
Bagian 50 Lintang
Lintang, Pengendali, Medan.
AKU minta diturunkan persis di depan Tea Pot Cafe. Jadi Tante Lea memasang lampu sign tanda akan menepi dan mencari tempat parkir yang agak luas. Aku turun. Kapten Sastra Kirk. Hanya itu yang ku- ingat jika melihat kafe ini.
“Yakin turun di sini, Lin?” tanya Mama yang duduk di jok depan.
“Iya, Ma. Lintang pengin jalan-jalan menikmati udara sore,” kataku dengan nada sok dramatis.
“Bikin makan malam sendiri, ya, Lin. Ada ayam yang udah Tante bumbuin di freezer. Tinggal digo- reng aja.”
“Iya, Tante. Kalau males, kan, bisa Gofood,” cele- tukku.
Mama melirik Tante Lea.“Jangan makan sembarangan!” pekik Tante Lea. Aku mengikik. “Nggak! Aku mau makan sembarangan biar cepat mati!” ancamku sambil melirik Ma- ma.
Mama berdeham. “Jaga makanmu, Lintang.” Ak- hirnya Mama mengeluarkan suara emasnya.
“Nah! Kalau Mama yang bilang, aku baru mau nurut.”
Secara sembunyi-sembunyi, Tante Lea menjulur- kan jempolnya ke belakang. Dia mendukung tindak- anku itu.
“Oke. Lintang turun dulu. Sukses kencannya, ya, Ma.”
“Apa, sih, Lin?” Mama menoleh dan menunjuk- kan wajah keberatan. “Ini hanya pertemuan biasa. Mama nggak akan balik lagi ke papamu. Itu nggak akan terjadi!”
“Siapa yang bisa tahu?” Aku mengangkat bahu dan membuka pintu mobil.
Aku turun. Semoga mereka bisa menyelesaikan permasalahan dengan baik. Agar Papa bisa melanjut- kan kehidupannya—dengan atau tanpa Mama. Itu sama aja bagiku. Aku tetap bisa memiliki keduanya. Tadinya, aku juga diajak. Tetapi, kurasa nggak akan nyaman. Jadi, aku memilih diantar pulang setelah tadi ketemu Mbak Icha untuk memenuhi jadwal kon- trolku.
Tentu saja, setelah mengalami guncangan cukup hebat pada Sistem Rumah Pohon seminggu yang lalu, Mbak Icha menyusunkan jadwal kembali. Agak ketat kali ini, dua kali dalam seminggu. Ini terhitung perte- muan kedua setelah kejadian di Pondok Pinus.Mobil Mama dan Tante telah meninggalkanku. Aku lekas melangkah menuju gerbang perumahan. Supaya lebih enak, aku memutuskan untuk mende- ngarkan musik dari ponselku. Aku menyelipkan ear- phone ke telinga. Kukeluarkan ponsel dari kantong dan mencari lagu itu.
Kemarin, Tante Lea berhasil menemukan teman- nya yang masih punya tape recorder. Aku meminta tolong padanya untuk merekam secara digital lagu Waktu Bersama ciptaan Mama, supaya bisa mudah didengarkan kapan saja. Jadi, tadi, sewaktu antre di tempat Mbak Icha, dia mengirimkan hasil rekaman itu ke ponselku. Nggak sabar, aku mendengarkan la- gu manis itu lagi. Rasanya sangat bahagia dan nya- man ketika mendengar diri Mama ketika dia masih belum tercemar partikel bedebah dalam hidupnya. Itu membuatku tersenyum-senyum sendirian.
Nah, ini dia lagunya. Gitar Papa mengalun indah. Aku suka aransemennya. Mungkin nanti aku akan membuat aransemen baru agar lebih modern.
Duniaku bola yang pahit Jalanku labirin yang rumit
Waktu kita berjumpa... duniaku menjadi bola gulaliWaktu kita bersama... jalanku diapit pohon war- na-warni
“Hei!”
Seseorang memegang bahuku. Aku terlonjak sampai hampir terjengkang. Sempat ku-pause lagu- nya dan dengan segera kukantongi ponselku.
“Apa-apaan!” pekikku seraya melepaskan ear- phone. “Aku pikir mau jambret hape-ku.”
Sastra tertawa. “Dari tadi dipanggilin nggak de- nger, sih,” katanya.
“Kenapa ada di sini, Sas?” tanyaku. Kupandangi cowok di hadapanku ini. Tampaknya dia selalu me- makai kaus hitam dan hitam lagi.
“Aku tadi di Tea Pot. Aku lihat ada perempuan cantik jalan sendiri. Aku kasihan dan pengin mene- maninya,” katanya sambil berkedip-kedip.
“Ih, aku nggak perlu teman,” semburku. Padahal, aku senang sekali dipuji oleh Kapten Kirk. “Memang lagi pengin sendiri. Balik sana ke Tea Pot!”
“Aduh..., seumur-umur baru kali ini diusir cewek.
Mana kerempeng lagi,” kelakarnya.
“Itu body shaming! Aku laporin nanti.”
__ADS_1
“Sorry, sorry!” katanya lalu terdiam. Kasihan dia sampai kehabisan kata-kata begitu.
“Serius, nih, mau nemenin aku sampai rumah? Jauh, loh,” tanyaku mencoba menyadarkannya agar jangan sampai menyesal.“Eit, ngeremehin aku?”
“Enggak. Aku nggak mau, loh, repot-repot ngan- ter kamu ke Tea Pot lagi nanti,” kataku. Setelah mem- beranikan diri ngobrol di Pondok Pinus tempo hari, aku udah lebih nyaman berbicara dengannya seka- rang.
“Ih, ya nggak mungkin begitulah!”
“Bagus kalau begitu!” Aku kembali menyumpal telinga dengan earphone.
“Dengar lagu apa, sih?” tanyanya kepo.
“Mau denger juga? Nih.” Kulepas earphone sebe- lah kanan dan kuberikan padanya. Lalu kupindahkan earphone kiri ke telinga kananku.
Bumiku tanah beranjau Hidupku disesaki rasa galau
“Lagu siapa ini? Baru denger.”
“Nggak usah tanya-tanya. Denger aja dulu. Terus nanti kasih penilaian tentang lagu ini?”
“Oke, oke,” responsnya.
Waktu kita bertemu, bumiku menjadi cokelat yang manis
Waktu kita berdua, hidupku seperti lagu-lagu harmonis
Reff:
Dia tidak menjanjikan kemudahan Tapi Dia menyiapkan pertolongan Bagiku... kau orang yang dikirim Tuhan
Untuk menemaniku memperbaiki keadaan Maka tetaplah bersamaku...
Lagu berakhir ketika kami sampai di taman kom- pleks. Setengah jalan lagi menuju rumahku. “Bagai- mana lagunya?” tanyaku.
Dia melepas earphone dan menyerahkan kembali padaku. “Bagus. Kayak lagu era-era sembilan puluh-an gitu, ya,” ujarnya.
“Kau benar. Bagus juga pengetahuan musikmu.” “Kebetulan aku penggemar segala hal yang ber-
bau era itu,” terangnya.
“Ah, ya! Aku ingat. Kafe Sastra Kopi pakai tema sembilan puluhan, ya? Keren!”
“Nah, itu dia.” Dia girang. “Duduk sebentar yuk, di taman.”
Aku diam sebentar, berpikir. Aku nggak suka ke taman. Kalau orang lain pernah melihat aku di sini, berarti itu Civa.
“Aku masih ingin ngobrol denganmu. Di rumah- mu nggak ada siapa-siapa, kan?”Aku menggeleng.
“Makanya, di sini aja,” pintanya. “Di rumahmu nggak enak hanya berdua aja. Ntar digrebek tetangga lagi.”
“Kalau aku nggak mau?”
“Nggak mau di sini? Maunya berdua di rumah- mu?”
“Ih, bukan...,” pekikku.
“Udahlah, ayo.” Dia menarik tanganku karena mungkin muak dengan tingkahku.
“Ini bisa aku kenakan KUHP Pasal 369 ayat satu, nih! Pemaksaan kehendak!” kataku.
__ADS_1
“Kamu anak Hukum atau anak Seni, sih?”
“Anak Seni yang tahu hukum,” kataku. Padahal aku juga baru nemu semalam karena baca berita di media online. Kemudian, aku duduk di sebuah bang- ku taman di bawah pohon ketapang kencana. Dia ikut duduk di sampingku.
“Aku punya pertanyaan,” ucapnya. “Tanya aja.”
“Kenapa pesan-pesanku nggak pernah dibalas?” Nah. Aku tahu dia akan bahas itu. “Nggak perlu-
lah.”
“Aku pengin tahu kabarmu, Lin.” “Kan, bisa tanya Papa.”
“Hanya nge-read pesan itu nggak sopan,” cecar- nya lagi nggak mau kalah.“Apa pentingnya aku balas pesanmu?” “Penting banget.”
“Iya, penting banget itu kenapa?” “Mungkin, karena aku jatuh cinta.”
“Nggak!” Aku berdiri karena nggak ingin mende- ngarnya.
Sebenarnya aku udah memprediksi hal ini. Dia bakal mengatakan itu. Tetapi, aku berharap dia nggak pernah menyatakan ini. Aku berjalan mening- galkannya dengan langkah lebar. Dia mengejar dan segera menyejajarkan langkah denganku.
“Kenapa, Lin?”
“Kenapa?” Aku mengulangi pertanyan itu dan menatap tajam matanya. “Karena nggak boleh!” lan- jutku menyalak persis di depan wajahnya.
“Iya, nggak boleh kenapa?” Dia masih sabar ber- tanya. Padahal perlakuanku udah kasar.
Minta maaf, Sas. Aku minta maaf. Aku harus melakukan ini.
“Boleh tahu kenapa, Lin?” ulangnya.
Aku enggan menjawab dan terus saja berjalan menuju rumah.
“Aku mencintaimu karena aku menerimamu apa adanya, Lin. Untuk yang itu aku nggak ada masalah,” jelasnya tanpa kuminta.
“Dan, itu pun bukan hal yang kupermasalahkan sekarang,” bantahku.“Ha?” Dia semakin nggak mengerti. “Jadi karena apa?”
“Kau mau tahu karena apa?” Aku melihatnya mengangguk. “Karena kau akan jadi omku,” lanjutku cepat.
Sastra terdiam sekitar dua detik dengan ekspresi tak terdefenisikan. Dua detik selanjutnya senyumnya melebar, kemudian menjadi tawa. Bahkan dia seka- rang tertawa terpingkal-pingkal.
“Apa? Kenapa?” Kutarik-tarik bahunya agar sege- ra berhenti menunduk-nunduk tertawa sambil me- megangi perut. Menyebalkan! “Maksudku Papa dan Mbak Nisa,” paparku lagi agar menjadi lebih jelas dan supaya dia berhenti tertawa.
Dia memang berhenti tertawa. Sastra menatapku hangat. “Mereka memang pernah dekat. Tapi seka- rang, nggak akan mungkin menikah.” Keterangan Sastra membuatku terenyak.
“Kenapa?” Dahiku mengernyit.
“Mbak Nisa akan rujuk dengan suaminya. Dan mungkin papamu yang susah move-on sejak zaman batu itu juga pengin rujuk dengan mamamu.”
Fakta ini agak di luar perkiraanku. “Tapi, seming- gu lalu, aku lihat Papa pelukan dengan Mbak Nisa di dapur pondok Papa sebelum aku balik ke Medan.”
Sastra mengangkat bahunya. “Perpisahan terak- hir, mungkin.”“Perpisahan?” tanyaku lagi semakin nggak pa- ham.
“Tiga hari yang lalu Mbak Nisa dan Chaca udah terbang ke Paris. Dia dan suaminya akan menikah ulang di sana. Mereka akan tinggal di sana.”
“Serius?”
“Hu-um.”
Sastra mengangguk dalam. Entah mengapa ang- gukannya itu membuatku....
__ADS_1
Meredith.