
Bagian 9 Lintang
Lintang, Pengendali.
AKU telah kembali ke kabin kecil ini. Mataku me- ngerjap untuk menyesuaikan pandangan dengan cahaya lampu ruangan. Aku masih di atas tempat tidur, kemudian, turun ke sofa dan bersila di sana. Hangat.
Makan malam mungkin udah menanti di pondok depan tapi pisang goreng sore tadi masih membuat- ku kenyang. Jadi, aku memutuskan untuk menerus- kan bacaanku sambil menunggu sampai aku benar- benar lapar.
Ponselku berdenting. Tadi kuletakkan benda itu di atas meja. Kuberanjak untuk menggamit ponsel dan melihat ada pesan Whatsapp dari Papa.
Bisa kebetulan begini, ya? Ketika aku memikir- kan makan malam, Papa mengirimkan pesan mena- nyakan itu.
Aku menghela napas sambil kembali ke sofa dan mulai membuka halaman pertama buku. Tetapi, pi- kiranku nggak bisa diajak berkonsentrasi pada tulis- an di buku. Aku malah memikirkan Felixia dan sebe- rapa besar kemungkinan rencana ini akan berhasil.
Mungkin, aku harus cerita sedikit tentang Felixia. Dia salah satu alter yang dulu pernah menghuni sis- tem. Karakternya sangat buruk. Dia pemarah, suka menyerang orang dengan kata-kata kotor bahkan menyakiti secara fisik. Aku enggan menceritakan Fe- lixia. Karena dia mengingatkanku pada masa lalu yang sangat-sangat kelam.
Sebelum berkonsultasi dengan psikologku seka- rang ini, aku dan siapa pun orang ahli di bidangnya yang pernah menanganiku, nggak tahu apa yang se- dang terjadi padaku. Tetanggaku bilang, Bu Gea pu- nya anak gila. Itu saja yang pernah sampai di telinga- ku. Rasanya menusuk. Mohon maaf, tapi—katanya— aku pernah berusaha menyerang orang itu. Itu..., itu bagian terenggak enak untuk dikenang.Aku juga pernah—katanya—beberapa kali men- coba bunuh diri. Ini hal terbangsat. Benci mengingat bahwa aku—minimal tubuhku—pernah melakukan- nya. Tetapi nama Felixia pasti akan membawa semua itu kembali ke kepalaku.
__ADS_1
Enam tahun lalu, sebelum aku menemukan pe- nyebab mengapa aku bisa begini, aku sering mende- ngar suara-suara. Aku sering lupa kejadian yang baru saja terjadi sampai orang-orang di sekitarku ikut stres menghadapiku.
Kemudian, setelah perjalanan panjang untuk me- nyembuhkanku, Tante Lea menemukan psikolog mu- da dan penyabar itu. Dia adik dari kawannya di par- tai. Namanya Aisyah Humaira. Aku memanggilnya Mbak Icha. Dia bukan psikolog yang memiliki penga- laman berpuluh-puluh tahun seperti yang udah ca- pek menanganiku—tapi belum menemukan ‘apa se- benarnya’ yang terjadi padaku. Dia baru membuka praktik dua tahun. Namun, dia cerdas dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teruta- ma di bidang psikologi. Dia wanita energik yang nggak pernah mau berhenti belajar.
Wanita manis berjilbab itu mengobservasiku de- ngan sabar. Dia mendengarkanku dan menguji geja- la-gejala pada diriku. Yang menyusahkan para psiko- log dan psikiater itu menyimpulkan adalah kondisiku yang peka terhadap hal gaib. Mereka ragu apakah aku Skizofrenia atau DID.Namun, Mbak Icha menggunakan berbagai pen- dekatan dan percobaan. Dia selalu semangat dan sa- bar. Dia juga nggak memperlakukanku sekadar pasi- en saja. Dia bahkan membuat suasana pertemuan seperti meet up dengan sahabat. Sekitar lima sampai enam bulan kemudian, aku agak lupa pastinya, hasil- nya keluar. Aku menderita Dissociative Identity Di- sorder alias DID atau Gangguan Disosiasi Identitas. Mungkin Multiple Personality adalah istilah yang le- bih terkenal.
Sejak saat itu, aku diberikan trigger oleh Mbak Icha untuk mulai berkenalan dengan siapa-siapa saja yang tinggal di ‘kepala’. Alih-alih menepis suara- suara asing dalam kepala, aku diberi semangat untuk mencari tahu pemilik suara-suara itu lebih dalam. Sejak itu pula, aku sadar suara di kepalaku masing- masing ada sosoknya. Dan, Sistem Rumah Pohon— nama yang kuberikan sendiri untuk inner world di kepalaku—semakin nyata terbentuk dan tersusun lebih baik. Itu membuat kepalaku jarang lagi merasa- kan pusing luar biasa. Itu membuat anxiety dan panic attack yang acap kali kurasakan berkurang.
Aku baru ‘ngeh’ mengapa aku sering terserang amnesia sesaat. Orang lain di sekitarku mengatakan aku melakukan sesuatu, padahal aku merasa nggak mungkin berbuat seperti itu. Akhirnya sejak saat itu, aku pun jadi tahu sikap-sikap jelekku yang pernah diceritakan orang lain itu ternyata ulah Felixia, atau alter berkarakter buruk lainnya.Setelah dia membuat Mama semakin depresi, la- lu dia juga mengganggu beberapa alter di Rumah Pohon, serta hampir beberapa kali melayangkan nya- waku, kami sepakat untuk membuang Felixia ke Hu- tan Larangan. Dia memohon untuk nggak dibuang ke sana. Dia menjerit-jerit dan memberontak di geng- gaman Bang Jaka.
“Kalian harus ingat! Aku! Aku yang berjasa men- jauhkan hantu-hantu itu dari sistem. Asal kelen tahu, Bedebaaah! Aku berjasa untuk sistem ini!”
“Ya, tapi kau yang sering mencelakai orang lain, aku, bahkan Civa! Itu yang kaubilang berjasa?” tim- palku marah.
Bunda Ret menggeleng ke arahku. Pikirannya sa- ma denganku bahwa Felixia nggak akan berubah. Dia hanya memperdaya kami agar percaya padanya.
“Felix, kalo lo mau berubah, kami mau beri lo waktu untuk merenungkan semua kesalahan lo di Hutan Larangan! Dan, jangan sekali-sekali mencari jalan keluar dari sana, karena itu membuktikan elo ga berubah sama sekali!” Bang Jaka memberikan kode pada Mer untuk menutup mata Felixia dengan kain.Mer maju dengan berani dan melingkarkan syal- nya ke mata Felixia.
“Jangaaan!” pekik gadis tujuh belas tahun berga- ya nyentrik itu.
Dia meronta-ronta. Civa memandang semua itu dengan pandangan ngeri dalam rengkuhan Bunda Retno yang hangat. Aku tahu dia nggak suka kekeras- an seperti ini. Tetapi dia tentu masih ingat ketika Felixia menyeret dirinya masuk ke gua gelap mena- kutkan dalam hutan. Dia nggak akan melupakan ke- ngerian itu.
__ADS_1
Sayangnya, hanya Felix satu-satunya alter yang nggak peka terhadap hal gaib. Dia nggak bisa melihat dan merasakan kehadiran makhluk astral. Dan, itu sangat berguna dalam upaya mengusir Mayoru.
Felixia, sungguh, kami mempertaruhkan risiko yang cukup besar dengan memanggilmu kembali.
Ponselku berdenting. Lagi, pesan dari Papa yang mengajak makan malam. Karena aku merasa sangat lapar sekarang, nggak ada alasan untuk menunda.
Waktu pintu terbuka, angin dingin langsung me- nyerangku. Jadi, aku kembali masuk dan mencari ja- ket di antara pakaian yang telah kususun di laci-laci bawah meja. Aku keluar kabin setelah mengenakan jaket.Papa memasang banyak lampu di luar. Lampu- lampu itu dipasang menyebar ke beberapa pohon pinus, sehingga, sekitar sini menjadi terang. Bahkan di batang Pinus Penyendiri Papa melingkarkan Tumblr Lamp secara spiral. Kelap-kelipnya menerpa wajahku. Dia sungguh boros listrik, pikirku. Pantas dia nggak cocok dengan Mama yang irit itu.
Solar cell di tanah terbuka dekat kebun, membu- atku maklum. Pantas boros listrik, sebab Papa mem- buat persediaan listrik sendiri. Di tempat seterang ini, tetap saja ada sudut-sudut gelap tak terjangkau cahaya. Gilanya, mataku malah fokus ke sudut-sudut gelap itu. Sungguh bedebah!
Aku merasakan kehadiran, nggak hanya satu so- sok, tapi lebih. Udah cukup lama rasanya aku bisa menekan kemampuanku merasakan ini. Ketika itu hadir kembali, aku benar-benar seperti pemula. Aku takut. Badanku seketika menegang. Aku bahkan nggak bisa bergerak.
Aku berdiri tegak seperti patung batu di tengah jalan setapak di antara kebun. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berlari tapi nggak bisa. Rasanya aku udah memejamkan mata, tapi aku masih bisa melihat semua. Bahkan, aku bisa melihat apa yang ada di belakang tanpa menoleh sama sekali, seolah aku juga punya mata di belakang kepala.
Dari barisan pohon jagung, terdengar bunyi ke- meresek. Sesosok wanita berpakaian putih lusuh ke- luar dari sana. Dia melayang-layang di atas pohon jagung. Wajahnya putih dengan mata bolong seperti lubang hampa. Dia menyeringai dan tertawa menye- ramkan.Aku menjerit. Anehnya, suaraku sama sekali nggak keluar. Aku menjeritkan kehampaan.
Sosok tadi terbang mendekatiku. Aku udah pas- rah dengan apa yang akan terjadi. Aku bisa merasa- kan hawa dingin, sebelum tiba-tiba sosok itu terpen- tal ke belakang. Dia menjerit penuh amarah, kemudi- an terbang menjauh, menghilang di pucuk-pucuk pi- nus.
Aku masih mendengar pekikan sosok tadi sema- kin sayup, ketika di hadapanku muncul Mayoru. Dia membawa payung kertasnya. Perlahan, langkahnya maju ke arahku sambil memutar-mutar gagang pa- yung, sehingga kelopak payung di belakang pung- gungnya ikut memutar. Jelas, dia yang mengusir han- tu perempuan tadi.
“Anak manis, hanya kau yang bisa menolongku. Tolong, kali ini jangan menghindar lagi. Sini, ke Ma- ma, yuk, Minako,” katanya.
__ADS_1
Dia nggak menggerakkan bibir sama sekali keti- ka berbicara. Namun, suaranya lancang betul di teli- ngaku. Seolah mulutnya hanya berjarak lima senti dari sana.
Meskipun tubuhku seakan terkekang, aku masih bisa mengendalikan pikiran. Aku memanggil siapa saja di Rumah Pohon. Aku menanyakan apakah Fe- lixia udah dijemput? Nggak ada jawaban apa-apa dari sana.Tubuhku semakin lemas karena energiku udah terkuras habis. Pandanganku semakin mengabur dan kian hitam.