
Bagian 32 Lintang
Lintang, Pengendali.
BUK! Buk! Buk!
__ADS_1
“Lintang! Lintang! Buka pintunya!”
Samar kudengar suara Papa. Tetapi, bagaimana caranya aku membuka pintu? Menggerakkan ujung jari saja aku nggak bisa. Napasku pun tinggal satu- satu. Leherku rasanya udah berpisah dengan tubuh. Mataku mendelik. Mayoru masih saja bersemangat mempermainkan nyawaku. Entah apa maksudnya. Mau bunuh, ya, bunuh aja? Apa hantu ini belum pu- nya cukup kekuatan akan itu?
Aku bisa merasakan kakiku mengambang. Mayo- ru mengangkatku dengan satu tangan. Aku lebih ting- gi darinya sekarang. Dia bukan lagi hantu Jepang ma- nis seperti penampakan-penampakan sebelumnya.
__ADS_1
Yang bisa kulakukan sekarang hanya berusaha fokus dan mengabaikan wajah seram Mayoru. Di da- lam kepala, kujeritkan sekuat tenaga,
"FELIXIA! HUTAN LARANGAN!" Semoga dia mendengar.
Maafkan aku. Jika memang nggak ada yang men- dengar, aku udah pasrah. Mungkin jalan ceritaku me- mang akan berakhir dengan sesuatu yang jauh dari impian. Aku telah melakukan kesalahan. Aku harus berani menanggungnya. Sekali lagi, maafkan aku.
__ADS_1
Braaakkk!
Suara keras itu membuat Mayoru menoleh ke pintu. Tiba-tiba dia menjerit dengan lengkingan sa- ngat tinggi. Dia tampak kesal, tapi kemudian dia ter- bang, lalu menghilang. Bersamaan dengan itu, aku terjatuh. Kepalaku sedikit terbentur kabinet dapur di belakangku. Rasanya aku udah nggak bisa bertahan lagi. Pandanganku menghitam. Sempat kulihat wajah panik Papa menyongsongku, tapi kemudian. gelap.