Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 18 Lintang


__ADS_3

Bagian 18 Lintang


Lintang, Pengendali.


PAPA sibuk di workshop, jadi aku langsung ke pon- dok belakang. Ada telepon dari Tante Lea dan nggak kuangkat. Teror-teror dari Mama dan Tante Lea bisa diabaikan. Yang nggak bisa diabaikan, teror dari emak-emak Jepang itu. Aku bersyukur, hingga detik ini Mayoru nggak menampakkan dirinya.


Bicara tentangnya, di rumah besar tua bergaya Belanda milik Oma, aku bertemu pertama kali de- ngan Mayoru. Dia perempuan Jepang yang diperkosa dan dibunuh oleh prajurit Belanda ketika mereka kembali untuk melancarkan agresi militer. Dia ber- cerita sendiri melalui medium ‘orang pintar’ ketika Tante Lea mencari bantuan buat melepasku dari teror Mayoru.Terkadang, dia memanggilku Minako. Itu nama anak perempuannya yang terpisah ketika rumah me- reka diserang tentara Belanda. Rumah mereka dulu adalah rumah Oma. Saat bertemu dengannya aku berumur lima tahun, seumuran dengan Minako. Se- benarnya, dia sangat menyayangiku. Aku dianggap seperti anak perempuannya. Tetapi, disayangi arwah itu nggak enak. Jangan pernah coba-coba ingin mera- sakannya. Jangan!


Selama dua puluh lima tahun, hidupku putus- nyambung dengannya. Ketika orang yang ‘mengo- batiku’ berhasil, aku terbebas darinya. Namun, dia akan datang dan datang lagi. Saat Oma meninggal, rumah tua itu akhirnya dijual dan dibagikan kepada empat anak Oma. Tante Lea yang belum menikah dan Mama memutuskan membeli rumah bersama di se- buah kompleks perumahan di Medan. Mereka memi- lih rumah bergaya Belanda lagi. Mungkin, karena ingin mempertahankan kenangan rumah Oma.

__ADS_1


Meskipun pindah rumah, Mayoru nggak begitu saja lepas dariku. Dia mengikutiku. Ketika pertama kali sampai di rumah baru, setiap hari dia merasuki- ku. Mayoru marah-marah karena kami pindah. Lalu, aku diobati lagi. Dia kemudian hilang untuk semen- tara.


Misi Mayoru saat datang selalu sama. Dia masih menganggapku anaknya dan ingin membawaku ber- samanya.Seperti kuceritakan sebelumnya, aku mengalami ‘gangguan’ lain karena trauma dengan penyiksaan Oma. Jadi, mulai saat itu, aku menghadapi dua hal paling menakutkan dalam hidup. Trauma dan gang- guan makhluk halus. Bisa dibayangkan bagaimana ‘gila’-nya aku di masa awal remaja.


Namun, aku bangga karena bisa melewatinya. Bisa dibilang itu sebuah prestasi. Sebab aku tumbuh di negara yang nggak begitu peduli dengan penderita penyakit psikologis. Penyakit psikologis itu ada ba- nyak. Sementara, di sini hanya ada satu kata yang dikenal masyarakat untuk menyebutkannya, ‘gila’. Dan sayangnya, hal itu dianggap aib, membuat malu, dan tabu untuk dibicarakan. Orang-orang seperti aku ini biasanya akan berakhir dalam kurungan di rumah atau yang paling ngeri, dipasung!


Sekarang, aku harus bertemu Bang Jaka untuk meminta agar Bunda Ret, Meredith, dan Civa kembali ke rumah pohon. Sebab, Felixia bukan lagi sosok yang perlu ditakuti. Kasihan jika membiarkan mere- ka tersingkir ke Pondok Mawar nun jauh di tengah hutan.


Lintang (Pengendali), Rumah Pohon—inner world Lintang.

__ADS_1


Felixia sedang bermain kejar-kerjaran dengan Adrik ketika aku sampai. Mereka langsung berhenti ketika melihatku.


“Terima kasih yang tadi malam, ya, Felix,” kataku.


Dia nggak lagi memakai masker jeleknya, sehingga aku bisa melihat senyuman lebarnya yang manis dan tulus. “It’s oke, Kak Lin.”


“Bang Jaka di mana?” “Ada di rumah pohonnya.”


“Oke…, sebentar, ya,” kataku undur diri untuk menemui Bang Jaka. “By the way, kau lebih cantik tanpa masker.” Pujianku itu membuat Felixia terse- nyum semakin lebar.

__ADS_1


__ADS_2