
Sungguh Valerie benar-benar ingin menenggelamkan Wilmar ke dalam paling Mariana, sakit kesal nya, dia masih di bersihkan namun suami nya itu sudah mengatakan ingin memberikan adik untuk putra mereka yang belum dia ketahui nama nya.
"Siapa nama dia Tuan muda?" tanya Valerie Valerie yang tidak mempedulikan ucapan Wilmar.
"Jenno, Jenno Leka Wilmar"
"Bagaimana? Kamu suka?"
"Halo baby jenno" sapa Valerie pada putra nya.
Ibu dan bayi itu yang sudah selesai di bersihkan pun di bawah keruang yang berbeda, untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.
Kini di ruang perawatan Wilmar sedang memejamkan mata nya, begitu juga dengan Valerie yang kelelahan, sementara bayi nya masih berada di ruang inkubator bersama beberapa bayi yang lain.
Siang telah menjelang kini waktu nya baby jenno kembali menyusu pada ibu nya, bayi mungil itu tampak begitu antusias saat menyesap sumber nutrisi nya, sementara Wilmar yang baru terbangun hanya menatap iri pada anak nya itu, dia pun menghampiri kedua nya dan duduk di pinggiran ranjang.
"Itu kan punya Daddy, Boy"
Bayi baru lahir itu pun seakan tahu dengan apa yang di gumam kan ayah nya, entah sengaja atau tidak tangan kiri nya memeluk bongkahan daging empuk tempat dimana sumber kehidupan nya berasal.
Wilmar pun mendengus saat tahu putranya itu malah mengejek nya, sementara Valerie dia sama sekali tidak mempedulikan Wilmar, namun rasa lapar nya membuat dia tidak tahan.
__ADS_1
"Tuan muda aku lapar"
Kini giliran Wilmar yang tidak merespon Valerie, sampai kapan istrinya itu akan terus memanggilnya dengan sebutan Tuan muda yang sangat menjengkelkan di telinga nya.
Sadar akan kesalahan nya Valerie pun mengulang ucapan nya dengan panggilan yang mungkin biasa membuat kekesalan suami nya itu mereda.
"Sayaaaaangg, aku lapar" rengek nya dengan mata sayu yang merayu.
"Mau makan apa"
"Apa pun itu, yang penting bisa makan"
"Boleh"
"Aku akan meminta Fattah untuk membelikan...."
Deg....
"Jangan bilang kalau kamu lupa belum mengabari siapa pun?"
"Iya"
__ADS_1
Wilmar pun langsung menghubungi ayah dan juga asisten nya, tak lupa dia juga menghubungi mertua nya yang sangat tidak ingin dia temui karena ulah mereka sendiri, dia yang ingin melupakan tentang perjanjian itu, urung karena sikap serakah kedua mertua nya itu.
Bahkan tanpa sepengetahuan istrinya, jabatan ahli waris telah di pindahkan menjadi milik adik nya yang baru saja sembuh dengan segala pengorbanan istri nya.
Tapi...
Untuk kali ini, Wilmar melupakan segala dendam dan amarah nya, dia tidak ingin hari bahagia nya hancur, dia akan tetap seperti bisa nya berlakon tidak mengetahui apa pun yang di lakukan oleh mertuanya seperti apa yang di katakan oleh papa nya.
****************
"Dasar anak nakal, bisa-bisa nya istri ku melahirkan tapi tidak mengabari papa" sembur Tuan Tama yang baru saja membuka pintu dengan tangan yang membawa bubur serta nasi untuk anak dan menantunya.
"Baru datang sudah marah-marah" keluh Wilmar yang tidak terima.
"Wah, cucu ku tampan sekali" ucap nya sambil mengelus pipi baby Jenno yang sedang terlelap.
"Aku kan ayah nya, jadi sudah pasti mirip dengan ku" bangga Wilmar sambil menyuapi bubur untuk Valerie.
"Kamu baik-baik saja kan Valerie, anak nakal ini tidak menyusahkan mu kan"
"Tidak pa, hanya saja....."
__ADS_1