Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 37 Lintang


__ADS_3

Bagian 37 Lintang


Alter Sylia.


DI bawah langit biru tua dan udara Subuh, sinar lampu mobil itu menerpa wajahku. Aku menghitung mundur.

__ADS_1


Tiga... dua... satu! “Lintaaang!” Ciiittt! Dug!


Tubuhku ditangkap. Penangkapku mungkin ke- hilangan keseimbangan karena terdorong tubuhku yang sempat tersenggol muncung mobil. Mobil itu mendecit sebelum akhirnya berhenti, tapi kekuatan dorongannya masih bisa membuat kami terpental dan berguling-guling di atas rerumputan pinggir jalan. Ketika bidang miring berakhir, kami terhenti dengan posisi aku masih dipeluk erat dari belakang dan menghadap ke samping. Pandanganku menang- kap rerumputan berembun dan pagar kawat berduri tepat di depan mataku.“Lepaskan!” teriakku kesal. “Ya, Tuhan! Lintang!”


Itu suara perempuan. Bukan suara laki-laki yang memelukku. Aku seperti mengenalnya. Aku menoleh dan memicingkan mata untuk memastikan siapa perempuan yang mendekati kami. Tetapi, tubuh laki- laki ini menghalangiku. Dia mencoba bangkit dengan satu tangan sambil tetap memegangiku seolah aku akan kabur jika dilepas. Yeah, itu benar. Aku akan melakukannya jika ada kesempatan.

__ADS_1


Laki-laki tadi sudah berdiri dan menarikku ikut berdiri. Ketika berdiri, bagian tubuhku yang kiri sakit sekali. Bagian ini tadi yang sempat ditubruk mobil dengan cukup keras. Dia memapahku, aku menger- nyit. Sakit yang indah. Aku menyeringai.


“Ya, ampun! Kenapa ini?”


Satu lagi perempuan muncul dari sisi kiri kami. Tampaknya perempuan itulah pengendara mobil pu- tih yang seharusnya menggilas tubuhku tadi. Dia te- lah memarkirkan mobilnya agak ke depan dan turun dengan tergopoh-gopoh. Berbeda dengan wanita pertama yang hanya menggerung-gerung dan me- manggil nama Lintang, perempuan itu langsung me- melukku.

__ADS_1


Aku kenal mereka. Wanita yang memelukku ini bernama Lea. Satu wanita lagi yang hanya menjerit- jerit dan menjaga jarak itu bernama Gea.


__ADS_2