
Bagian 21 Lintang
Lintang, Pengendali.
KAFE lumayan ramai. Kami langsung disambut oleh pelayan ramah dan berpakaian rapi. Sastra Kopi, nama kafe yang kece terpajang dalam ukuran besar di depan. Lukisan dan pernak-pernik bergaya pop 90-an tersebar di mana-mana. Pajangan-pajangan lebih banyak berisi kata-kata filosofis dan inspiratif.
Aku jarang pergi ke kafe, kecuali jika Mer sedang di ‘depan’. Aku nggak pernah punya teman dekat untuk diajak ke kafe. Aku punya sahabat dekat sejak SMP, namanya Yura. Akan tetapi, dia orang rumahan. Dia suka berkegiatan di rumah saja. Kalau ke mall, paling kami hanya nonton bioskop lalu pulang. Itu pun jarang terjadi lagi ketika kuliah dan dia pindah ke Inggris.
Ngafe bersama pacar? Aku nggak pernah punya pacar. Dengan kondisi seperti ini, aku nggak pernah percaya diri berhadapan dengan cowok mana pun. Mer berkali-kali berhasil membuatku dekat dengan beberapa teman cowok. Tetapi, pada akhirnya, se- mua kubuat berantakan. Jadi, bisa dikatakan, ini me- rupakan kali pertamaku ngafe berdua dengan pria. Aku bahagia karena pria itu papaku.Kami tiba tepat ketika azan Magrib berkuman- dang. Papa segera menunaikan ibadahnya. Aku me- nunggu untuk nanti bergantian. Aku memesan Latte dan untuk Papa kupesankan—seperti katanya tadi sebelum ke musala kafe—Esspreso.
“Om Eky!” sapa seseorang seraya mendekati meja kami, tepat ketika Papa baru kembali dari mu- sala.
Aku terperangah menatapnya.
“Eh, pencinta teh, ada di sini?” sapa Chris Pine— eh, siapa namanya kemarin?—dengan senyum maut yang mengembang.
Aku tersenyum, mungkin karena terintimidasi senyumnya. Bukan karena aku memang ingin terse- nyum padanya.
“Kalian saling kenal?” tanya Papa heran.
Laki-laki berkaus hitam itu duduk di kursi ko- song di meja kami.
“Sama-sama pelanggan Tea Pot Café.” Dia mena- ikkan alisnya untukku. Entah untuk apa maksudnya itu?“Biasa aku yang salah tempat, sekarang dia,” lan- jutnya.
Aku tersenyum kecut. Itu bukan aku. Itu Mere- dith. Aku lebih merasa cocok di warung kopi ketim- bang warung teh.
“Nah, Om sendiri, kok bisa sama dia?” Menyebut kata ganti ‘dia’ dalam nada tertentu di depan orang- nya langsung itu terdengar kurang sopan—minimal menurutku.
“Lah, Lintang ini anakku.” Papa menarik pundak- ku hingga menjadi lebih dekat padanya. Aku terse- nyum lagi. Kulihat wajah laki-laki itu berubah seperti baru saja menelan meja di depannya.
“Serius, Om?” Dia membelalakkan mata, meng- ekspos warna cokelat muda bola matanya. Beberapa suku di Indonesia, punya warna bola mata secokelat kacang almon.
Papa kulihat mengangguk dalam dan tersenyum. “Anakku yang paling tangguh, paling kebanggaan sedunia, paling cantik.”
“Pa...,” tegurku dalam suara datar, keberatan de- ngan pujian berlebihan itu.
“Semakin rame, ya, kafemu, Sastra?” tanya Papa, mengalihkan pembicaraan.
Kini gantian aku yang kaget. Hanya saja, ekspre- siku nggak lebay seperti laki-laki yang baru kuingat bernama Sastra ini. Dan, ya, pantesan nama kafe ini Sastra Kopi. Jadi mereka ini punya banyak bisnis di tanah para Sibayak ini? Hotel, kafe, lalu apa lagi?
“Lumayan, Om. Pakai strategi ngerangkul komu- nitas-komunitas di Medan. Meskipun hanya rame di weekend, lumayanlah. Bisa nutupin hari-hari sebe- lumnya.”
__ADS_1
“Ingat, ngumpulin orang gampang. Bikin orang setia yang susah. Intinya pertahankan aja kualitas rasa kopi di sini.”
“Siap, Om!”
“Besok ada acara nggak, Sas?” Papa bertanya lagi.
Pertanyaan itu membuatku sedikit curiga. “Kenapa, Om? Bisa, kok, dibatalkan kalau sekiranya ada yang lebih menarik,” katanya ceria.“Naik, yuk, nginep semalem aja,” ajak Papa. “Si- bayak. Jalur tangga aja.”
Aku memelotot, menegakkan duduk, lalu mena- tap Papa. Aku pikir ini hanya perjalanan berdua saja. Harus ada orang lain? Memang, semua bisa diatasi dengan cara meminta tolong pada Mer. Akan tetapi, pertama, ini akan menambah beban Mer—yang ma- sih takut keluar. Kedua, aku mau pergi karena Papa. Lalu, kalau ada orang lain yang bikin nggak nyaman, ngapain?
“Bertiga?” tanyanya sambil menggerakkan telun- juknya mengitar di depan kami bertiga.“Kakakmu ada kerjaan di hotel. Jadi, kita bertiga aja,” jelas Papa.
“Sepertinya menarik, Om. Oke, aku ikut!”
“Bro!” Seorang pria di meja lain memanggil Sastra.
“Aku tinggal sebentar, ya, Om, Lin,” pamitnya.
“Sampai ketemu besok!”
“Oke!” Papa mengangkat tangannya. “Pa, ngapain ngajak dia?”
“Kenapa, Lin?”
“Kan, ada Papa, Lin. Kau nggak harus ngobrol sama dia berdua. Kalau nggak nyaman, dia nggak perlu kauajak bicara. Anggap aja dia nggak ada.”
“Pa ”
“Harus ada orang lain selain kita berdua, Lin. Papa udah tua, minimal kalau Papa kecapean, ada yang bantuin kita.”
Mendengar alasan itu, aku baru terima. Papa be- nar. “Okelah.”
Kuseruput Latte-ku ketika mendengar bisikan itu lagi.
Aku tahu kau mendengarku, Lintang. Kau jangan pura-pura tidak melihatku. Aku tersiksa jika kau me- lakukannya.
Felixia! jeritku di dalam hati sambil memejam- kan mata.
Alter Felixia (17 tahun, fans of Yami-Kawaii Style).
“Apa kabar, Om?” sapaku beramah-tamah kala melihat papanya Kak Lin menyeruput kopinya.
__ADS_1
Dia mengangkat wajah dari gelasnya dan mena- tapku. “Siapa?”
“Tebak, dong, Om. Masa sudah lupa sama aku.
Baru kemarin malam ketemu.” “Felixia?”
“Tepat sekali!” Aku mengikik karena sangat me- nikmati permainan tebak-tebakan seru anjir parah ini.
“Kenapa kau selalu muncul malam-malam?” “Aku muncul karena dipanggil Kak Lin,” jawabku
jujur.
“Kenapa? Kenapa dia manggil kau pas lagi sama aku?”
“Karena. ” Aku menunda ucapanku untuk berpi-
kir, apakah aku boleh mengatakan tentang Mayoru? “Karena apa?” desak lelaki berkumis mirip Mario
Bross ini.
“Karena Kak Lin nggak suka udara malam.” Aku terkekeh canggung.
Papanya Kak Lin menatapku kurang percaya. “Benar hanya karena itu?” tanyanya sambil mende- katkan wajah padaku.Apa, sih, maunya Pak Tua ini?
“Bukan karena Lintang marah sama aku, kan?” “Marah?” Aku balik bertanya karena memang
nggak mengerti.
“Ya, tadi aku ngajak temanku untuk ikut kami berdua kemping besok. Dia sepertinya nggak senang. Terus, ada kau di sini.”
Aku menggeleng. “Aku rasa bukan karena itu, deh, Om.”
“Jadi?”
“Aku..., aku nggak tahu, Om. Baiknya, nanti Om tanya sendiri aja sama Kak Lin. Pokoknya, sekarang aku harus di sini apa pun yang terjadi.”
Aku mencari ponsel Kak Lin supaya ada kesibuk- an dan beralih dari cecaran pertanyaan Om Eky. Te- tapi, aku malah menemukan benda aneh di kantong hoodie-nya. Eh, ini kaset apa?
“Eit, simpan itu baik-baik, Felix! Jangan dihilang- kan. Itu benda berharga Lintang.”
“Oke, oke, Om. Jangan panik gitu. Aku mau cari hape Kak Lin. Di mana, ya?” tanyaku sambil mengem- balikan kaset yang sepertinya keramat ini kemudian mencari di kantong lain.
__ADS_1
Nah, ketemu. Ada di kantong celana. Kak Lin membawa earphone-nya juga—syukurlah. Aku menghidupkan musik dari hape dan mendengarkan melalui earphone. Aku melihat papanya Kak Lin agak kesal. Peduli amat bedebah anjir gila! Yang penting, aku terselamatkan dari misalnya dipersalahkan kare- na menceritakan tentang Mayoru. Aku nggak mau lagi dibuang ke Hutan Larangan.