
Bagian 27 Lintang
Lintang Kemuning, Pengendali.
MESKI agak aneh, hari ini akhirnya terlewati dengan baik. Aku menghabiskan empat potong cake pisang. Kalau nggak malu, mungkin aku bisa nambah dua sampai tiga potong lagi. Walaupun Sastra udah nggak di sini lagi sejak tadi, tetap saja malu kalau terlihat rakus di rumah orang.
Mbak Gina, asisten rumah tangga keluarga Cha- rity baru saja datang membawakan teh panas. Suguh- an tambahan yang sungguh mampu memperbaiki hari ini. Matahari udah naik, tapi awan tebal menu- tupi sinarnya. Semoga nggak turun hujan, agar renca- na Papa naik gunung nanti sore berjalan lancar.
__ADS_1
Satu lagi, aku merasa agak heran sekaligus lega. Mayoru udah nggak terlihat lagi. Bahkan suara-suara parau anehnya itu, nggak terdengar lagi. Ternyata, rencana kami sangat ampuh. Felixia, terima kasih ba- nyak! Aku harus mengadakan pertemuan di Rumah Pohon untuk menegaskan bahwa kebebasan kami dari situasi horor ini merupakan bantuan dari Fe- lixia. Agar nama gadis pink itu bersih. Sebab aku ta- hu, Mer, Civa, bahkan Bunda Ret masih menyimpan kecurigaan padanya.Chaca terlihat bersemangat melahap cake-nya.
Mbak Nisa pintar membuat cake enak.
“Om kenapa nggak ke sini, Kak? Om ada janji sa- ma Chaca,” katanya dengan mulut setengah penuh.
“Oh, dia sedang mengerjakan banyak pesanan perabot.” Tanganku menggamit cangkir teh dan me- nyeruput isinya sedikit. “Emang janji apa, Cha?”
__ADS_1
Aku berdeham karena teh yang mengalir agak membuat kerongkonganku tercekik. Jelas, itu karena aku mendengar janji Papa pada Chaca. Terus terang, aku terbakar cemburu. Ternyata bukan aku seorang yang diinginkan Papa untuk naik gunung bersama- nya. Chaca juga mendapatkan janji itu.
Siapa Chaca? Akulah anaknya. Dia? Anak seorang janda kesepian, mungkin. Aku agak emosi, tapi kuco- ba bertahan. Dan, seperti kauduga, nggak mungkin aku memberitahu gadis kecil itu kalau nanti sore aku,
Papa, dan omnya akan naik gunung. Bisa-bisa nanti dia minta ikut dan akan merepotkan saja.Dalam sikap yang mendingin, aku menghabiskan teh kemudian permisi pulang pada Chaca. Gadis kecil itu minta pesannya disampaikan kepada Papa. Itu se- makin membuatku mengeluarkan asap dari hidung. Sesegera mungkin aku menghambur keluar rumah dan membawa sepedaku ngebut. Dalam kondisi pera- saan nggak enak seperti ini, aku nggak mau harus berhadapan lagi dengan Sastra.
Sesampainya di Pondok Pinus, Papa sedang ber- bicara dengan kliennya di meja makan teras pondok- nya. Aku melewati mereka dan hanya mengangguk pada Papa. Lelaki itu melambaikan tangan. Wajahku mungkin terlihat masam, jadi Papa sempat meman- dangku heran. Mood-ku sedang nggak bagus. Aku ingin cepat-cepat sampai pondokku, mengunci pintu, dan meringkuk di sofa. Mungkin, aku akan mengun- jungi Rumah Pohon.
__ADS_1
Aku ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil dan cuci kaki. Aku udah mengunci pintu, kuncinya sengaja nggak kulepas seperti seharusnya yang disa- rankan Papa. Kemudian aku meringkuk di sofa. Air mata mengalir tanpa bisa kuhalangi. Rasanya peng- harapanku akan memiliki Papa untukku seorang nggak terpenuhi. Dia mengumbar janji pada semua orang—mungkin. Aku benci. Tiba-tiba, aku ingat Ma- ma dan Tante.
Kupejamkan mata. Sejenak, kutinggalkan dunia ini. Dunia yang nggak pernah memberi apa yang kuinginkan.