
Sengatan panas matahari yang menerpa kulit tidak berarti apa pun bagi Wilmar di banding rasa panas dan kesal nya pada Valerie yang mengajak nya berkeliling kota Yogyakarta dengan menggunakan motor bebek milik anak buah nya yang sengaja mengikuti kemanapun mereka pergi.
Saat ini dia yang sedang melakukan zoom meeting terpaksa harus menahan kekesalan nya saat melihat Valerie yang terlihat begitu menggemaskan dengan baju maid ala Jepang yang entah kapan dia membeli nya.
Yang pasti, dia ingin segera mengakhiri meeting yang menurutnya tidak penting, ada yang lebih menarik dari sekedar uang yang akan dia dapatkan dari meeting kali ini.
Jadwalnya yang memimpin meeting kali ini harus nya sang papa, tapi entah mengapa client nya itu malah memilih dia yang tidak ada di tempat dari pada papa nya yang sudah standby di ruang meeting yang kini duduk memperhatikan Fattah yang tengah menerangkan proposal yang telah di rancang untuk kerja sama mereka.
Di ujung ruangan Valerie juga tampak sibuk memeriksa beberapa email yang masuk dari Jefry yang harus dia periksa, dia mengerutkan dahi nya saat membaca satu laporan mengenai proyek yang ada di pantai Utara yang masih dalam tahap survei itu langsung di tanda tangani oleh Ayah nya.
"Halo, bagaimana bisa proyek itu di setujui, lahan di sana masih sengketa akan sangat merugikan kalau kita membangun di sana"
"Saya sudah membicarakan ini dengan Pak Haidar, tapi beliau tetap kekeh melanjutkan proyek tersebut"
"Lalu bagaimana kalau masyarakat meminta ganti rugi dan membawa masalah ini ke jalur hukum!" cemas nya.
"Itu yang saya takutkan tapi Ayah anda sama sekali tidak menghiraukan ucapan saya"
"Baik lah pak, nanti saya hubungi ayah saya" putus nya yang sangat kesal dengan ayah nya, rasa tubuh nya serasa melayang di tambah dengan masalah yang seharusnya tidak ada ini membuat perut nya mengalami mual yang membuat nya berlari ke kamar mandi.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Wilmar yang meninggalkan laptop nya begitu saja.
Valerie hanya menoleh pada Wilmar yang tengah memijat tengkuk lehernya, sentuhan yang di rasakan nya membuat rasa mual di perutnya berangsur membaik.
"Sudah?" Tanya Wilmar lagi saat melihat Valerie tidak lagi merasa mual.
Wilmar membopong nya naik ke tempat tidur dan merebahkan nya di sana, di kecup nya kening Valerie yang terdapat banyak keringat di sana.
"Jangan pergi temani aku dulu" rengek nya yang tidak ingin di tinggal, dia tidak merasa mual saat berdekatan dengan Wilmar, apa lagi bau badan suami nya itu bagai parfum yang membuat nya candu.
"Aku akan menemani mu nanti, tapi setelah aku menyelesaikan meeting nya dulu" ucap Wilmar mengelus rambut terurai milik Valerie.
__ADS_1
"Tapia ku mau sekarang!" Rengek nya yang membuat Wilmar mengurut hidung nya.
"Aku sedang meeting, tolong mengertilah" pinta Wilmar yang tidak ingin di anggap tidak profesional dalam pekerjaan nya.
"Ya" ucap Valerie tanpa ada kata lain lagi, dia menggulung tubuh nya di dalam selimut tebal sambil menangis di dalam sana.
*Aku ini kenapa?.
Kenapa aku seperti tidak ingin lepas dari nya*.
Batin Valerie yang merasa kesal dengan diri nya sendiri yang merasa ingin selalu di dekat Wilmar, hanya untuk meeting saja rasa nya dia sangat tidak ingin berpisah dengan laki-laki itu, bahkan dia melupakan masalah perusahaan nya sendiri.
Yang ada di benak nya hanya ingin selalu berada di samping Wilmar, Wilmar dan Wilmar lagi.
Wilmar yang kembali melanjutkan meeting nya terpaksa harus menyudahi semua nya dan menyerahkan semua pada papa nya, dia juga meminta maaf pada client nya karena sikap tidak profesional nya.
Untung saja, client nya itu memahami keadaan nya di alami oleh Wilmar, bahkan client nya itu malah sempat menggoda nya.
"Saya yang harus nya minta maaf karena ketidaktahuan ini, silakan anda temani istri anda dulu, kalau wanita sudah merajuk kita sebagai laki-laki akan selalu salah di mata nya, bukan begitu Tuan Tama"
Terdengar gelak tawa di sela rapat yang di adakan, Wilmar pun menutup koneksi nya, dia menghampiri Valerie yang menangis segukan.
"Sudah jangan menangis, aku ada di sini" ucap Wilmar sambil mengelus kepala Valerie yang kini menyembunyikan wajah nya di tempat favorit nya.
...****************...
Pagi hari nya Valerie terbangun sama seperti hari-hari kemarin, rasa lemas di sekujur tubuh nya membuat nya tidak bisa berjalan, sekedar ke kamar mandi saja dia harus di bantu.
Dia membangunkan Wilmar dengan wajah yang berada di ceruk leher pria itu, rasa mual nya perlahan mereda saat dia mencium bau tubuh Wilmar.
"Tuan muda bangun" bisik nya di dekat telinga Wilmar.
__ADS_1
"Heeemm"
"Bantu aku ke kamar mandi, tubuh ku rasa nya lemas sekali"
Wilmar yang mendengat itu langsung tersadar dari alam bawah sadar nya, dia membuka mata nya lalu menempelkan punggung tangan nya di dahi Valerie.
"Kamu sakit, kita ke rumah sakit saja ya, kamu selalu pucat dan lemas seperti ini saat bangun tidur"
"Antarkan aku ke kamar mandi" pinta nya dengan wajah sayu.
Dengan cepat Wilmar mengangkat tubuh Valerie yang kini mengalungkan ke dua tangan nya ke leher suami nya, namun saat mereka akan masuk ke dalam kamar mandi Valerie meminta Wilmar untuk menuju koper yang dia taruh di ruang ganti, Wilmar menurunkan Valerie di sana.
Dia mencari alat yang bisa menjawab semua pertanyaan yang menghantuinya akhir-akhir ini, dia membeli nya saat berada di rumah sakit saat dia di rawat di Jepang waktu itu, dia meminta bantuan suster yang memeriksanya untuk membelikan nya alat tersebut.
Namun setelah alat itu berada di tangan nya dia malah lupa menggunakan nya karena kesibukan nya dengan suami tampan nya itu.
Saat ini dia tidak lagi bisa menahan rasa penasaran yang ada di hati nya, dia harus memastikan semua nya, dia mencurigai ada yang tidak beres dengan tubuh nya.
Dia sangat ingat betul bahwa dia alergi daging-dagingan, lalu kemarin dia dengan lahap nya memakan semua itu.
Wilmar kembali menghampiri nya yang masih berdiri di tempat nya, membopong nya masuk ke dalam kamar mandi, dia mengatakan kalau Wilmar tidak perlu menunggu nya, sikap keras kepala nya memaksa Wilmar kembali merebahkan tubuh nya dengan bergulung selimut di ranjang yang menjadi tempat pertempuran nya tadi malam, dia menerawang semua yang terjadi dengan Valerie yang aneh akhir-akhir ini.
"Aaahh...."
Wilmar membuka mata nya saat mendengar teriakan Valerie yang kini sudah berada di samping ranjang dengan sebuah alat yang berada di tangan nya.
Dia menerima alat yang di sodorkan oleh Valerie dengan senyum bangga nya, di tambah lagi tulisan di sana membuat senyum nya berkembang sempurna.
F
__ADS_1