
Bagian 26 Lintang
Alter Jaka.
ADA dua orang sedang menatap gue. Aneh beud, sumpah! Gue putar kepala sebentar dan mendapati diri berada di tempat baru. Gue sedang memeluk gitar dan duduk di sebuah tempat luar biasa indah.
“Ada apa, sik?” tanya gue pada dua orang di depan gue ini.
Mereka berdua tertawa berbarengan. “Pelawak juga, ya, kau, Lin. Orang udah nungguin, dia malah bercanda.”
Cowok yang sepertinya sebaya dengan gue ini berbicara dan ga berhenti ngakak. Anak perempuan cantik di kursi persis di seberang meja juga tertawa.
“Kak Lin, ayolah! Chaca pengin lihat Kak Lin main gitar.”
Main gitar? Ah, ya. Ini pasti tempat ngajar Lin- tang. Itu adalah Charity. Dan ini? Papanya? Jadi, me- reka nungguin gue mainin gitar ini? Ah, gampanglah.“Oke, oke!”
__ADS_1
Gue memang ga sejago Lintang dalam bermain gitar. Kalau genjreng-genjreng lagu pop doang, mah, keciiil! Asal jangan disuruh mainin musik klasik. Bisa keriting jemari indah gue.
Gue mulai memetik intro lagu kesukaan gue. “Ngerti, nggak kalian ini lagu apa?” tanya gue pada dua orang itu. Gue menanti mereka menjawab sambil tersenyum dan memandang mereka satu per satu. Gue melihat cowok itu mengernyit. Anak perempuan tadi terdiam.
“Slank, ya? Terlalu manis?” Akhirnya cowok itu menjawab, tapi dengan nada ga yakin.
“Benar!” pekikku. Kunci udah masuk ke lirik awal lagu dan jreeeng.... “Kuambil gitar... dan mulai memainkan....” Gue memulai lagu kesukaan gue se- panjang masa ini dengan penghayatan supertinggi.
Gue asyik terus bernyanyi di depan dua penon- ton yang kini melongo menatap gue. Ga tahu, dah! Apa mereka terpesona atau bagaimana. Sebodo amat! Lintang ngeganggu penghayatan lagu gue. Dia teriak-teriak ga jelas. Tadi, dia kekeh banget nyuruh gue ke ‘depan’. Sekarang manggilin gue ga jelas. Enak
aja! Gue lagi asyik nyanyi juga.
Dia kayak nendang-nendang kepala gue. Nih, anak maunya apaan, sih?
Lintang Kemuning, Pengendali.
__ADS_1
Sastra dan Chaca menatapku heran.
“Maaf, tadi itu... pemanasan,” jelasku gugup. Ke- palaku langsung memikirkan sebuah lagu klasik un- tuk memperbaiki penampilan hancur Bang Jaka.
Aku harus bisa menghadapi ini. Harus. Aku me- narik napas dan mulai memainkan Asturias by Isaac Albeniz. Aku berusaha fokus dengan memandang sa- tu titik di kaki meja. Ini sangat membantuku keluar dari pandangan mata kedua orang di depanku ini.
Bar satu sampai ketujuh belas, lagu bertempo andante ini kumulai dengan gaya legato cantik dulu, mendayu-dayu. Pengulangan nada di tengah nanti, baru biasanya kumainkan dengan patah-patah dan tajam untuk proses pencapaian ******* serta dina- misasi lagu.
Siapa pun pasti pernah mendengar lagu klasik ala Spanyol ini—minimal tujuh belas bar awal. Se- panjang pengetahuanku, ini lagu sangat populer. Bahkan untuk kalangan yang bukan penggemar mu- sik klasik.
Dentingan dari fingering-ku pada senar gitar mengalun. Aku nggak tahu ekspresi penontonku se- perti apa, karena sekarang aku bahkan memejamkan mata—penghayatan sekaligus melenyapkan kegu- gupan. Tetapi mereka nggak bersuara. Karena suara yang ada di sini hanyalah dari gitarku dan bersahut- an dengan burung-burung liar.Kunci B di fret ketujuh, senar A kupetik tegas sebagai jarak untuk bagian selanjutnya. Persis saat ini, aku membuka mata dan mendapati wajah Sastra terpana. Aku terus melanjutkan, meski gugupku be- lum hilang. Harus! Ini pembuktian di depan muridku. Aku nggak ingin kehilangan pekerjaan.
Bar 17 sampai 25, fingering-nya hampir mirip dan dimainkan di nada yang lebih rendah. Akan teta- pi, temponya harus tetap sama dan perpindahan fingering-nya cukup jauh. Asturias bar 17 dan sete- rusnya mengalun lagi. Aku membayangkan seorang gadis Spanyol sedang dibawa pergi di atas kuda putih oleh seorang pangeran tampan untuk diselamatkan dari kejaran bramacorah.
Aku terus mengalunkan lagu ini dengan mata terpejam. Hingga memasuki bar-bar terakhir, kete- nangan itu semakin mendatangiku. Kupelankan ira- ma dan mengakhiri lagunya.
__ADS_1
Kubuka mata perlahan. Kulihat kedua penonton- ku menganga. Tak lama, tepuk tangan keras sambil berdiri mereka hadiahkan kepadaku.
“Terima kasih.”Ah..., akhirnya selamat juga.