
Bagian 2 Lintang
Lintang Kemuning, Pengendali.
INI hari baru. Mengucapkan hal itu sebenarnya nggak perlu. Karena setiap hari berganti pasti baru. Nggak ada juga, kan, hari bekas pakai? Hari kemarin dipakai lagi jadi hari ini. Hentikan lelucon buruk itu.
Uh! Mer.
Yang mengatakan ‘hentikan lelucon buruk itu’ adalah dia—di kepalaku. Awalnya.
Meredith datang meminta waktu untuk berada di ‘depan’ sebentar. Padahal, dia cukup jarang mun- cul pagi-pagi. Aku sempat menahannya karena ini ha- ri baru dan kehidupan baru untukku, bukan untuk- nya. Dia terus memaksa. Katanya, ada keperluan pen- ting yang ingin diselesaikan.
Alter Meredith (Perempuan, 30 tahun).
“Lin memang penjorok!” tukasku marah.
Aku merengkuh gitar pembelian papa Lin dan menggosoknya dengan kain flanel lembut. Lin sering mengaku kalau dia itu cinta pada gitar akustik elek- trik Ibanez ini. Faktanya, perlakuan pada benda ma- hal ini berbanding terbalik dengan pengakuannya itu. Dia jarang membersihkannya. Benda ini terlihat bersih, sih, tapi tidak di sela-sela senarnya. Tidak di tempat-tempat yang sulit dijangkau lainnya.
Setelah gitar itu bersih, aku meletakkannya di kotak. Aku tidak akan memainkannya. Lin yang bisa, aku tidak. Jadi, aku berjalan ke lemari untuk mencari bajuku. Blus ungu dengan sedikit renda di leher dan potongan tidak simetris di bagian bawah, cantik juga untuk hari ini. Aku membeli baju ini dari toko online. Terus, karena aku mau keluar rumah, yang enak di- pakai sebagai bawahan adalah jeans. Selesai berdan- dan, aku keluar.
Tante Lea dan Tante Gea, mamanya Lin, duduk mengelilingi meja makan. Mereka sudah rapi sama sepertiku. Kenapa itu wajah Tante Gea?
__ADS_1
“Tante, oke?” tanyaku. “Mer?”
Perempuan berambut panjang yang digelung ra- pi itu malah bertanya balik. Aku mengangguk kecil.
“Saya keluar dulu, Tante,” kataku berpamitan.
“Tapi, kata Lin tadi malam, papa Lin mau da- tang?” Itu suara Tante Lea.Aku mengernyit. Iyakah?
“Kalau begitu, saya tidak akan lama, Tante.”
Aku segera ke garasi, mengambil sepeda, dan ce- pat mengayuhnya keluar kompleks perumahan ber- gaya Belanda ini. Aku senang keluarga Lin tinggal di sini, mengingatkanku pada suasana Eropa. Walau memang, sih, sebenarnya jauh dari penampakan London, asalku. Setidaknya aromanya lebih Eropa.
Barisan pusat bisnis kompleks ada di depan, dekat gerbang masuk. Ke sanalah tujuanku. Tea Pot Café, tepatnya. Sudah lama aku tidak menyeruput teh hijau terbaik dari perkebunan sekitar Simalungun dan menikmati roti hangat yang baru keluar dari oven berbahan bakar arang.
Kafe ini selalu penuh. Pagi hari biasanya dijejali orang-orang yang mau pergi ke kantor atau yang memang ‘bekerja’ di sini. Orang-orang yang pekerja- annya tidak memerlukan kantor, biasanya suka di sini. Mereka hanya membawa laptop dan langsung kerja. Makanan atau minuman tinggal pesan.
Aku membereskan poni Lintang yang sudah kepanjangan ini. Nanti kalau sempat, aku mau ke salon juga. Itu pun kalau Lin tidak segera mengambil alih. Biasanya, dia langsung mengambil alih jika aku ingin mengambil keputusan-keputusan besar, seperti mengubah gaya rambut, membuat tato, atau piercing. Eh, keputusanku hanya mengubah gaya rambut. Ka- lau membuat tato dan piercing itu Jaka. Sebagai bo- dyguard dalam sistem kami, dia merasa harus sangar. Tetapi, Lin selalu mengambil alih kalau-kalau Jaka teridentifikasi akan melakukannya. Itu sudah kese- pakatan.Aku harus melihatnya, minimal berkenalan de- ngannya sebelum Lin membawa tubuh kurus ini pindah ke tempat lain. Itu dia duduk di ujung sana. Ah, ya, aku belum memberitahumu tentang ‘dia’. Dia laki-laki yang selalu ada di sini bersama laptop dan kopinya. Aneh memang, penggemar kopi yang terse- sat ke Tea Pot. Tea Pot tetap ramah, kok, pada penik- mat kopi. Mereka menyediakan juga beberapa jenis sajian kopi; Esspreso, Cappucino, dan Latte. Aku suka pada laki-laki itu karena dia mirip bintang film. Dia juga cool dan sepertinya cerdas.
Seandainya aku berada di tubuhku sendiri saat ini, mungkin dia mau melihatku. Bukan karena aku lebih cantik dari Lin—walau aku memang berpikir seperti itu, sih—tapi karena aku ‘bule’. Rambut blondie panjang bergelombang, badan padat berisi, dan tinggi milikku pasti lebih mudah menjadi perha- tian. Ketimbang badan ‘flat’ Lin. Yeah, intinya, sih, orang lokal di sini akan lebih menaruh perhatian pada ras kaukasia sepertiku.Pesanananku sudah datang. Teh hijau, roti pang- gang, telur, sosis, tomat panggang, dan hash browns.1 Aku makan lambat-lambat sambil memperhatikan- nya—tentu saja dengan cara yang tidak mencolok— dan memikirkan cara elegan untuk berkenalan.
Aku mengangkat kepala lagi untuk mengecek Chris Pine. Bukan, bukan. Maksudku pria yang mirip bintang film Star Trek itu.
__ADS_1
Mayoru? Kenapa ada dia di samping Chris Pine? Aku harus cepat-cepat meninggalkan pesan untuk Lin. Segera, aku berlari ke meja kasir, meminta kertas dan pulpen pada gadis kasir. Langkah lebar mengantarkanku kembali ke meja tadi. Dengan ta- ngan bergetar, kutuliskan sebuah pesan. Setelah se- lesai, kumasukkan kertas itu ke kantong jeans. Rasa cemas menggelembung di dadaku. Aku tidak suka melihat Mayoru atau yang sejenis dia.
Sebuah panggilan muncul di kepala ketika aku melihat pria itu lagi. Dia juga melihatku. Sial, dia me- lihat kala aku sedang tidak siap. Aku menunduk. Ke- palaku sakit. Suara itu memanggil semakin kencang. Lin.
1 Hash Browns: Sarapan sederhana orang Inggris atau Amerika,19
Lintang Kemuning, Pengendali.
Alamak! Mer sarapan di sini. Dia nggak tahu apa, kalau ini mahal? Aku mulai perhitungan sekarang. Agak malas untuk minta uang pada Mama sering- sering. Dia pasti memberi, tapi makin ke sini, aku makin nggak suka komunikasi dengannya. Eh, bu- kannya dari dulu, ya?
Syukurnya, aku udah dapat pekerjaan. Jadi pro- sesi minta duit pada nyonya itu akan segera berakhir. Yes! Aku tergelak dalam hati dan menghabiskan teh Mer. Teh yang pahit dan rasa daun ‘kali! Iyeeew! Itu sebabnya aku lebih suka kopi susu.
Aku harus pergi. Papa udah mau sampai di ru- mah. Ketika aku berdiri dari kursi dan berjalan ke meja kasir, pria berpakaian santai dan tampan di meja seberang memandangku dengan pandangan aneh. Heu? Mer melakukan apa pada pria yang mirip Captain James T. Kirk itu? Ah!
Aku kikuk. Berusaha berjalan santai, aku ke kasir untuk membayar makanan Mer. Kuhabiskan uang hampir seratus ribu untuk sarapan saja. Kaku dan gugup, kukeluarkan dompet dari saku celana. Aku nggak suka terlalu diperhatikan orang. Itu membuat- ku nggak nyaman.
Sebuah kertas terjatuh dari kantong. Aku memu- ngutnya. Ada tulisan! Ini tulisan jelek Mer.
Tolong, Lin! Aku melihat Mayoru. Dia datang lagi!
Aku berubah menjadi es batu. Dingin, keras, dan mati. Dia memang benar-benar datang lagi. Ini agak kacau. Kenapa harus di saat aku memulai hidup baru, sih?“Mbak?” tegur kasir kafe. “Ah, ya, ya, ya. Maaf.”
__ADS_1
Aku menarik uang seratus ribu dari dompet, pergi terburu-buru sampai lupa memikirkan kemba- lian. Nggak apalah, kembaliannya hanya berkisar em- pat ribuan, kok. Aku keluar dan sekali lagi melirik ke Captain Kirk. Dia masih melihatku.
Di depan kafe, kuputar pandangan. Mer ke sini naik...? Ah, itu dia. Sepeda. Mer memang suka aneh- aneh. Padahal, kan, di rumah ada motor. Lebih enak dan cepat naik motor, kan?