Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 6 Lintang


__ADS_3

Bagian 6 Lintang


Lintang, Pengendali.


LANGIT di Berastagi biru muda terang. Awannya sewarna perak. Siang terik, tetapi anginnya tetap sejuk. Bunda Retno pasti yang paling bersemangat. Karena dia belum pernah melihat tempat indah ini. Aku juga sangat antusias. Terakhir ke sini sekitar sepuluh tahun lalu bersama teman-teman SMP saat perpisahan sekolah. Itu pun aku dijemput Tante Lea karena tiba-tiba ngamuk di penginapan. Masa SMP memang masa yang cukup berat buatku.


Walau nggak sampai menginap, waktu itu aku sempat bermimpi untuk tinggal di sini. Sekarang, mimpi itu jadi kenyataan. Sepertinya, nggak cuma Bunda Ret dan aku yang diliputi gelora semangat, tapi juga semuanya. Melimpah ruah kesenangan dirongga dada, sehingga aku nggak bisa berhenti me- ngagumi semua yang kulewati.Kesibukan sentral kota pariwisata Berastagi udah kami tinggalkan. Rumah-rumah penduduk nggak sepadat sebelumnya. Setiap jarak antar rumah diisi ladang sayuran atau buah. Sekejap saja, awan perak menghitam. Secepat itu cuaca di sini berubah.


Semakin lama jalur yang kami lewati semakin menanjak. Hawa dingin berembus. Aku menaikkan setengah kaca jendela.


“Dingin, Lin?”


“Ya, Pa.”


“Bawa jaket, kan?” Aku mengangguk.


“Pake kalau dingin,” sarannya.


Aku mengangguk lagi. Nanti saja kupakai. Sejuk ini masih bisa diatasi. Setidaknya aku ingin mencoba menikmatinya sebentar. Udara seperti ini jarang di- rasakan di Medan.


“Di depan sana itu, rumah Charity.” Papa menun- juk sebuah rumah yang akan kami lewati sebentar lagi.


Papa memelankan laju Chevrolet tepat ketika melintasinya, supaya aku bisa mengamati rumah yang akan jadi tempatku bekerja nanti. Rumah itu berpagar tinggi. Untung saja pagarnya nggak semata besi-besi kaku sehingga memunculkan aura kesom- bongan. Rumah ini justru terlihat menyatu dengan sekitar. Sebab, pagarnya telah dirambati tanaman menjalar hijau dan berbunga kuning. Penuh, hingga pagar aslinya nggak terlihat lagi.Pagar tanaman rambat itu membuat kita nggak bisa leluasa memandang ke dalam. Satu-satunya cara untuk meningkatkan intensitas pandangan adalah celah-celah gerbang besi hitam untuk akses keluar masuk. Aku melakukan observasi singkat. Yang terli- hat dari luar hanya sedikit taman, jalur aspal, seba- gian kecil bangunan teras, dan pintu garasi yang ter- tutup. Dari situ, aku bisa menyimpulkan tiga hal. Pertama, rumah ini indah sekali. Kemudian, pemilik- nya kaya raya, dan yang terakhir mungkin saja mere- ka berselera natural tradisional. Aku nggak banyak mengerti tentang nama desain-desain rumah. Itu ca- ra maksimal dariku untuk menggambarkannya.


Laju mobil kembali normal. Sedetik kemudian, aku merasakan semacam kehampaan asing merayapi hatiku. Aku ingat Mama dan Tante Lea. Ada sepotong perasaan di jiwaku yang digenggam kesedihan. Baru kali ini aku meninggalkan mereka dan merasa sedih. Aku pun jadi ingat rumahku. Tempatku menghabis- kan hari-hari fluktuatif. Rumah indah tapi terkesan dingin.


Nggak tahu kenapa perasaan aneh ini bisa hadir. Mungkin karena yang kulakukan ini semacam lom- patan besar. Kau akan tetap merasakan guncangan terlebih dahulu sebelum semuanya berjalan normal kembali. Jadi, aku menarik napas panjang, demi upa- ya mengurangi kuatnya cengkeraman rasa sedih itu.Beberapa menit sudah berlalu sejak kami mele- wati rumah Charity. Sekarang aku melihat hutan kecil di depan sana. Sebenarnya nggak bisa dibilang hutan juga. Lebih tepat disebut segerombol pohon pinus yang terkonsentrasi di satu lokasi. Hutan pinus mini itu cukup terlihat dari sini karena yang memi- sahkan dengan jalan ini hanya hamparan ladang sa- yur kol.


“Lihat pohon-pohon pinus itu?” Papa menunjuk dengan memajukan mulutnya. Aku hanya berdeham untuk menjawabnya.


“Itu rumah Papa.”


Aku memiringkan kepala, mengernyit, dan me- natapnya nggak percaya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanyanya saat melihat ekspresi wa- jahku.


“Keren.”


Dia tersenyum mendengar jawabanku. Aku kem- bali menatap gerombolan pinus itu. Kira-kira seperti apa rumah yang ada di antara kaki-kaki pinus? Ru- mah Hobbit-kah?


Mobil Papa berbelok ke kiri. Sekarang, kami me- ninggalkan jalan aspal. Jalur berubah menjadi jalan tanah. Tubuhku terguncang-guncang, meladeni aksi ban Chevrolet yang bersusah payah menerjang beba- tuan. Kami melewati satu dua pondok milik petani sekitar. Bangunan kayu berukuran kecil itu tempat mereka beristirahat jika sedang bekerja di ladang. Di salah satu pondok, aku melihat beberapa orang se- dang memanen dan menyusun kol di dalam keran- jang-keranjang bambu. Tenang sekali kehidupan di sini.Ketika sebuah ladang tomat berakhir, pohon- pohon pinus tadi mulai kami dekati. Naungannya membuat suasana mendung kian gelap. Ada sema- cam pagar kawat berduri membatasinya dari jalan tanah.


Pada gerbang kayu yang membuka di antara pa- gar kawat duri, mobil Papa berbelok. Hatiku kian buncah. Orang berjiwa seperti apakah yang tinggal di tengah gerombolan pohon pinus?


Taman rumah kami hanya berisi tanaman keladi- keladian, anggrek, dan daun gelombang cinta. Itu pun di dalam pot. Rumah itu dihuni Mama yang dingin. Halaman rumah Papa terlihat seperti hutan lindung untuk konservasi hutan tropis atau semacam tempat penelitian ekosistem. Bisa jadi, Papa lebih hangat atau paling enggak dia bukan termasuk rata-rata orang yang pernah kuketahui. Aku nggak tahu Papa seperti apa, yang pasti, rumahnya lebih menyenang- kan daripada tempatku tinggal.


Aku udah membayangkan melihat rumah besar. Mengingat, Papa bisa membeli tanah lumayan luas begini pasti bisa juga membangun rumah besar. Ternyata enggak. Rumahnya nggak luas. Dinding ba- ngunan itu terbuat dari susunan vertikal kayu-kayu panjang pabrikan selebar masing-masing sekitar li- ma senti dan berpelitur cokelat tua. Lebar bangun- nya kira-kira berukuran enam meter. Panjangnya ke belakang paling-paling hanya tiga meter. Bentuknya seperti kotak yang diletakkan di atas susunan kayu- kayu sisa. Dalam pikiranku, rumah ini sama besarnya dengan truk kontainer.Di samping rumah, aku melihat sebuah sepeda gunung, digantung seperti hiasan dinding saja. Pon- dok ini punya teras kecil. Terdapat satu set meja ma- kan bundar dengan tiga kursi kayu di sana.


Papa memarkir mobil, lalu mesin dimatikan. Aku pun turun tanpa alpa memandangi sekitar dengan segala rasa saling membaur. Perasaan yang lebih ba- nyak senang dan semangat. Sisanya adalah rasa ne- gatif yang sejak tadi berusaha kutekan.


Rumah Papa menghadap utara. Kuketahui dari kompas di jam tanganku. Di sebelah barat rumah kecil Papa, ada bangunan tanpa dinding. Hanya atap dan tiang-tiang. Di sana tersusun rapi kayu-kayu ber- bagai ukuran. Di pojok kiri, banyak perabotan sete- ngah jadi bertumpuk. Lemari berisi peralatan pertu- kangan berdiri di sebelahnya. Sementara, lantainya penuh serbuk kayu.


“Ini...,” katanya menunjuk rumah kecil itu, “…se- benarnya dulu Papa bangun untuk tempat Papa ker- ja.”“Tapi,” lanjutnya. “Lama-lama Papa tidur di sini juga. Untuk kamu udah Papa siapkan pondok kecil di belakang. Yuk!”


itu ke arah selatan rumah. Aku mengikutinya.


“Dulunya pondok di belakang itu, Papa bangun untuk tempat tinggal. Biar tempat kerja dan tempat tinggal pisah. Nggak tahunya, itu nggak efektif. Papa sering ketiduran di depan, makan di depan, semua di depan. Ya, udah, pondok belakang jadi jarang dipake. Tapi kemarin, udah Papa bersihkan lagi.”


Pinus-pinus menyambutku ramah. Daun-daun seperti jarum dan buah keringnya kuinjak. Mungkin pondok di sudut sana yang Papa maksud. Aku udah melihatnya. Bangunan itu nggak lebih besar dari ru- mah sebelumnya.


Kedua bangunan itu hampir mirip. Hanya saja, yang satu ini Papa mengecatnya dengan warna hijau dan putih. Susunan kayunya bukan vertikal, melain- kan horizontal. Sama seperti pondok di depan, ba- ngunan kecil ini juga punya teras. Bedanya, penghuni teras hanya sebuah kursi malas dari rotan. Di depan- nya ada tiga anak tangga sebagai akses naik ke teras. Lantai kayu rumah ini nggak lekat ke tanah, tapi disokong oleh susunan gelondongan kayu-kayu besar. Seperti konsep rumah panggung.Sebelum mencapai rumah, jajaran pohon pinus habis dan digantikan sepetak kebun yang isinya ber- campur-campur. Aku melihat ada beberapa baris pohon jagung, tomat, cabai, sawi, bahkan stroberi. Di belakang pondok hijau putih ini—mungkin garis akhir tanah milik Papa—kembali lagi pinus berdiri berjajar layaknya pagar pembatas.


Persis lima meter di depan pondok, aku melihat ada bangku kayu di bawah sebuah pohon pinus yang menyendiri. Di hadapan bangku, terdapat lingkaran hitam di permukaan tanah. Di atasnya ada kayu-kayu gosong sisa bakaran.


“Bekas api unggun?” tanyaku menunjuknya. “Iya.”


“Wow!” responsku antusias.

__ADS_1


“Kalau cuaca cerah nanti malam, kita bikin api unggun, ya.”


Kalimat Papa memberikan kesan bahwa dia me- nyambutku dengan rasa bahagia. Aku sangat meng- hargainya. Dia mau mengeluarkanku dari rumah membosankan itu saja, aku udah cukup senang.


Papa udah berdiri di teras pondok. Dia memutar kunci, lalu menggeser daun pintu. Saat itu aku se- dang menaiki tiga buah anak tangga kayu. Bunyi ke- riut yang khas tercipta.


“Masuk!” ajak Papa.


Aku melewati tubuh tinggi besar Papa. Dia membiarkanku masuk lebih dulu. Isi rumah ini luar biasa. Meskipun kecil, tapi disusun sempurna. Aku disambut hangat oleh sebuah sofa biru. Kain tebal putih bersulam bunga biru tersampir di sandaran- nya. Sofa itu terkesan seperti seorang ibu yang ra- mah. Aku jadi ingin segera bergelung di pangkuan- nya.Di depan sofa, ada semacam rak kecil penuh bu- ku. Udah dipastikan rak itu dibuat sendiri oleh tu- kang kayu kenamaan ini, Pak Eky Suhendra.


Kuputar pandangan ke kanan. Ada meja kecil dan satu kursi kayu retro berwarna putih seperti sedang mengobrol akrab. Tempat yang sempurna untuk makan, belajar, membaca, atau sekadar mela- mun. Jika kauenyakkan bokongmu di kursinya, maka kau akan menghadap jendela yang menyajikan pe- mandangan pohon pinus dan kebun sayur.


Di ujung paling kanan pondok ini, ada kamar mandi dan dapur. Hal yang paling membuatku terke- sima adalah, di sebelah pintu kamar mandi, ada tang- ga kayu. Tangga itu menuju tempat tidur. Aku mem- belalak. Mungkin, jika aku bisa melihat mataku sen- diri, aku yakin mata itu bercahaya. Jadi, tempat tidur pondok ini ada tepat di atas kamar mandi dan dapur? “Suka, Lin?” tanya Papa yang masih berdiri di dekat pintu.


“Ya, Pa.”


Papa mengangguk. “Ya, udah. Kau istirahat dulu. Biar Papa buatkan makanan di depan. Mau teh atau kopi?”“Teh aja, Pa.”


Papa berbalik dan keluar pondok. “Paaa...,” panggilku serak.


“Ya,” jawabnya sambil menoleh.


“Bukan teh pahit, ya, Pa. Pake gula dikit.” Sebe- narnya bukan ini yang hendak aku katakan. Aku ha- nya terlalu malu.


Papa tersenyum.


“Makasih banyak, Pa,” kataku lagi, memaksakan diri untuk mengutarakan hal jujur yang memang ingin kukatakan sejak tadi. “Mak-maksud Lintang, makasih udah dibolehkan tinggal di sini. Dan, maka- sih juga tehnya.”


Aku mengakhiri kalimatku dengan kekehan a- neh. Rasanya canggung sekali.


Papa memandangku dalam diam sekitar dua de- tik, sebelum mengangguk dan tersenyum. Dia juga tampak gugup, seperti aku.


“Eh, kalau mau pakai air panas, hidupkan dulu tombol yang itu, ya,” kata Papa lagi sambil berlalu.

__ADS_1


Aku pun kembali meneruskan kegiatanku: meng- amati sekeliling. Baru saja menapak di dapur, aku dibuat menganga dengan adanya peralatan memasak superlengkap untuk ukuran “bapak-bapak”. Aku semakin bersemangat melakukan home tour untuk mencari tahu rumah imut-imut ini punya apa lagi.


__ADS_2