanyaan yang sejak tadi bersemayam di dalam kepala nya.
"Kamu ini kenapa? tiba-tiba menghilang lalu datang dengan wajah menyeramkan seperti itu"
"Aku mencari mu, ke setiap sudut yang ada di lantai ini, tapi aku tidak bisa menemukan mu sama sekali, kamu sungguh membuat ku seperti orang gila"
"Haa! Mencari ku? Aku hanya ke kamar mandi tadi?"
"Apa yang kamu pikirkan Tuan muda sampai kamu panik seperti itu, aku kamu takut aku pergi dari mu?"
"Iya?"
"Tidak, aku hanya tidak mau mencari mu kalau kamu tersesat dan tidak tahu jalan pulang" Elak nya yang tidak ingin di ketahui tentang isi hati nya.
__ADS_1
"Oooohhh"
Hanya satu kata yang keluar dari mulut Valerie yang entah membuat hati kedua nya seakan di remas oleh tangan tak kasat mata yang siap meremukkan hati nya.
Mereka sama-sama tidak ingin mengungkap kan kalau mereka telah terjebak dengan perasaan mereka sendiri yang membelenggu hati tanpa bisa terucapkan.
Raut sendu terlihat jelas di wajah Valerie yang di sadari oleh Wilmar, dia juga merasakan rasa yang sama dengan Valerie.
Dia ingin mengungkapkan nya tapi dia takut kalau cinta nya bertepuk sebelah tangan, dia tidak tahu dengan pasti tentang isi hati Valerie yang sebenar nya.
Mereka sama-sama menyelami hati mereka masing-masing tanpa terucap dan terutarakan.
Nyatanya menyimpan rasa cinta dalam diam itu menyakitkan, kedua nya sama-sama memiliki ketakutan yang sama yang mereka hindari sejak awal.
****************
Aku sungguh mencintai mu,
Sangat,
Tapi aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi, saat kita benat-benar berpisah,
Bisakah?
Bisakah kamu tetap di sini sampai aku tutup usia.
Wilmar Leka Wiratama
__ADS_1