
Satu Minggu telah berlalu, selama itu pula komunikasi di antara Wilmar dan Valerie kembali seperti saat awal pernikahan mereka, Wilmar hanya menghubungi Valerie jika waktunya baby Jenno tidur dan mandi sementara Valerie dia juga melakukan hal yang sama.
Pagi ini seperti biasa Wilmar menemani buah hati nya yang sedang mandi di dalam bathup mini yang di pasang di kamar nya, semua berjalan seperti biasa tanpa pembicaraan di antara dua orang itu.
Lagi-lagi panggilan terputus saat baby Jenno terlelap dalam gendongan Valerie, Wilmar menyugar rambutnya kebelakang, dia mengacak-acak rambut nya, suara benda berjatuhan terdengar di sana, kertas berhamburan di lantai yang penuh dengan pecahan kaca.
Wilmar keluar dari ruangan tanpa mempedulikan tatapan bawahannya yang menatap heran diri nya, tidak biasa wajah atasan mereka menyeramkan seperti itu, ini baru pertama kali nya mereka melihat kemarahan dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, bahkan kemarin saat memergoki salah satu manager yang melakukan penggelapan dana yang berujung mendekam di penjara itu, atasan mereka masih tampak tenang meski kilatan marah terpancar di wajah nya.
Namun kali ini ....
Apa mungkin ada yang lebih parah dari ini ....
Tapi apa mungkin ....
Bisik-bisik mereka terhenti saat seseorang yang merupakan tangan kanan pemilik perusahaan berdehem di belakang mereka, semua orang yang tadi nya berkumpul membubarkan diri nya, sebagian dari mereka pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Fattah yang tidak mengetahui apapun mengerutkan dahi nya, dengan tingkah para karyawan di sana, dia menunjuk seseorang untuk mendekat, suara tegas nya membuat wanita dengan jilbab biru itu menunduk takut pada nya namun wanita itu tetap menghampirinya masih dengan kepala yang tertunduk.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Sa-saya tidak tahu Tuan" jawab nya terbata karena dia memang benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi, tadi dia sedang mengecek laporan saat seisi lantai heboh dengan Wilmar yang keluar dengan pakaian lusuh dan tampang garang nya.
Fattah yang tidak ingin membuang waktunya berlalu dari sana menuju ruang pribadi wilmar, dia membuka pintu nya dan masuk kedalam.
"Tuaann..."
Fattah membulatkan mata nya saat melihat ruang kerja kakak angkat nya yang bagai kapal pecah itu, semua berhamburan di atas lantai, bahkan berkas yang akan di jadikan bahan presentasi setengah jam lagi itu juga basah.
Dia memijat pangkal hidung nya melihat itu semua, dia menghubungi seseorang untuk membersihkan ruangan yang sangat tidak layak di sebut sebagai ruangan kantor.
Fattah yang ingin keluar dari sana merogoh saku celana saat ponsel nya berbunyi, nomor salah satu anak buah nya tertera di sana.
"Ada apa?
"Dimana?"
"Jangan biarkan dia pergi dari sana, aku akan segera kesana!"
Fattah berlari keluar dari ruangan Wilmar, yang ada di pikiran nya hanya Wilmar sampai dia menabrak seseorang saking panik nya.
__ADS_1
"Aahh...."
Bruuk...
"Maaf saya sedang buru-buru, kamu baik-baik saja kan"
"Iya Tuan tidak apa, lain kali hati-hati"
Fattah yang mendengar nya mengangguk, dia segera pergi ketempat di mana Wilmar berada, dia melajukan mobil nya tanpa pikir panjang, suara klakson mobil tidak dia hiraukan, beberapa kali dia juga menerobos lampu merah sampai dia di kejar oleh polisi yang sedang berjaga.
Merasa di ikuti oleh kendaraan polisi, dia menghubungi seseorang lagi untuk membantu nya lepas dari kejaran petugas baju Pramuka tersebut.
Mobil yang di kendarai nya terparkir sembarang di salah satu tempat latihan kebugaran, Fattah keluar dari sana di sambut oleh anak buah nya yang bertugas menjaga Wilmar.
Dia berlari masuk kedalam setelah mengetahui di mana Wilmar berada, dia menghampiri Wilmar yang sudah penuh dengan peluh di sekujur tubuh nya, beberapa anak buah nya terlihat tumbang di lantai setelah bertarung dengan Wilmar.
"Kak..."
"Pergilah Fattah, sebelum aku meremukkan tulang mu"
__ADS_1
Ting.
"Kak ini .... !"