
Wil menggulung tubuh di dalam selimut dengan posisi tengkurap, dengan jengkel yang luar biasa, bagaimana tidak, di yang sedang on fire terpaksa harus menghentikan kegiatan yang karena tamu tak di undang datang tiba-tiba.
Sedangkan Valerie dia merasa bersalah karena melupakan masa periode nya, kini dia duduk di samping ranjang suaminya sambil mengelus rambut nya.
"Mau ku bantu dengan cara lain?" tawar nya yang tidak tega melihat suaminya seperti itu.
Tidak ada pergerakan atau apa pun dari Wil dia hanya diam, dengan nafas yang memburu, apa lagi usapan tangan Valerie semakin memercik api yang sedang berkobar dalam jiwa nya.
Dengan sekali gerakan Wil membalikkan tubuhnya, dia menarik tengkuk leher nya, ******* dan menyesap nya di sana, Valerie yang terkejut mencoba mengimbangi permainan suami nya, dia memukul dada Wil saat merasa pasukan udara di paru nya menipis.
Wil menjauh kan wajah nya dari Valerie dan mengelus pipi nya.
"Bernafas lah, apa kamu lupa cara nya"
Wil kembali menyatukan bibir mereka sebelum Valerie memprotes nya, ciuman mereka kali ini lebih dalam lagi, bahkan tangan Wil menarik lengan Valerie dan mengalungkan nya di leher, tangan nya menelusuri pipi hingga leher Valerie yang membuat istri nya itu tidak tahan untuk tidak mengeluarkan ******* di sana.
"Kamu harus bertanggung jawab" lirih nya di telinga Valerie yang membuat istri nya itu bergidik ngeri, apa lagi sapuan lidah Wil di telinga nya membangkitkan sesuatu yang ada dalam diri nya.
"Aaaahhhh.....sudahhhh.....aaahhh..... hentikan" rengek Valerie.
"Bukankan nya kamu menawarkan bantuan"
Wil menurunkan gaun malam Valerie yang tanpa penyangga, dia menelusuri nya sampai di titik puncak kecil yang sudah mengeras di sana, di jilati nya puncak itu dengan gerakan memutar dengan sesekali menyesap nya.
"Aaaaahhhhh...... hentikaaaaannn......Aaaahhhh"
Membuat Valerie kalang kabut di buat nya, apa lagi saat milik suaminya itu sudah turn on dan siap untuk mengobrak-abrik pertahanan tubuh nya.
"Aaaakkkhhhh" teriak Valerie saat Wil membawa nya ke dalam kamar mandi, apa yang di inginkan oleh suaminya itu.
"Aaaahhkkk" Valerie terpekik kaget saat Wil menurun kan nya di bathtub.
__ADS_1
"Ledakan dia, kau harus bertanggung jawab" Valerie merutuki diri nya yang tadi menawarkan bantuan, kini dia hadapan nya terlihat dengan jelas.
Ternyata itu yang selama ini menggempur nya, hingga dia nyaris tidak sadarkan diri.
Besar, panjang dan berurat, jangan lupakan semak belukar nya yang tertata sedikit berantakan di sekeliling nya.
"Aaaahh....Valerie....yaaaaa.....terus....aaaahhhh" Wil terus meracau saat tangan lembut Valerie memainkan adik nya naik turun seirama.
"Aaaaahhhhh..... Valerie"
π¦π¦π¦
Butuh waktu sekitar kurang lebih tiga jam untuk mengeluarkan isi dalam adik kecil suaminya.
Mereka keluar dari sana dengan senyum kelegaan di bibir Wil, Valerie mencebikkan bibir nya saat itu.
Tangan nya terasa pegal karena harus bekerja selama itu, dia berpikir keras dengan semua itu, kenapa bisa lama sekali hanya dalam satu kali ledakan saja, memang apa beda nya, tidak ada bukan, lantas.....
Tuk tuk tuk.
"Besok jepit saja dengan pintu kamar mandi" kesal nya.
"Tidak akan bisa" sanggah Wil.
"Kenapa masih bengong, kamu sudah tahu seberapa besar dan panjang nya kenapa masih memikirkan nya, itu yang membuat mu menjerit nikmat akhir-akhir ini"
"Aaahhhkkk sakiiit" keluh Wil saat Valerie mencubit perut nya.
"Rasakan itu" ucap Valerie yang langsung masuk ke dalam rumah ganti, dia terpaksa mandi lagi bersama suami nya saat selesai menyemburkan cairan milik Wil.
Valerie menaiki ranjang tanpa memperdulikan Wil yang masih menggunakan handuk nya, dia sama sekali tidak mempedulikan suaminya itu yang menaikkan sebelah alis, saat melihat tingkah nya.
__ADS_1
Wil celingukan mencari baju ganti nya yang ternyata tidak di siapkan oleh Valerie, dia berjalan mendekati ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, dengan handuk basah nya dia masuk ke dalam selimut, Wil mendekati Valerie lalu memeluknya.
Valerie yang awal tidak menghiraukan suaminya itu tiba-tiba memekik saat menyadari kain basah yang menyentuh pahanya, dia membuka selimut nya dan mendorong Wil menjauh.
"Lihat kasur nya basah, bagaimana bisa kamu naik ke atas ranjang dengan handuk basah" marah Valerie.
"Aku tidak menemukan handuk ku" jawab Wil dengan tampang tidak bersalah nya membaut Valerie ingin sekali mencakar wajah nya.
Dia beranjak dari tempat tidur menuju ruang ganti dan mengambil baju untuk suami nya, Valerie meletakkan nya di atas meja kecil yang ada di samping suami.
"Jangan bilang kalau kamu lupa bagaimana cara memakai baju" desis nya.
Sementara Wil dia mengulum senyum saat melihat wajah jengkel dari istri, sejak pernikahannya, dia memiliki hobi membuat istri nya itu marah atau sekedar kesal terhadap nya.
Wil yang tak kunjung mengganti baju nya itu membuat Valerie sekali lagi geram terhadap suaminya itu.
Tanpa berkata apa pun Valerie langsung melepaskan sprei yang basah akibat ulah Wil yang entah sengaja atau tidak mengerjainya malam-malam, ini sudah jam sebelum malam dan suaminya itu masih tidak ingin tidur.
Melihat Valerie yang benar-benar marah membuat Wil langsung berdiri dari duduk nya, dia mencekal lengan Valerie, menuntun nya duduk di sofa, dia melepaskan handuk nya di hadapan Valerie yang langsung memalingkan wajahnya, apa-apaan suaminya itu, seenak nya saja memamerkan adik kecil nya yang sedang tertidur pulas.
Wil meraih baju dan mengenakan nya, setelah itu dia mendudukkan tubuh nya di sofa bed yang ada di sana, membuka nya menjadi lebih lebar agar muat untuk mereka berdua berbaring di sana.
"Ayo tidur" ajak nya saat Valerie masih duduk di tempat nya.
"Tidur atau aku tiduri" ancam nya saat Valerie hendak memprotes nya, Valerie langsung masuk ke dalam dekapan Wil yang sudah merebahkan tubuhnya di sana, dia tidak ingin membangun singa itu lagi, tangan nya masih terasa kebas saat tadi memainkan Laras panjang itu.
Mereka tidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain hingga pagi hari, Valerie yang bangun terlebih dahulu merasakan sesak saat kaki dan tangan Wil memeluk nya dengan erat, seakan takut dia tinggal kan.
Di tatap nya wajah laki-laki yang sudah menjadi suami nya itu, rahang tegas, kulit sawo matang, dengan hidung yang sedikit mancung menambah ketampanan nya.
Dia yang belum pernah merasakan indahnya pacaran itu merasa bahwa perlakuan Wil terhadap nya bisa di katakan baik, tidak pernah suaminya itu menyakiti nya atau membentak nya, meski hubungan mereka terjadi tanpa cinta, dia terus menatap nya sampai tidak sadar kalau tangan nya membelai rahang pria yang masih tertidur itu.
__ADS_1
"Sudah puas menatap ku"
Eeehhhh...