Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 41 Lintang


__ADS_3

Bagian 41 Lintang


Alter Felixia.


SI anak lemah itu berhasil kutarik. Mari kita lihat seberapa parah kerusakan yang telah diperbuatnya. Kurang ajar! Bedebah! Anjir! Parah! Sylia silly! Cocok tuh nama untuk orang bodoh seperti dia. Gila aja!


Aku sudah berhasil menguasai tubuh Kak Lin, tetapi mata ini berat banget untuk dibuka. Meskipun mata tertutup, aku sadar tubuh ini sedang berbaring di... nggak tahu. Aku nggak tahu sedang berbaring di mana. Mata ini berat banget, sumpah! Padahal, aku sudah nggak sabar untuk mencari tahu apa yang su- dah terjadi.


Rasa mengantuk menarikku untuk tidur lebih lama. Akan tetapi, aku berusaha kuat melawan do- rongan ingin tidur itu. Mata ini berhasil kubuka. Kini aku tahu sedang berada di pondok papa Kak Lin. Aku mengerjap beberapa kali karena pandanganku masih kabur. Aku ingin bangkit, tapi urung. Kepala ini berat sekali. Seperti ada yang menarik kembali agar tetap nempel di bantal.Ada tiga orang selain aku di pondok ini. Papa Kak Lin sedang berbicara dengan dua perempuan. Aku mengenal mereka! Itu Tante Lea dan..., kupicingkan mata lagi untuk memastikan. Tante Lea selalu bersa- ma mama Kak Lin ke mana-mana. Tapi yang seka- rang bersamanya siapa? Wajahnya agak beda. Akan tetapi semua perawakan dan suaranya merujuk pada Tante Gea. Diakah itu?


Gerakanku membuat mereka menoleh. Sungguh nggak enak dipandangi cemas oleh banyak orang begitu.


“Hei!” Papa Kak Lin berteriak. Seperti orang hen- dak menerkam, tiba-tiba dia berdiri dan mencengke- ram kedua kakiku.


“Aku Felixia, Om.” Aku mencoba memberi tahu. Dilihat dari reaksi papa Kak Lin saat aku terbangun, jelas Sylia telah melakukan sesuatu yang membuat heboh pagi ini. Ya, ini masih pagi.

__ADS_1


“Oh.... Alhamdulilah!” Om Eky melepas cengke- ramannya. Baru kali ini aku melihat dia sesenang itu akan kedatanganku.


“Felixia?” Tante Lea berdiri dari tempatnya du- duk. Kebalikan dari Om Eky, wanita itu menunjukkan ekspresi kurang selow. Dia berjalan perlahan mende- katiku dengan tatapan seperti seorang pembunuh yang berniat mengeluarkan isi perutku. Aduh, lelah banget, dah! Aku mau beranjak juga masih susah, haruskah menjelaskan lagi tentang diriku?“Auch!” Aku memekik. Sikuku terasa sakit banget ketika kugunakan untuk menopang tubuh. Ketika ku- lihat, ternyata ada luka lecet sangat lebar di sepan- jang lengan sampai ke siku. Luka itu sudah dibaluri obat berwarna kecokelatan. Luka karena apa ini? Aku menautkan alis.


“Dia nggak apa-apa, Yak.” Om Eky memberi info. Mungkin dia juga khawatir melihat ekspresi kurang selow di wajah Yak, panggilan papa Kak Lin kepada Tante Lea, saat menatapku.


“Nggak apa-apa gimana, Bang?” Perempuan itu malah berbalik dan memelotot pada Om Eky. “Abang tau apa, ha! Tahu apa! Semua semakin kacau saat Lintang di sini.”


Om Eky terdiam sesaat. Sejenak kemudian, dia sudah tampak menemukan kata-kata untuk diucap- kan. Tetapi kata-kata itu mungkin ditelannya kembali karena kulihat dia memilih diam saja. Kasihan aku saat melihat Om Eky. Tak berdaya di depan Tante Lea. Sementara tatapan tajam tak henti-henti diberi- kan Tante Gea padanya.


“Kalau dia baik-baik saja, nggak mungkin dia memohon padaku untuk dicarikan pekerjaan dan memilih tinggal bersamaku, kan?”


Tante Lea terdiam. Tante Gea, masih dengan pandangan supertajam seolah sedang menguliti man- tan suaminya itu.


“Abang orang baru di kehidupan Lintang. Abang nggak tahu apa-apa tentang Lintang,” cerocos Tante Lea lagi.

__ADS_1


“Kalian yang nggak tahu apa-apa tentang Kak Lintang!” pekikku nggak tahan lagi.


Semua menoleh padaku. Dengan kekuatan yang tersisa, aku duduk meski kepalaku seperti hendak meledak. Semoga ini bisa menolong Kak Lin untuk membuka mata mereka.


“Meskipun dia, kami, punya kekurangan, dia te- tap ingin dianggap sebagai manusia seutuhnya. Sela- ma ini, dia nggak pernah dibiarkan memilih jalannya. Dia sebenarnya resah. Kalian nggak mau memberi- kannya perhatian. Perhatian bukan hanya materi dan materi, tapi lebih dari itu!”


Semua diam. Suasana menjadi canggung. Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Tante Lea tam- pak ingin membantah tapi urung. Apa pertimbangannya, aku juga nggak paham. Tante Gea malah nggak berekspresi. Dia sudah menghentikan tatapan tajamnya pada Om Eky.Om Eky kemudian duduk di sampingku. Dia me- nyentuh bahuku. “Istirahatlah. Jangan pikirkan apa- apa dulu. Kalian sedang terluka.”


Aku menyandarkan punggung kembali. Ini me- mang melelahkan. Sangat melelahkan.


“Sekarang, bisa panggilkan Lintang?” tanya Om Eky lembut.


Aku memandangnya. Hampir saja aku tersing- gung karena kayaknya dia mengusirku. Tetapi, kemu- dian aku paham, hanya Kak Lintang yang bisa menje- laskan dengan benar dan mudah-mudahan bisa me- redakan kekisruhan orang tuanya di sini.


Aku mengangguk. Semoga Kak Lintang sudah lebih kuat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2