Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 43 Lintang


__ADS_3

Bagian 43 Lintang


Alter Jaka di Inner World Lintang.


PLUFFF!Ada sinar di dekat Paman Weirdo berdiri. Sylia pasti akan muncul dari sana. Gesit, Paman Weirdo mendekat. Adrik yang posisinya agak jauh, berlari ke arah Paman. Gue pun tergesa mendekati sinar itu.


“Kena lo anak kurang ajar!” Gue menggeram kesal.


Krak! Bug!


Begitu sosok Sylia muncul, Paman Weirdo segera menangkapnya. Sosok itu bagai bantal kucel kumal lunglai di dalam dekapan Paman. Dia ga melawan sama sekali. Rasanya gue dan Adrik yang udah siap- siap mengerahkan tenaga super untuk menangkap- nya menjadi ga berguna sama sekali. Tetapi, Paman  tetap menjaga tangkapannya dengan baik. Seperti gue, dia tahu Sylia licik. Paman mengunci kedua tangan anak itu di belakang tubuhnya.“Apa kabar semua? Beginikah cara kalian me- nyambut teman lama?” tanyanya dengan suara lem- but menjijikkan.


Kelembutan palsu!

__ADS_1


“Sylia, Sylia... ckckck,” ujar gue menggeleng-ge- leng. “Lo nganggap diri lo teman kami? Teman dari mana? Cuih!”


“Jangan sarkas, Bang Jaka. Biasa ajalah,” ujarnya sambil tersenyum.


“Lo bukan teman kami! Kami semua sibuk mem- pertahankan agar Lintang baik-baik aja, sementara lo melakukan yang sebaliknya.”


Sylia tertawa keras.


“Yah, bocah ngapa, yak? Dia malah ngakak. Dasar aneh.”


“Kalian semua tidak mengerti. Aku mendengar Lintang menginginkan kematian. Makanya aku da- tang.” Sylia memandang ke belakang bahu gue. Di sana ada Lintang yang masih terduduk lemas. “Ya, kan, Lin? Aku justru menolongmu, kan? Hahaha!”


Gue males menoleh untuk mengetahui reaksi Lintang. Ga perlu. “Banyak bacot lo! Paman, kita apain nih, enaknya?”Sylia ga memberikan respons negatif. Dia terse- nyum. Lo tahu, nggak, sih? Ekspresinya kayak psiko- pat. Senyumnya bikin merinding.

__ADS_1


“Kita singkirkan saja dulu ke suatu tempat. Aku akan mengikatnya sangat erat. Dia akan mati sendiri kalau Lintang tidak memikirkannya lagi.”


“Terserah,” gumam Sylia. “Lintang akan selalu membutuhkanku. Tidak sekarang, bisa jadi nanti.”


Paman melampaui bahu gue untuk memandang Lintang. Dia mungkin ingin Lintang mengatakan se- suatu. Tetapi manusia di belakang gue itu diam saja. Gue ikut menoleh untuk mencari tahu reaksinya. Lintang melongo.


“Lo janji, Lintang,” pekik gue ga sabar. “Apa?” tanyanya balik.


“Jangan pernah lo panggil-panggil lagi bocah te- ngik ini!”


“Ya... janji. Aku, kan, udah minta maaf, Bang. Ber- hentilah untuk nggak percaya sama aku!”


Gue terdiam memandangnya. “Oke, oke. Gue per- caya.”

__ADS_1


“Felix manggil aku! Aku harus pergi!” Lintang memekik.


__ADS_2