
Bagian 19 Lintang
Lintang (Pengendali), Rumah Pohon—inner world Lintang.
BUNDA Ret, Meredith, dan Civa pasti senang sekali melihat Bang Jaka datang menjemput mereka. Aku yakin itu, walau aku hanya menunggu kedatangan mereka di rumah pohon.
Felixia dan Adrik menyiapkan makanan dan mi- numan sederhana. Kata Felix itu sebagai tanda per- mintaan maafnya serta ucapan terima kasih karena udah diterima kembali di sistem. Di Rumah Pohon ketersediaan makanan dan minuman nggak bisa di- jelaskan asal-usulnya. Ada di setiap lemari di Rumah Pohon. Jika lemari itu dibuka, selalu ada bahan ma- kanan entah bagaimana caranya. Semua penghuni Rumah Pohon juga nggak pernah mempertanyakan soal itu selama ini.Agak gelisah, kumenanti mereka sampai. Lang- kah kaki di bawah, membuatku langsung beranjak keluar dari rumah pohon utama. Mereka udah sam- pai. Civa melambai-lambai bahagia saat melihatku. Tetapi, tiba-tiba wajahnya berubah ketakutan saat memandang ke balik pundakku. Dia sontak berlari ke belakang tubuh Bunda Ret.
Aku menoleh. Ada Felixia berdiri di sana. Mung- kin tadi dia melambai ceria juga. Saat melihat Civa ketakutan, dia hanya menyisakan tangan yang masih terangkat ke atas dan senyum canggungnya yang membeku.
Aku merangkul Felixia. “Nggak apa-apa, Civa masih anak-anak. Dia membutuhkan proses, yang mungkin... agak lebih lama.”
Ada kebekuan sesaat ketika semua udah duduk melingkar di rumah pohon utama.
“Felixia dan Adrik yang menyiapkan makanan dan minuman ini sebagai permintaan maaf,” kataku akhirnya. Aku nggak tahan dengan kecanggungan itu. “Ya.” Felixia menyahut. “Jadi... mmm... makasih sudah mau menerimaku kembali. Dan, aku akan membantu sistem ini semampuku.”
__ADS_1
“Yeah,” ujar Mer. “Kami juga berterima kasih karena kau mau kembali dan menolong, tapi... maaf. Aku pribadi belum bisa terlalu percaya padamu.”
Meredith memang selalu terang-terangan. Felixia langsung bergerak nggak nyaman.“Gue akan terus mengawasinya,” timpal Bang Jaka. “Mari makan, apa kalian ga lapar?” Bang Jaka terlihat betul ingin menyelamatkan Felixia dari situa- si nggak enak ini.
“Tunggu, pemuda ini siapa, ya?” Bunda Ret me- nyela. Civa masih menempel di lengannya yang besar.
“Ehm, saya... Adrik,” jawab Adrik cengengesan. “Pacar Felix,” goda Bang Jaka.
Felixia dan Adrik sama-sama tersenyum malu. “Wuaaah, benarkah itu?” pekik Mer.
Pemuda malang itu langsung mendapatkan se- rangan tinju bertubi-tubi dari Felixia. Dia refleks me- nutupi wajah demi melindungi kacamatanya.
“Tolong aku!” Auman Adrik terdengar nelangsa. Bukannya menolong, kami semua malah tertawa.
Bahkan Civa pun ikut tersenyum. Aku senang Rumah Pohon sudah kembali normal. Jika begini, aku sema- kin percaya, masalah apa pun di dunia luar, pasti bisa kami hadapi bersama.
__ADS_1
Aku teringat sesuatu. Kutinggalkan kerumunan yang sedang menikmati makanan buatan Felixia. Ku- tarik Mer untuk keluar rumah sebentar.
“What’s wrong, Lin?” katanya ketika kami berdua berdiri di jembatan gantung kayu.“Mer, aku mau minta tolong. Mulai jam sembilan pagi sampai jam sebelas, kau ke ‘depan’, ya?”
“Why? Aku masih takut keluar.” “Ada... ada seorang laki-laki.” Mata Meredith membelalak.
“Kau jatuh cinta, Lin? Ini kabar baik! Aku ha- rus. ”
“Tunggu!” Kutarik tangannya demi menghenti- kan langkah gadis itu. “Bukan.... Aku rasa, kaulah yang jatuh cinta pada pria itu.”
Meredith menautkan alisnya. “What do you mean?”
“Tea Pot Café.”
Meredith menarik udara ke dalam mulut menga- nganya. Kaget!
__ADS_1