Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 16 Lintang


__ADS_3

Bagian 16 Lintang


Lintang Kemuning (Pengendali), Pondok Pi- nus.


AGAK susah keluar dari inner world, jika terlalu lama ada di dalam. Seperti orang yang ‘ketindihan’ atau kayak sleep paralysis. Karena itu, aku jarang berlama- lama di inner world kalau nggak terpaksa. Bangunnya susah.


Aku mendapati tubuhku dalam posisi berbaring menyamping di atas kasur. Kepalaku pusing, seperti orang yang dipaksa bangun saat lelap-lelapnya terti- dur. Ketika kubuka mata, pandanganku mengabur. Aku mengerjap. Suara pintu digedor semakin ken- cang.


“Lintang! Lintang! Kau nggak apa-apa?”


Itu suara Papa. “Ya, Pa! Bentar,” jawabku dengan suara serak.Aku tadi mengunci pondok dari dalam, supaya nggak terganggu ketika berkelana di inner world. Aku bangkit dan turun perlahan. Kepalaku seperti hendak meledak.


“Kau kenapa, Lin?” tembak Papa cemas sedetik setelah pintu kugeser membuka.


“Nggak apa-apa, Pa. Lintang ketiduran.” Aku le- kas berbalik dan duduk di sofa. Tubuhku masih le- mas. Capek banget bolak-balik Rumah Pohon dan Pondok Mawar.


“Papa kira kenapa-napa. Di-WA nggak di-read. Ditelepon, nggak diangkat. Lain kali, kalau ngunci pintu dari dalam, kuncinya dilepas. Kalau ada apa- apa, Papa bisa buka pakai kunci serep dari luar,” ce- car Papa panik.


Orang lain mungkin merasa terganggu saat di- omeli orang tuanya. Tapi, aku enggak. Aku malah se- nang. Begini, ya, rasanya dipedulikan?


“Iya, Pa.” Aku menyandar di sofa sambil merapi- kan rambut dengan jari.


“Sini Papa pangkas rambutmu, kayak singa gitu dibiarin lama-lama.”


“Papa bisa mangkas?” tanyaku heran.


“Bisalah. Keciiil!” katanya sambil berjalan ke da- pur dan membuka-buka laci. Dia mendapatkan gunting dari salah satu laci dan sisir di laci lain. Kemudi- an kembali lagi kepadaku.“Papa serius?” Aku membelalakkan mata.


“Iyalah! Sana, keluar. Duduk di kursi bawah pi- nus sana.” Dia mendengkus ketika melihatku masih nyender di sofa. “Sana, Lintang....” Papa menarik le- ngan dan mendorong bahuku pelan agar aku segera keluar.


Aku teringat sesuatu dan berbalik lagi. “Apa lagi, Lin?”


“Ambil hape, Pa. Di atas.” “Cepet!”


Papa udah menunggu di bawah Pinus Penyendiri saat aku keluar. Angin sore menerpa wajahku. Sore ini termasuk cerah, meskipun angin cukup kencang. Nggak hujan seperti kemarin. Aku duduk di bangku kayu. Bangku itu agak lembap, tapi tetap kududuki.


“Pa, yang bagus, ya. Jangan terlalu pendek, loh, Pa. Rapiin aja,” pintaku.


“Iya, Papa tahu. Tenang ajalah.”


Aku membiarkan Papa melakukan kemauannya. Saat mengecek ponsel, ada lebih dari seratus panggil- an dan ratusan notifikasi pesan WA. Aku pikir itu ha- nya panggilan dari Papa. Ternyata sebagian panggil- an dan pesan itu dari nomor Tante Lea dan Mama.


“Pa!”


“Hei! Jangan bergerak!”


“Mama tadi nelepon, Pa,” kataku panik.


 “Papa tahu. Dia nelepon Papa juga.”Aku menoleh ke belakang dan menatap wajah Papa. “Mama bilang apa?”


“Haish, Lintang. Lasak2 bingits. Jangan bergerak


dulu kenapa, sih?” Papa memutar kepalaku agar me- lihat ke depan lagi. Tak lupa, dia juga mendorong pelan kepalaku agar lebih tunduk.


Aku nggak yakin, deh, melihat cara Papa me- mangkas. Kalau di salon teknisnya sebagian diikat dulu rambutnya, baru dipotong sedikit-sedikit. Ini enggak. Main langsung-langsung aja. Kayak motong kayu buat bikin meja. Tapi terserah Papalah baiknya gimana.


“Mama bilang apa, Pa?” tanyaku sambil berusaha nggak bergerak sama sekali.


“Ya, jelas marah besar. Tapi udah Papa jelasin, kok,” terang Papa sembari terus sibuk dengan peker- jaannya di kepalaku.


“Apa Papa bilang?”


“Papa bawa kau ke sini sementara, untuk liburan aja.”

__ADS_1


“Papa kok nggak jujur?”


“Kayak nggak tahu mamamu aja. Biar dululah. Nanti bisa kita jelaskan pelan-pelan.” Helai-helai po- tongan rambutku mulai jatuh ke tanah.


“Apa Mama bilang?”


“Dia tanya berapa hari?”


2 Banyak bergerak, ke sana kemari124


“Apa Papa jawab?” “Sebulan.”“Apa kata Mama?”


“Jelas, dia nggak terima. Tiga hari lagi, dia dan Tante Lea jemput kau ke sini.”


“Apa?”


”Lintang..., bantu aku....” Suara jelek Mayoru ha- dir di saat paling ngasal sedunia.


***


Mengernyit, kupandangi rambut anehku di cer- min. Sedikit menyesal, mengapa membiarkan tukang kayu mengerjai rambutku. Lurus, sih, lurus. Rata, sih, rata. Tapi jatuhnya jadi kayak bentuk tepi meja: lurus dan kaku. Aku jadi kayak pakai wig Lady Gaga. Beda- nya, ini nggak diwarna-warni.


Untuk mengurangi sudut-sudut lancip mengeri- kan dan berbahaya, poni tirai bambu karya Papa ku- putuskan untuk ditarik ke samping kiri dan menje- pitnya dengan bobby pin. Untung aku selalu memba- wa jepit rambut hitam itu. Karena aku nggak suka mengikat rambut. Dalam kegiatan yang membutuh- kan kerapian—seperti ujian nasional, mengajar, si- dang kuliah, wisuda, wawancara pekerjaan—biasa- nya aku menggunakan bobby pin saja untuk menji- nakkan rambutku.


Keputusan menyembunyikan poni tirai bambu itu mungkin akan mengecewakan ‘tukang pangkas- nya’. Karena Papa justru paling menyukai bagian itu. Katanya, waktu rambutku panjang acak-acakan, aku mirip Avril Lavigne di masa dia masih menganut rebellious style. Dan sekarang, menurutnya, aku tetap mirip penyanyi perempuan yang nge-trend di awal tahun dua ribuan itu, tapi udah jadi versi K-pop. Gimana, tuh? Hanya Papa yang mengerti maksudnya. Ya, pasrah sajalah. Aku nggak suka hasil potong-an rambut ala Papa ini, tapi aku suka caranya mem- perlakukan dan memperhatikanku. Kita nggak bisa mendapatkan semuanya di dunia ini, kan? Jadi, kita harus ‘pintar’ memilih. Rambut, toh, bisa panjang lagi. Namun, merasakan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang orang tua? Kita nggak akan tahu apakah bisa berusia panjang atau nggak? Papaku berusia 54 tahun sekarang. You know, what I mean?


Aku baru kembali dari pondok depan untuk makan malam dan menghubungi Mbak Icha. Padahal, aku nggak membutuhkan Mbak Icha, minimal belum membutuhkan. Kalau masih bisa diatasi sendiri, aku akan mengatasi sendiri. Jika nggak terlalu tergantung pada orang lain lagi, artinya pengobatanku udah ber- hasil. Hanya, Papa memaksa untuk Skype-an dengan Mbak Icha.


Akhirnya, tadi Mbak Icha lebih banyak ngobrol


dengan Papa. Papa juga bertanya macam-macam. Dia mengaku sering terserang kepanikan saat mengha- dapiku, padahal baru dua hari. Jadi menurutku, yang membutuhkan ‘sesi’ dengan Mbak Icha memang Pa- pa.Ketika Papa ngobrol dengan Mbak Icha tadi, aku duduk di depan meja gambar Papa, mengambil ker- tas, dan menyusun lesson plan untuk Chaca. Kemarin, pertemuan pertama pasti diisi ‘hiburan’ oleh Paman Weirdo. Jadi, besok aku akan ‘membayar kekacauan’ pertemuan pertama itu dengan pelajaran sesungguh- nya.


Sekarang udah pukul sembilan malam. Kuputus- kan untuk istirahat cepat agar besok bugar kembali. Hari ini lelah sekali. Setelah mengunci pintu—dan melepas kuncinya seperti nasihat Papa tadi sore— aku melangkah naik ke tempat tidur.


“Aaaaaa!”


Tanpa kuduga dia berpaling dan menampakkan wajah mengerikannya. Keseimbanganku hilang. Aku terjatuh dari tangga dalam posisi duduk. Kemudian, pandanganku menghitam.


 Alter Felixia (17 tahun, fans of Yami-Kawaii Style).


AKU mendapati diriku terjengkang di atas lantai kayu. Wow! Kawaii, cute, lucuk sekali rumah mungil ini. Ini di mana, sih? Ah, bangsat, bedebah! Aku nggak peduli ini di mana. Yang pasti aku bahagia anjir, pake banget, bisa kembali melihat dunia dengan cara se- perti ini.


“Auch, ah, bedebah! Bokongku sakit anjir! Pa- rah, parah!”


Aku berdiri, mengelus-elus bokongku, kemu- dian memeriksa sekeliling. Kulihat jam di dinding. Masih sore. Jam sembilan itu masih sore, Bangsat! Ngapain aku diam aja kayak kotoran di bawah po- hon? Entar takutnya dilalerin lagi. Ah, ya, aku tahu!


Aku mencari-cari pakaian bagus untuk party malam ini. Tapi isi laci pakaian Kak Lin bedebah pa- rah. Anjir beud. Kaus oblong semua! Ada yang lain tapi kemeja. RIP fashion. Evil! WTF anjir! Kaku banget hidupmu, Kak Lin. Nggak seru!


Jangan panggil aku Felixia kalau nggak punya ide untuk bersenang-senang. Aku menemukan pensil alis dan lipstik merah di laci Kak Lin. Dengan itu, aku bisa membuat riasan tema Ghotic-Ghotic Bergembira. Aku juga menemukan plester luka bermotif unyu. Keren!


Kusalin kaus belel yang dipakai Kak Lin menjadi kaus putih bergambar kartun gadis sedih. Tadi aku menemukan rok hitam berbiku-biku. Lumayanlah se- bagai pengganti rok tutu imut-imutku. Rok itu kupa- dankan dengan kaus putih yang kumasukkan sebagi- an ke dalam pinggang rok. Nanti, tinggal pakai boot kulit Kak Lin. Selesai!Aku berdiri di depan cermin. Hm, rambut Kak Lin, kok, aneh? Nggak biasanya dia rapi begini. Tapi bagus, kok!


Aku mulai memoles wajah. Sebentar saja, aku su- dah membuat smokey eyes parah anjir gila! Kupoles bibir dengan lipstik merah darah tebal-tebal. Yeaaah! Ini baru keren.


“Crazy Punk Girl featuring aliran Yami-Kawaii is in the house!” pekikku riang.


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di dapur. Nggak ada angin, nggak ada kucing bisa jatuh sendiri. Walau aku nggak bisa lihat begituan, aku tahu, sih, itu ulah Mayoru. Untuk mengusirnya, aku akhirnya dike- luarkan dari Hutan Larangan. Maka, aku harus mela- kukan tugas dengan baik. Aku harus mendapatkan hidup bahagiaku kembali.


Gue nggak bisa lihat elu. Biarin. Keki, keki, deh lu, gue cuekin, Setan!


Satu final touch untuk memberikan identitas di- riku sebagai penganut Yami-Kawaii. Kubuka plester luka bermotif unyu dan menempelkannya di batang hidung. Perfect. Cantiknya aku... anjir parah! Eh, mak- sudnya, cantiknya Kak Lintang kalau sudah aku makeover. Kukerjap-kerjapkan   bulu   mata   berpoleskanmaskara tebal.


Sekarang giliran mengurus rambut. Kulepaskan bobby pin yang menyekap poni Kak Lin. Anjir beud, Kak Lin. Poni imut gini, kok, disembunyiin, sih! Pa- rah, parah! Aku meluruskan dan merapikannya de- ngan sisir, poni yang tadi dipaksa belok ini. Aha! Sempurna.

__ADS_1


Sekarang, waktuku keluar rumah, untuk cari ta- hu bedebah anjir apa yang bisa kulakukan malam ini. Aku sempat panik, ketika kunci pintu sudah membu- ka, tapi aku nggak bisa membuka pintunya. Tak bera- pa lama, akhirnya aku ngakak anjir parah, waktu ta- hu ini pintu geser! Parah, parah!


Begitu sampai di luar, aku baru sadar kalau ini di tengah hutan. Aku hanya disambut oleh suara jang- krik bersahutan! Bedebah anjir gila! Ngapain Kak Lin sekarang tinggal di tengah hutan? Apa yang bisa kulakukan? Ah, tapi aku terpesona pada pohon pinus yang batangnya berlampu kelap-kelip itu. Ada bang- ku juga untuk duduk-duduk menikmati malam di sana. Aku kembali untuk mengambil ponsel Kak Lin. Selfie-selfie di pohon berlampu itu asyik juga, kayak- nya. Sudah lama aku nggak selfie. Sekalian mengaba- dikan hasil karyaku malam ini: make over dengan peralatan seadanya. Itu caption yang bakal aku tulis di Instagram nanti. Pasti IG Kak Lin banyak sarang laba-labanya selama nggak ada aku.


 Lantai teras berkeriut saat aku berlari keluar. Di sini dingin juga, ya. Ketika sudah berada di bawah pinus berlampu, aku menemukan tanah bekas pera- pian. Ini membuatku punya ide lebih seru. Api ung- gun! Ketika melihat sekeliling untuk mencari bahan bakar api unggun, aku menemukan pohon jagung. Aha! Jagung bakar. Iyes!Kusiapkan pesta api unggun ini dengan sema- ngat. Aku berhasil memungut ranting-ranting pinus dan membuat api yang meskipun nggak besar, luma- yanlah. Sekarang, tinggal mencari jagung. Ketika ber- ada di antara jagung, aku mendengar suara dari se- mak-semak.


Aku tidak peduli padamu, Mayoru!


“Pesta jagung dimulai!” pekikku setelah mema- nen lima tongkol jagung. Kuputuskan membuat video untuk dokumentasi dan sekalian memberi Kak Lin inspirasi. Kalau dia mau bergaya sedikit, dia akan le- bih cantik.


Ketika sibuk membakar jagung, aku mendengar langkah kaki mendekat. Aku mengikik. Mayoru bede- bah anjir parah itu maksa beud neror Kak Lin. Nggak ngaruh sama aku keles. Suara langkah itu semakin dekat, semakin nyata seiring dengan hadirnya sosok pria tua bertubuh besar dan berkumis di hadapanku.


Aku memelotot menatapnya. Kemudian, kukucek mata untuk memastikan nggak salah lihat. Jangan, jangan bilang kalau sekarang aku juga bisa lihat hantu. Hantu yang ini bercelana pendek, berkaus oblong, dan mengenakan sandal jepit.


“Papa pikir kau tadi mau tidur, Lin,” katanya heran.


“Eh, mmm, anu, belum ngantuk,” sahutku gugup. “Kok, nggak ngajakin Papa, mau bikin api unggun? Bisa Papa buatkan yang lebih besar lagi, loh. Tunggu, ya,” pintanya sambil berbalik menjauh.Iya, iya, pergilah. Lumayan. Ini akan memberiku waktu untuk berpikir, bedebah anjir apakah yang se- dang terjadi di dunia ini? Papa? Bukankah Papa itu dulu sosok yang dibenci Kak Lin? Mengapa sekarang terlihat akrab? Aku pasti sudah melewatkan banyak hal. Bisa aja Kak Lin dan papanya sudah berdamai. Yeah, siapa pun bisa berubah. Yang paling melegakan adalah, laki-laki itu bukan hantu. Aku masih nggak bisa lihat hantu, kok, yeiiiy!


Tak berapa lama, papa Kak Lin kembali dengan kayu-kayu beraneka bentuk dan ukuran. Sepertinya itu kayu-kayu hasil limbah tukang kayu. Lelaki itu mencampakkannya di tanah dan mulai mencem- plungkan kayu satu per satu ke dalam kobaran api. Sebentar saja api membesar.


“Yeeeaaahhh, kereeen!” pekikku senang. “Tunggu, tunggu!” Papa Kak Lin menatapku he-


ran. “Kenapa jadi menor begitu kamu, Lin?” “Hem?” gumamku bingung.


“Atau... jangan-jangan, kamu. Ini siapa?”


“Siapa?” tanyaku balik.“Iya, nama kamu siapa? Yang pasti bukan Jaka, kan, ya?”


Jaka? Bedebah anjir parah! Orang tua ini tahu tentang Jaka. Apakah itu berarti sekarang aku boleh memberitahukan siapa sebenarnya aku? Aku juga nggak beda dengan Bang Jaka, kan? Kalau Bang Jaka sudah boleh diketahui orang lain, mengapa aku eng- gak?


“Bukan, Pak. Saya Felixia.”


“Oh, pantesan. Oke, oke.” Pria itu manggut-mang- gut. Sepertinya dia mengerti, tapi kebingungan. Aku kebalikannya, bingung tapi berusaha mengerti.


“Bapak tahu tentang Kak Lintang?” “Tahulah, dia, kan anakku.”


“Kalau begitu... horeee!” Aku melompat kegirang- an. Sekarang, aku nggak perlu menyembunyikan jati diriku lagi. “Mari kita berpesta! Bapak ada bir?”


Laki-laki itu memandangku tajam. “Apa-apaan kamu? Jangan kamu masukkan benda-benda haram ke badan Lintang, ya!” teriaknya marah.


“Hehehe.” Kugaruk kepalaku yang nggak gatal. “Bercanda, Pak. Bercanda. Bapak serius amat.”


“Eh, yang begitu nggak bisa dibercandain, tahu! Alkohol nggak baik untuk tubuh, apalagi untuk tubuh Lintang yang rentan. Susu cokelat, tuh, kalau mau minum. Kamu umur berapa, sih?”


 Sial beud, aku kena repetan, gumamku dalam hati.“Tujuh belas tahun, Pak.”


“Ya, ampun. Masih sangat muda kau itu! Jangan melakukan hal-hal nggak berguna, nanti. ”


Papa Kak Lin terus ngomel. Aku tadi benar-benar bercanda. Karena aku sendiri sudah berubah. Lagi pula, ada aturan dari Kak Lin saat kita lagi ‘numpang’ di badannya. Dulu aku nggak respect, tapi sekarang aku sudah berubah. Jadi, aku nggak mungkin mau lagi melanggar aturan.


“OOOM! STOOOP!” teriakku.


Omelan papa Kak Lin berhenti sekonyong-ko- nyong.


“Aku mau bikin susu cokelat. Susu cokelatnya di mana, Om? Pegangin, Om.”


Papanya Kak Lin menerima uluran ranting yang tadi kutusukkan di pangkal jagung sebagai stick. “Di dapur, tuh!” katanya sambil menunjuk pondok tem- pat Kak Lin terjengkang dengan ujung jagung.


“Oke! Om mau susu cokelat juga?” tawarku ber- baik hati.


“Aku kopi aja, boleh?” Nada bicaranya sudah lu- mayan lembut.


“Baiklah. Tunggu sebentar!” ucapku sambil ber- lari masuk ke pondok.

__ADS_1


__ADS_2