Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 10 Lintang


__ADS_3

Bagian 10 Lintang


Alter Jaka, Hutan Larangan, Inner World Sis- tem Rumah Pohon.


GA gampang mencari Felixia. Hutan Larangan ini luas. Dengan bantuan Paman Weirdo sebenarnya lebih mudah. Dia lebih tahu seluk beluk hutan. Masa- lahnya, mencari Paman Weirdo sama susahnya de- ngan mencari Felixia. Dia laki-laki tua yang bebas merdeka. Ga ada satu orang pun bisa nahan ke mana dia akan pergi. Meski begitu, Lintang bisa manggil dia. Sejauh apa pun dia melangkah, dia akan kembali meski akan muncul nanti—sesuka hatinya.


Tadi gue udah berusaha koneksi sama Lintang buat coba panggil Paman Weirdo. Gue berkali-kali coba, tapi aneh, ga bisa. Koneksi kami sepertinya mengalami gangguan yang gue ga tahu kenapa. Level kekhawatiran gue langsung melonjak tinggi. Koneksi hilang ini ga pernah terjadi lagi sesaat setelah Sistem Rumah Pohon terbangun. Perasaan hilang kontak be- gini, pernah gue rasakan. Sewaktu kami masih ber- ada di ‘dunia kacau’ bertahun-tahun lalu.Lintang kenapa? Pikiran gue bercabang-cabang. Sekarang gue harus segera menemukan Felix. Di sisi lain, Lintang ga bisa terhubung. Di antara kebingung- an gue ini, ga kerasa gue udah nyampe di tengah Hu- tan Larangan. Tanda kalau ini tengah Hutan Larang- an, gue udah ada ga jauh dari Danau Kabut.


Kayak namanya, danau itu mengalami kabut ber- kepanjangan hingga gelap terus. Spooky, creepy, dan cringy. Ketiga kata itu artinya apaan, gue kagak tahu persis, sih. Hanya gue pernah denger aja dari You- tube orang-orang bule bilang itu buat ngegambarin kengerian. Nanti kalau inget, gue tanya Mer artinya apa. Dia jago nginggris. Ya, iyalah! Pan Mer orang Inggris. Namanya aja Barat banget, Meredith. Kalau medit itu elo! Hihihi, lucu, dah gue.


Ih, ga pantes gue bercanda di saat genting begini. Maafin gue. Gue bermaksud nenangin diri sendiri, sih, biar ga terlalu tegang.


Balik ke danau sepi dan misterius ini, langit di atas danau mendung sepanjang waktu. Padahal la- ngit di sisi hutan lain selalu cerah. Secerah cuaca di rumah pohon. Di  sana, langit juga senantiasa biru.


Kalau gue bilang, di sini kayak lokasi film-film horor fantasi.Karena gue ga tahu mau ke mana lagi, sebaiknya gue duduk dulu di sekitar sini. Perkiraannya, danau ini salah satu sumber air Hutan Larangan. Bisa jadi penghuni hutan bakalan ke sini untuk mendapatkan air. Gue ga yakin apa Felix bakal ke sini, tapi gue juga ga tahu harus ke mana cari dia. Minimal, rehat seje- nak. Siapa tahu gue bisa dapat ide bagus untuk me- nemukan Felix.


Gue nemuin tempat datar bertanah keras di ba- wah sebuah pohon. Gue duduk dan bersandar di po- hon itu. Sekitar sepuluh meter di depan gue, Danau Kabut membentangkan air kelabu. Ga tahu, setiap memandang danau ini perasaan gue kayak diliputi kesedihan.


Gue memejamkan mata, coba manggil Lintang sekali lagi.


Aaaaaa!


Gue terkesiap mendengar jeritan itu. Jeritannya seolah berasal dari seberang danau atau dari dunia di luar—ga bisa gue pastikan. Gema teriakannya membuat bulu kuduk gue meremang. Gue memelotot memandang ke kejauhan. Gue putuskan berdiri guna memeriksa lebih jelas asal suara tadi. Gue ga me- nyimpulkan itu jeritan Felix. Itu bukan suara Felix. Itu suara Lintang. Ya, ya, gue yakin itu suara Lintang. Ini jelas bikin gue semakin ga tenang.


Bunyi kemeresek daun kering diinjak hadir di belakang gue. Spontan gue menoleh. Seorang cowok berseragam SMA muncul dari balik semak-semak. Gue sama sekali ga pernah lihat dia sebelumnya.“Siapa lo?” tanya gue hampir serupa lontaran api saking nyolotnya.


Gue beneran kaget, sih! Suara keras sebenarnya juga cara gue buat melindungi diri. Kehadiran ‘orang’ baru dalam inner world udah lama ga kami alami. Kalaupun itu terjadi, gue udah siaga untuk pasang sikap berjaga. Siapa tahu alter yang muncul bukan ‘orang’ baik.


Wajah ceria cowok SMA tadi berubah. Dia kayak- nya takut sama gue. Cowok itu mundur selangkah. “Maaf, Bang, saya Adrik. Saya nggak maksud jahat, kok, Bang. Saya cuma mau tanya jalan keluar dari hutan ini.”


Gue mengamatinya dari bawah ke atas. Dia pakai sepatu sneakers hitam putih. Pakaiannya, ya, seperti anak SMA pada umumnya. Kulitnya putih. Urat-urat tebal tampak menjelujuri kulitnya. Kurus beud doi. Diembus juga kayaknya bakalan melayang. Gue ter- kekeh, tapi cukup dalam hati. Gue ga mau kewibawa- an gue luntur.


Kacamata berbingkai hitam di wajahnya bikin dia semakin terlihat culun—sekaligus punya otak. Ti- pe wajahnya sebelas-dua belas sama Dimas Beck. Bi- sa dibilang tipe-tipe wajah yang mudah mendapatkan cewek. Asal si cewek ga tahu seberapa dalam tingkat ke-culun-annya. Pakaikan baju terbaru, buka kacamatanya, dan pajang aja doi di etalase. Syarat- nya harus tetap diem, doi akan tetap menjadi yang terkece.“Lo udah lama di sini?” selidik gue masih dengan nada ga bersahabat.

__ADS_1


Gue masih jaga jarak. Kehadiran alter baru me- rupakan salah satu tanggung jawab gue. Kalau bergu- na, dia gue ajak ke Rumah Pohon. Kalau ga berguna, lebih baik gue kelelepin ke Danau Kabut sekalian. Masalah di sistem lagi ruwet-ruwetnya, gue ga mau berkontribusi menambah masalah baru dengan bantu anak ini keluar dari sini.


“Kayaknya udah, sih, Bang. Saya nggak tahu itungan waktu lagi, sejak tiba-tiba tersesat di sini.”


Gue memandang matanya. Gue coba menelisik kejujurannya melalui sorot itu. Dia nunduk. Iyalah! Gue punya pandangan elang. Siapa yang tahan gue pelototin?


“Oke. Gue bakal bantu elo!” putus gue kemudian. “Bener, Bang? Makasi banyak, Bang!”


Gue lihat matanya jadi berbinar-binar, persis Sinchan ketemu cewek seksi. Dia melangkah maju kayak mau meluk gue gitu. Gue kebetulan jijik dipe- luk cowok. Jadi....


“Udah, udah,” kata gue sambil mundur selang- kah. “Tapi ada syaratnya! Lo pikir ada yang gratis di dunia ini?”Dia akhirnya nurunin tangan. Syukurlah, masa preman pelukan? Teletubies reuni keles!


“Apa syaratnya, Bang? Bilang aja. Saya pasti laku- kan asal bisa keluar dari hutan terkutuk ini,” katanya bersemangat.


“Bantuin gue cari seseorang di hutan ini.” Gue memberi titah tegas-tegas julid.


“Gampang, Bang. Saya tahu setiap sudut hutan ini. Semua udah aku jelajahin. Aku tahu semua peng- huninya.”


Tiba-tiba dia ngubah kata ganti dari ‘saya’ men- jadi ‘aku’. Mungkin dia udah merasa cukup akrab sa- ma gue. Tapi, maaf, gue belum bisa diakrabin sama doski.


“Iyalah, Bang. Sehari-hari kerjaanku ngelilingi hutan ini. Itu terus nggak berhenti. Seluk beluk hu- tan, aku tahu semua. Yang nggak aku tahu hanya sa- tu, Bang,” katanya dengan muka sedih.


“Apa itu?” tanya gue penasaran.


“Jalan keluar,” jawabnya dengan wajah melas ba- nget.


“Yaelaaah. ”Gue kira apaan. Ga tahunya itu. Maksud gue, ka- lau hanya itu, sih, udah jelas banget. Ga perlu diper- tegas lagi, karena kalau dia tahu jalan keluar, ga mungkin dia masih di sini muter-muter. Nyesel gue udah penasaran.


“Kenapa, Bang?” tanyanya lugu. Wajah itu jadi pengin gue grauk.


“Udah, lupakan!”


Dia garuk-garuk kepala belakangnya sambil me- ngernyit bingung.

__ADS_1


“Kalo emang lo udah paham daerah sini, lo tahu, ga cewek yang namanya Felixia?” tanya gue.


Dia melirik ke kanan atas. Buat mikir kali. Kalau buat cari mangga ga mungkin. Di sini ga ada pohon mangga. “Felixia…?” ulangnya.


Gue cuman ngangguk.


“Gimana ciri-cirinya, Bang?”


“Kalo lo pernah ketemu cewek yang gayanya aneh, udah pasti itu Felixia.”


“Orangnya keji?”


“Tepat! Apa aja lo bilang kalau itu hal negatif pasti dia. Mau keji, mau galak, mau apaan, kek.”


“Di sini, sih, banyak orang keji, Bang. Yang mana satu, yak?”


Gue tepuk jidat. Nih anak ganteng-ganteng tapi otaknya dikit banget. Ngapain tadi dia fokus sama kata keji, kalau di sini banyak yang begituan? Maksudnya, kalau mau nemuin sesuatu, marilah kita membuat sesuatu itu jadi mengerucut, biar lebih gampang. Ga tahunya dia ngeluarin kata ‘keji’ yang masih umum juga. Maksud gue, kenapa gue jadi bingung ngejelasinnya, yak? Arghhh! Sial beud gue. Gue menarik napas dan menambah stok kesabaran, lalu kembali berusaha memberi keterangan lanjut.“Dia pake baju pink, gayanya kayak Jejepangan Harajuku. Imut tapi ngeri. Ga ada apa-apa yang terja- di sama udara ini, dia terus pake masker. Bukan masker biasa, masker untuk ngindarin gas kimia be- racun. Kalau dia cepet kita temuin, kita cepet keluar dari sini.”


“Ohhh! Aku tahu, Bang! Dia galak. Dia suka ngakak sendirian, teriak-teriak nggak jelas sendirian. Tapi kalau aku deketin, padahal kayaknya ramah, dia mau main bunuh aja. Gila, tuh, cewek!”


“Nah, itu orangnya!”


“Beneran, Bang, Abang mau cari dia? Mau ngapa- in, Bang? Ngeri tahu. Bagus jauh-jauhin aja, deh, ce- wek kek gitu.”


“Lo ga perlu tahu alasannya apa. Mau bantuin gue, ga? Kalau enggak, ya, udah. Gue tinggal.” Gue beranjak biar nakut-nakutin dia.


“Eh, oke, Bang! Oke. Aku udah bilang mau mela- kukan apa aja. Tapi, aku cuman nunjukin tempatnya aja, ya, Bang. Aku nggak mau ngomong sama dia. Ta- kut.”


 “Iya! Emang lo gue suruh ngapain? Emang buat nunjukin tempatnya.” Gue mulai kesel lagi.“Oke. Yok, Bang. Ke arah sana.” Dia menunjuk ke arah kiri danau.


Semoga anak ini benar-benar bisa diandalkan. Itu harapan gue. Karena kondisi sepertinya udah be- nar-benar kritis di luar.


“Bang!” Dia menoleh kembali pada gue. “Yang ta- di nama gayanya Yami-Kawaii. Gaya fashion asal Je- pang yang imut tapi dark.”

__ADS_1


“Serah lo!”


__ADS_2