Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 33 Lintang


__ADS_3

Bagian 33 Lintang


Sylia, Dumped Alter.


AKU tidak memercayai ini. Akhirnya, aku bisa kem- bali merasakan dunia ini lagi. Sebenarnya, apa beda- nya Hutan Larangan dengan tempat ini. Semua tempat sama-sama kelabu dan memuakkan. Semua tempat penuh dengan orang-orang tidak berguna, situasi membosankan, dan kesedihan tidak berkesu- dahan.

__ADS_1


Akulah perempuan yang penuh dengan lagu-lagu kesedihan. Jika seseorang menanyakan di manakah gadis sepertiku menyimpan air mata? Jawabanku adalah, ada di sekujur tubuh. Kemudian, jika kau bertanya di mana aku menyimpan kebahagiaan? Aku akan menjawab dengan lantang, dalam liang di mana aku dikuburkan nanti. Hahaha!


Jangan. Jangan takut padaku. Aku sama sekali tidak membahayakanmu. Jika suatu waktu kau mene- muiku dengan pisau tajam di tangan, aku tidak akan melukaimu. Karena bukan itu poinku. Poinku adalah bagaimana supaya aku yang terluka. Kau tahu? Rasa sakit itu seperti makanan pokok bagiku. Jadi, jika tidak kurasakan maka aku akan merasa kelaparan.Kau menganggap itu mengerikan? Bukan. Kalau kau menganggap aku lucu, baru itu benar. Itu me- mang sebuah kelucuan. Ketika darah keluar dari tu- buhmu, itu menyenangkan dan bisa membuatku ter- tawa.


Aduh! Jangan katakan aku gila, dong! Aku tidak gila. Sama sepertimu. Mari kita ambil satu contoh. Sejak kecil, kau sudah terbiasa meminum sesuatu yang hangat pagi-pagi. Terus begitu hingga kau de- wasa. Lalu, apa yang terjadi jika suatu pagi perutmu tidak merasakan sesuatu yang hangat? Pasti kau akan merasa seperti orang sakau. Pokoknya perasa- an tidak enak akan datang menghampirimu.

__ADS_1


Orang-orang sudah berhenti. Mau bagaimana la- gi? Akulah satu-satunya yang memungkinkan keter- sediaan rasa sakit itu tetap bersemayam.Hahaha!


Omong-omong, aku suka tempat ini. Tempat yang sempurna untuk mengembuskan napas terak- hir. Aku berbaring di sofa lembut berselimut abu- abu. Aku mengintip dari celah kelopak mata yang kubuka sedikit saja. Aku tidak ingin mereka tahu aku di sini, sudah bersama mereka sejak tadi. Aku malas ditanya-tanyai keadaanku. Ya, leher ini masih sakit. Dan itu satu-satunya yang kunikmati sekarang.


Suara-suara ribut dari dua pria yang sedang mengobrol membuatku ingin memotong kuping. Di seberangku, duduk di atas ambal seorang perempu- an berambut pendek sedang memperhatikan ponsel- nya. Seorang anak seusia sekolah dasar tertidur. Ke- pala gadis kecil itu bersandar di pangkuan si perem- puan.

__ADS_1


Aku tidak mengenal orang-orang ini. Apa hu- bungan mereka dengan Lintang bukan urusanku. Urusanku adalah memejamkan mata, menunggu saat yang tepat. Kali ini, Lintang tidak bisa menghalangi- ku. Dia itu bodoh! Dia tidak pernah tahu caranya mengakhiri semua rasa bedebah ini dengan benar. Maka, saat ini akan kutunjukkan.


Oh, ya. Kujelaskan padamu, apa perbedaan Hu- tan Larangan dan di sini. Di Hutan Larangan, kau tidak pernah bisa mati jika Lintang tak menginginkan- nya. Kuberitahu rahasia terbesar Lintang. Dia tidak pernah benar-benar ‘membunuhku’. Meskipun setiap hari aku menenggelamkan diri di sungai dalam Hu- tan Larangan, aku tidak pernah bisa mati. Lintang belum menginginkanku mati.Namun, di sini, jika aku melakukan sesuatu, ma- ka... aku bisa mati dengan sukses. Hahaha!


__ADS_2