
Pagi hari Valerie terbangun dari tidurnya, namun dia menemukan Wil di samping nya, dia mencuci muka, dan menggosok gigi, dan keluar mencari suami nya.
Valerie tidak menemukan siapa di dalam apartemen itu selain diri nya sendiri, dia mendekati meja makan, ada makanan di sana, yang ternyata itu adalah sarapan yang di buat oleh Wil untuk nya, ada note dari Wil yang mengatakan bahwa dia sudah berangkat ke kantor karena meeting dadakan.
Juga ada paperbag di sana berisi baju kantor yang di belikan oleh Wil, dan beberapa baju rumahan di dalam nya, Valerie menyelesaikan sarapan nya bergegas mandi sebelum dia ke kantor milik nya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Wil dia tengah menyakinkan dewan direksi dan juga para investor yang memprotes turun nya harga saham yang mencapai dua puluh persen hanya dalam satu malam saja, itu membuat Wil sangat frustasi di tambah lagi tatapan tak bersahabat dari Papa nya.
Untung saja dia bisa meyakinkan semua anggota yang hadir untuk mempercayakan semua pada nya.
Wil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, dia duduk di kursi kerja nya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat, selama dia memimpin perusahaan belum pernah saham turun sampai sebanyak itu hanya dalam waktu satu kali dia puluh empat jam.
Ponsel di saku nya berbunyi, ada panggilan dari salah satu rekan kerja nya yang meminta nya menemuinya secata pribadi saat ini juga, dia yang menolak permintaan terakhir pada awal nya terpaksa mengiyakan karena berita yang akan di sampaikan oleh rekan nya itu menyangkut kepentingan perusahaan.
Tanpa menunggu lagi, Wilmar keluar dari kantor nya menuju tempat yang di minta oleh rekan nya tersebut.
Butuh waktu setengah jam untuk Wil sampai di sana, dia memarkirkan mobilnya di salah satu bengkel, yang langsung di hampir oleh salah satu montir yang memintanya untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah kiri.
Tanpa menjawab Wil segera masuk dan mendapati rekan kerjanya itu duduk di sana, dengan raut wajah yang menegang.
Rekan nya itu langsung menyodorkan berkas berisi surat kerja sama yang dia tanda tangani dengan Alzier TBK, namun hingga kini dana yang dia masuk kan ke perusahaan itu tidak kunjung kembali laba nya.
Dia sudah beberapa kali menghubungi sekretaris dari pemilik perusahaan tersebut namun tidak ada respon sama sekali, saat dia berkunjung ke perusahaan pun dia di tolak mentah-mentah.
Wil menjadi pendengar untuk saat ini, karena dia sama sekali tidak faham dengan apa yang di inginkan oleh rekan kerja nya.
"Katakan apa yang kamu inginkan, dan apa untungnya buat ku sampai kamu meminta ku sendiri yang datang menemui mu"
"Saya menemukan bukti kecurangan yang di lakukan oleh salah satu staf Tuan yang membocorkan rahasia perusahaan"
__ADS_1
"Saya akan berbagi informasi ini kepada anda, asal anda bersedia menolong saya, memulihkan keadaan perusahaan"
Wil pun menyanggupi nya, jika hanya membantu perusahaan kecil itu, dia akan sangat mampu meski kondisi perusahaan nya sendiri sedikit goyah.
Wilmar mengeratkan gigi nya saat tahu salah satu manager nya yang melakukan kecurangan untuk membantu Rendra Alzier, untuk menghancurkan nya.
"Awas saja kau, aku akan membuat mu sengsara sampai tidak bisa bangkit lagi"
"Tidak semua itu Tuan, dia juga mempunyai bukti saat para klien yang itu sedang bermalam dengan wanita yang tak lain adalah istri nya sendiri"
Kepala Wil berdenyut hebat saat mendengar nya, kenapa kelakuan mereka semakin hari semakin liar saja, jadi selama ini untuk melancarkan bisnis suami nya itu, wanita yang melahirkan nya itu sampai harus menjual diri begitu.
Hanya untuk melihat kehancuran nya dan papa nya, orang yang seharusnya dia panggil Mama itu rela melakukan apa saja.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Wil
"Karena salah satunya Tuan"
"Apa kamu punya bukti nya?"
Rekan kerja Wil pun memberikan ponsel nya yang terdapat foto dirinya yang tengah saling memeluk satu sama lain tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Wajah laki-laki tertangkap kamera dengan jelas, sedangkan wanita itu memalingkan wajahnya dengan menenggelamkan wajahnya di leher pria tersebut.
Setelah mencapai kata sepakat, Wil keluar dari sana menuju kantor nya sendiri, dia menuju ruangan Bima asisten pribadi papa nya.
Bima yang sedang ada di dalam mengerjakan tugas nya pun mengalihkan pandangannya saat pintu di buka tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Wil duduk di sofa yang ada di sana di ikuti oleh Fattah yang kebetulan satu lift dengan Wil tadi, tanpa basa-basi Wil langsung memberikan bukti yang dia dapat.
"Sudah ku duga"
__ADS_1
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bima saat tahu siapa tikus di perusahaan, mereka pun membicarakan rencana yang akan mereka gunakan untuk menangkap tikus tersebut.
Mereka membicarakan rencana itu sampai larut malam, di dalam ruang kerja milik Bima.
Obrolan mereka terhenti saat panggilan dari masuk di ponsel milik Wil, dan tertera nama Valerie di sana, dengan cepat dia mengangkat panggilan tersebut.
Wil hanya bisa menggaruk kepalanya saat mendengar ocehan panjang kali lebar dari Valerie yang saat ini tengah menunggu nya di apartemen milik nya.
Dia langsung beranjak dari duduk nya, tanpa mengatakan apapun pada mereka yang ada di sana, dia seperti seorang yang tengah ketinggalan bis pemberangkatan terakhir yang harus menunggu keesokan harinya.
Fattah juga Bima saling menatap satu sama lain saat melihat tingkah Wilmar, ada rasa geli dan juga rasa bahagia di sana, di mata mereka Wilmar adalah definisi suami takut istri.
"Seperti dia sudah mendapatkan pawang nya" kata Bima menatap ke arah pintu yang tidak di tutup oleh Wil.
"Saya harap begitu Om, saya akan lega dia mereka benar-benar melupakan perjanjian mereka" timpal Fattah penuh harap.
"Ya, semoga saja, ayo kita pulang, putri ku bisa ngamuk kalau tahu aku tidak pulang"
Mereka keluar dari sana, mengikuti langkah Wil yang sudah berada di depan pintu apartemennya.
Dia menekan tombol password, dns pintu terbuka secara otomatis yang langsung di sambut oleh tatapan menyeramkan dari Valerie yang menunggu nya sambil berkacak pinggang.
"Kamu memasak untuk ku" sapa Wil yang berusaha mengalihkan perhatian Valerie.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Valerie, dia tetap berdiri di tempat nya tanpa bergerak sedikitpun.
"Ini pasti enak" ucap Wil sekali lagi.
"Pasti lebih enak hidangan di luar rumah, sampai membuat mu lupa jalan pulang"
Eeh.
__ADS_1