
Valerie mengangkat kepala nya saat suara pemilik benda yang tengah berada di dalam mulut nya itu menginterupsi kegiatan nya.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku bangun kan saja adik kecil mu"
Wilmar mendesis menengadahkan kepala nya saat lidah tak bertulang itu dengan lembut membelai kepala jamur nya, dia membiarkan Valerie melakukan segala kegiatan nya sampai di mana dia merasa tidak tahan lagi dengan semua itu.
Dia pun bangun dari telentang nya, mendorong Valerie dengan ciuman panas nya, Valerie tergolek pasrah di bawah kukungan suami nya, dia mendesis kan suara yang membuat Wilmar semakin menegang, dengan sedikit kasar Wilmar menyentak kemaskulinan nya masuk ke dalam gua yang sudah sangat ingin dia masuki.
"Aaaaaahhhh.....ssssttt...."
Valerie menatap Wilmar yang tengah berada di atas nya dengan mulut yang sedikit terbuka, tatapan sayu nya semakin membuat Wilmar bersemangat menambah kecepatan nya.
"Aaahh...teerruuusss....."
"Seperti iniii....aahh...sayang kamu sempittt...."
"Pelaaannn....aaahhh..."
Valerie semakin tidak bisa Manahan suara nya saat Wilmar menambah kecepatan nya, dia sudah mencapai puncak nya dua kali, tapi suami nya itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyemburkan cairan nya.
"Ini kan yang kamu mu heeemm"
Valerie mengangguk sambil memejamkan mata nya, rasa kantuk nya datang bersamaan dengan gelombang yang menggulung ke dua nya.
Lenguhan panjang menyudahi kegiatan pagi yang cukup menguras tenaga, kedua nya sama-sama terlelap tanpa membersihkan diri nya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
13.00
Wilmar berjalan tergesa menuju ruangan nya, meeting akan di lakukan sebentar lagi, dan dia yang di minta untuk memimpin jalan nya meeting, namun sama sekali dia belum membaca isi dari proposal yang akan di bahas kali ini.
Brak...
Pintu di buka secara kasar oleh Wilmar, membuat empu nya ruangan yang tengah serius dengan laptop nya terjingkat kaget saking keras nya.
"Apa kau sudah gila kak" kesal Fattah bahkan dia sampai berdiri dari duduk nya.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, mana proposal nya"
"Aku pun tak tahu, aku juga baru saja datang satu jam yang lalu" ucap nya lirih dengan mata yang melirik ke arah Wilmar yang tengah menatap tajam ke arah nya.
"Aku kesiangan, karena di suruh orang untuk mencari bubur untuk istri nya yang sedang hamil muda"
Wilmar tidak mengindahkan ocehan Fattah yang sama sekali tidak penting, dia berkacak pinggang seakan ingin menerkam Fattah saat itu juga, apa salah Fattah sebenarnya, tidak ada bukan, dia sendiri yang keasyikan menikmati indah nya dunia sampai melupakan pekerjaan nya.
"Tuan Wil, anda di suruh menghadap Tuan Tama saat ini juga" ucap seorang OB yang mendapatkan perintah dari Bima.
Wilmar mengibaskan tangan nya, mengusir pergi OB tersebut , dia menarik Fattah yang tengah mengetik sesuatu di laptop nya.
"Apaan sih kak"
"Ikut aku"
Fattah pun terpaksa mengikuti Wilmar menuju ruang Papa Tama yang berada di dua tingkat lebih tinggi dari ruangan mereka, kedua nya berjalan beriringan dengan menunjukan kewibawaan nya.
Wilmar dan Fattah saling menunjukan sikap profesional nya saat berada di lingkup perusahaan, berbeda lagi kalau mereka berada di rumah, kedua nya bak seperti saudara kandung yang akan membuat Papa Tama berteriak kesal saat mereka berkumpul di rumah.
Kedua nya masuk ke dalam ruangan yang sangat luas itu, ternyata di sana sudah ada Papa Tama dan Bima yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
Tuan Tama tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh besan nya itu, kenapa dia justru akan membuat diri nya kerepotan di kemudian hari dengan mengambil proyek di lahan yang masih bersengketa itu.
"Fattah, utus beberapa orang kita untuk menyusup ke perusahan mertua kakak mu itu, aku ingin tahu apa yang sebenar nya terjadi"
"Baik Tuan"
"Aku tidak ingin menantu ku cemas memikirkan perusahan yang baru saja bangkit itu kembali hancur di tangan papa nya sendiri"
"Aku akan ke sana mengecek nya langsung"
"Temani Wilmar pergi urusan kantor aku dan Fattah yang akan mengurus nya, Bima" tunjuk nya pada Bima.
"Baik Tuan"
Keempat nya pun keluar dari ruangan itu, menuju ruang meeting, di mana rekan bisnis nya baru saja datang dan terjebak kemacetan karena pohon tumbang menghalangi jalan.
__ADS_1
Wilmar terlihat cemas saat meeting yang di jadwalkan selesai jam empat itu ternyata belum selesai juga sampai saat ini, dia tiba-tiba mengkhawatirkan istri nya yang sejak tadi tidak membalas pesan dari nya, dia tadi hanya meninggalkan tiga gelas susu yang dia simpan di samping ranjang.
Setelah satu jam lama nya, akhirnya meeting itu berakhir dengan kontrak kerja yang telah di sepakati, Wilmar yang ingin kembali ke apartemen pun menghentikan langkah nya saat Papa nya itu meminta dokumen yang tersimpan di brangkas meja kerja Wilmar.
Dia pun kembali masuk ke dalam ruangan pribadi nya, dia melongo saat pintu ruangan nya terbuka dan mendapati Valerie yang sedang duduk di kursi kerja nya.
Perasaan dongkol nya langsung hilang begitu saat, dia mengukir senyuman indah untuk istrinya yang tampak pucat.
"Kamu di sini?" Tanya Wilmar yang kini mencium kening Valerie.
"Kamu sudah makan?"
Gelengan kepala membuat Wilmar menghelakan nafas nya, apa yang harus dia lakukan agar istri nya itu bisa mendapatkan asupan makanan sehat, selain susu kehamilan dan juga.....
(Isi sendiri, gak usaha manja....)
"Mau makan apa?"
"Tidak mau, aku hanya ingin tidur di pelukan mu" manja nya yang kini berdiri dari duduk nya.
"Sebentar, aku ingin mengambil berkas yang di minta papa, setelah itu kamu bisa tidur lagi"
Mendengar nama Papa mertua nya di sebut bulu kuduk Valerie langsung merinding, rasa mual di perut nya mulai bergejolak meski tidak sampai memuntahkan bubur yang tadi baru saja dia makan.
"Tuan muda..." panggil Valerie yang sudah terbiasa memanggil suami nya dengan sebutan itu.
Sementara Wilmar dia tidak menghiraukan Valerie yang masih saja tidak mau merubah panggilan atas diri nya, dia juga ingin di panggil seperti pasangan pada umum nya, namun sepertinya Valerie sama sekali tidak mengerti keinginan nya.
Merasa di abaikan, Valerie memanggilnya sekali lagi, dengan panggilan yang sama, dan juga respon yang sama, Wilmar tidak bergeming dari sana, sampai dia menemukan berkas yang dia cari, bertepatan dengan Papa nya memasuki ruangan nya.
"Stop pa, jangan masuk"
"Eehh....." Tuan Tama pun menghentikan langkah nya saat mendengar larangan dari anak nya itu, dia bisa melihat bagaimana menantu nya yang dengan sigap menutupi hidung nya, tangan nya mencari wewangian yang bisa menyamarkan bau parfum papa mertua nya.
Wilmar pun menghampiri papa nya, dia menyerahkan berkas yang di minta papa nya tanpa mengatakan apa pun Tuan Tama pergi dari sana, dia tidak ingin membuat perempuan hamil itu kembali merasa mual dengan bau parfum nya.
Dia menghentikan langkah nya saat menyadari satu hal.
__ADS_1
"Bukan kah...."