
Bagian 14 Lintang
Lintang Kemuning (Pengendali), Pondok Ma- war, Sistem Rumah Pohon—inner world Lintang.
UNTUNG aku belum lupa jalan ke Pondok Mawar. Ini tempat favoritku selain Rumah Pohon. Hanya saja, aku jarang ke sini akhir-akhir ini karena kemarin fokus pada pengobatan—yang mengharuskan terpu- sat untuk membangun Rumah Pohon dulu, dilanjut dengan memikirkan skripsi, kemudian fase mencari pekerjaan.
Setelah keluar dari ramainya vegetasi hutan, aku disambut padang sabana nan luas. Ilalang dan ta- naman perdu berbunga warna-warni lainnya tumbuh berlomba memenuhi sabana seolah takut nggak ke- bagian lahan. Karena Pondok Mawar tempatnya agak landai di tengah sabana, maka dari tempatku berdiri sekarang, gentingnya terlihat lebih dulu. Semakin de- kat, semakin tampak bentuk utuh rumah bertembok putih itu. Pekarangan bahkan sebagian dindingnya dipenuhi rambatan mawar merah jambu. Aroma wa- ngi mawar segar merasuk ke hidung. Aku menghirup udara wangi ini sedalam-dalamnya.Civa membuka pintu, lalu berlari menyongsong- ku. Rok terusan selututnya berkibar ditiup angin. Itu pakaian kesukaan Civa. Sebuah dress putih berbahan katun tanpa lengan. Ada motif bunga mawar kecil di gaun berpotongan sederhana itu. Civa memang can- tik dengan dress itu. Rambutnya yang selalu dikucir dua bergerak dari kanan ke kiri mengikuti gerakan larinya.
“Kak Lintaaang!” teriaknya ceria.
Dia memelukku hangat. Aku menunduk dan me- lipat lutut agar sejajar dengannya.
“Rindu Kak Lintang,” katanya sambil terisak. “Sama.” Nggak terasa air mataku ikut mengalir
juga. Rasanya udah lama sekali nggak ketemu dengan mereka.
Bunda Ret dan Mer udah berdiri di dekat kami berdua nggak lama kemudian. Aku melepas pelukan dari Civa dan berdiri, bergantian memeluk Bunda Ret, lalu Meredith.
“Bagaimana?” tanya Mer. Aku menggeleng.
Bunda Ret mendesah dan merangkulku. “Ayo, masuk dulu!”Kami beriringan masuk ke Pondok Mawar. Di meja makan, berempat kami duduk berkeliling. Bun- da Ret membuatkan teh hangat.
“Belum ada perkembangan berarti. Bahkan aku nggak bisa terkoneksi dengan Bang Jaka,” kataku.
“Itu parah! Sangat parah,” sahut Mer dengan wa- jah cemas.
“Aku khawatir dengan Bang Jaka,” kataku lagi. “Ndak perlu khawatir dengan cah bagus itu. Dia
pasti bisa menjaga dirinya,” ujar Bunda Ret menasi- hati. “Bunda yakin dia ndak kenapa-napa.”
“Itu benar, Lin. Menurutku, mengapa Jaka sulit terhubung, karena kau sedang dalam kondisi tidak stabil. Ada berapa kali Mayoru mendatangimu?” ta- nya Mer.
Civa menjengit. Dia beranjak dari kursi dan pin- dah ke pangkuan Bunda Ret. Perempuan gendut ber- kebaya itu memeluk Civa dengan sabar.
“Dia semakin mengganggu! Dia bahkan datang waktu aku kerja di rumah keluarga Charity. Dia tam- bah kurang ajar. Untung tadi Paman Weirdo datang, kalau enggak, kacau! Kacau! Aku pasti kehilangan hidupku untuk kesekian kali.”
“Uncle Weirdo!” pekik Mer. “I do miss him.”
“Civa juga rindu Paman Weirdo,” timpal Civa dengan suara pelan sekali.
“Dia itu memang agak gila, tapi selalu ada jika Lintang membutuhkan,” komentar Bunda Ret.Sekalian saja aku mencurahkan semuanya di sini. Mereka seperti keluarga. Tempat terbaik dan teper- caya untuk menumpahkan segalanya. Aku juga men- ceritakan kejadianku pingsan di tengah kebun dan baru sadar keesokan paginya.
Tiba-tiba aku seperti mendengar suara Bang Jaka memanggil. Aku melihat Bunda Ret, Mer, dan Civa biasa saja. Mereka masih sibuk membahas tentang diriku yang pingsan tadi malam. Artinya, hanya aku yang mendengar suara itu.
“Aku harus kembali ke Rumah Pohon. Aku yakin Bang Jaka udah kembali,” pekikku bersemangat.
__ADS_1
“Benarkah, Lin? Syukurlah!” Mata biru Mer ber- binar-binar.
“Aku pergi dulu, ya,” kataku sambil masuk ke tangan terbuka Mer yang udah nggak sabar meme- lukku.
“Kau pasti bisa, Lintang. Kau perempuan terhe- bat yang pernah kutemui seumur hidup,” ucap Mer.
Itulah Meredith. Dia seolah tumbuh dari biji bu- ah optimis yang disemai di ladang semangat. Setiap darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah opti- misme.
“Apa pun yang berhasil aku lewati di hidupku, semua karenamu, Mer,” kataku.
Kemudian, Bunda Ret memelukku hangat. “Se- mangat, yo, Nduk. Kami akan selalu mendukung dan mendoakanmu.”“Iya, Bun. Makasih udah mau menjaga kami semua.”
Bunda Ret mengangguk.
Civa menubruk dan memelukku erat. “Kak Lin- tang jaga diri. Semoga berhasil, ya.”
“Ya, Civa. Civa nggak perlu takut, semua akan menjaga Civa. Kalau semua ini udah berakhir, Kak Lin janji belikan Civa permen lolipop blueberry yang banyak.”
“Ya, Kak!” Dia mengangguk dalam.
Alter Jaka, Hutan Larangan, Inner World Sis- tem Rumah Pohon.
Gue pandangin secara bergantian dua remaja labil di depan gue ini. Satu di antaranya cowok SMA kurus yang di matanya kayak ga ada harapan hidup. Satu lagi cewek nyentrik kebanyakan gaya. Pake segala masker gas dijadiin style. Boot pink kayak petugas di laboratorium nuklir bikin kaki kurusnya kayak kaki meja dipakein sepatu. Untung ditutupin stoking jaring pink. Minimal udah kayak kaki meja terperang- kap di jaring ikan. Rok tutu pink-nya itu menjijikkan beud dah. Tapi biar, ding. Dia suka ini, ngapa juga gue jadi ngurusin fashion-nya?
Mereka berdua ngomong berbarengan, terus sama-sama berhenti dan saling pandang. Gue tersenyum lebar. Cinta suci terpancar dari kedua pasang mata itu. Sinarnya menyatu dan meledak di tengah. Hati jomlo gue jengah. Meski gue jomlo, gue juga ngerti gimana perasaan mereka.
“Adrik, deh. Jelasin,” kataku menengahi. “Sebenarnya, Bang, aku sayang sama dia.”
“Dia, dia! Felixia! Kayak aku nggak punya nama aja!” sambar Felixia emosi. “Udah nggak mau nyebut nama aku lagi, ya?”
Gue memandang Felixia tajam dan dia langsung diam menunduk.
“Terusin, Drik.”
“Cuman dia yang mengembalikan semangatku, Bang. Hidup di sini tuh membingungkan. Kehadiran dia membuat aku bahagia, awalnya. Tapi, ya, gitu. Dia keras kepala, emosian, suka marah-marah nggak je- las.”
Felixia udah mau menjerit, tapi gue kasih kode dengan tangan untuk jangan dulu menyela. Dia me- nurut. Agak heran juga melihat Felixia nurut sama gue. Perubahan besar telah terjadi padanya. Gue sa- dari itu.“Satu yang bikin aku meninggalkannya, kami nggak pernah sepakat akan satu hal. Aku ingin keluar dari sini, sedang Fe selalu menolak. Aku nggak ngerti kenapa. Padahal dia pernah cerita sendiri kalau ada sebuah tempat menyenangkan. Tempat dia tinggal dulu. Matanya selalu berbinar jika sedang mencerita- kan tempat itu. Nama tempat itu Rumah Pohon.” Ad- rik diam sejenak sebelum melanjutkan, “Sejak dia menceritakan itu, aku mengajaknya untuk mencari jalan ke sana. Tapi dia nggak mau, Bang. Aneh. Jadi aku tinggalkan dia, karena aku udah bosan di sini.”
Felixia menatap Adrik ganas tapi ga berkata apa- apa. Gue sendiri ga lepas menatap Felixia dengan tatapan ga percaya. Dia bukan Felixia yang dulu.
“Felixia memegang janjinya,” ucap gue sambil te- rus memandang Felixia dengan pandangan nanar. “Dia benar-benar memegang janjinya dan mudah- mudahan udah memahami kesalahannya.”
Adrik menatap gue ga ngerti. Felixia ga berani menatap gue. Dia menunduk dan memainkan jemari- nya.
“Ceritanya panjang. Nanti gue ceritakan,” kata gue pada Adrik. “Sekarang, gue mau tanya sama lo, Felix. Lo cinta Adrik?”
__ADS_1
Felixia mengangguk. “Dia juga yang buat hidupku di sini indah, Bang. Dia yang mengubahku menjadi lebih baik. Aku sudah menyadari kesalahanku, Bang. Walau aku belum bisa mengurangi hobiku marah- marah. Minimal aku sudah lebih baik sekarang. Mudah-mudahan, Bang. Aku nggak bisa nilai diriku sendiri. Orang lain yang menilaiku,” papar Felixia panjang lebar.Aku memercayainya. Matanya memancarkan ke- sungguhan.
“Baiklah.” Gue mengembuskan napas panjang. “Gue ke sini punya tujuan. Gue harap kalian mau bantu. Balasannya, Adrik gue bantu buatkan rumah pohon, rumah pohon Felix gue bantu perbaikin lagi, dan kalian diterima di Sistem Rumah Pohon.”
Felixia memelotot memandang gue ga percaya. Adrik menegakkan duduknya. Pandangan Adrik lebih ke tatapan ketidakpahaman.
“Serius, Bang?” pekik Felixia.
“Abang juga tahu tentang Rumah Pohon? Tempat Felixia dulu? Dan, kenapa pakai kata sistem? Apaan itu?” tanya Adrik bingung.
“Kayak yang aku udah jelasin bolak-balik, Ad- riiik..., kita ini tinggal di kepala orang. Kau, sih, nggak pernah percaya omonganku!”
“Felix...,” tegur gue mengingatkan.
Felixia langsung diam dan cengengesan. Beda ba- nget Felix sekarang. Maaf kalau gue berkali-kali bi- lang itu. Karena gue benar-benar ga nyangka. Dulu, kalau begini, gue pasti udah kena tikam, minimal ke- na cakar ama dia.“Balik lagi ke pokok masalah, kalian mau, ga, nolongin gue dan Sistem Rumah Pohon?”
“Kalau Abang yang minta, aku bersedia, Bang!” pekik Felixia.
“Apa pun, Bang. Yang penting aku bisa keluar dari tempat aneh ini,” sambut Adrik.
“Oke. Ada syaratnya. Pertama, kalian dua harus berbaikan dulu. Gue ga mau bawa masalah lain ke Rumah Pohon.”
Mereka saling pandang.
“Kalau gue lihat, sih, sebenarnya kalian saling mencintai. Tapi masing-masing terlalu memperta- hankan ego dan itu sama sekali ga baik.” Nasihat gue udah kayak konsultan di KUA buat pasangan yang mau cerai.
“Kalian pasangan yang membutuhkan satu sama lain. Kalian serasi. Kalau mau daftarin keburukan, masing-masing punya keburukan. Emang kita semua diciptakan punya sifat baik dan buruk. Gue saranin, kalian berdua harus fokus di sifat baik masing- masing kalian. Hidup bisa jauh lebih berarti,” lanjut ceramah gue kayak orang bener aja. “Kalian mau saling memaafkan?” lanjut gue.
Felixia mengangkat tangan dan memberikan jari kelingking dengan ekspresi sebal ke depan wajah Adrik. Cowok itu langsung mengaitkan jari keling- kingnya di sana.“Maafkan aku, ya, Fe.”
“Aku juga minta maaf, ya, Drik.”
“Nah, gitu, kan, cakep!” komentar gue senang. “Yuk! Kita udah kelamaan di sini. Pokok utama masa- lahnya apa, gue ceritain sambil jalan.”
“Jadi, hukumanku udah resmi berakhir, Bang?” tanya Felixia bahagia.
“Iya! Kalo lo buat salah lagi, gue ga segan balikin lo ke sini lagi dan langsung gue tenggelamkan ke Danau Kabut.”
“Jangan, Bang!” pekik Adrik bersamaan dengan seruan Felixia, “Siap, Bang!”
Gue mendengkus kesal melihat kelakuan dua abege itu. Sekarang mereka udah towel-towelan manja kayak tadi ga ada kejadian apa-apa. Muka juga masih bonyok, Drik! Sekarang doski udah mesem- mesem kayak orang kena pelet.
Gue menggeleng dan melangkah duluan. Gue bersyukur Felixia udah ketemu belahan jiwanya. Itu bikin dia jadi jinak. Adrik berguna di rumah pohon, buat jinakin Felixia. Mereka aman bagi Sistem Rumah Pohon.
Ah, cinta bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik. Kapan gue ketemu sama cinta gue sendiri? Eh, sejak kapan gue jadi baperan? Etdah!
__ADS_1