Kami Lintang

Kami Lintang
Kami Lintang - Bagian 22 Lintang


__ADS_3

Bagian 22 Lintang


Lintang Kemuning (Pengendali).


KAMI tiba di rumah pukul sembilan malam. Lagi-lagi aku diselamatkan Felixia yang segera kembali ke Rumah Pohon. Dia merasa keadaan udah aman. Lagi pula, katanya, dia nggak sanggup dapat cecaran per- tanyaan Papa. Menurutnya, Papa merasa terganggu banget kebersamaannya denganku diinterupsi. Dia takut meledak dan berbicara hal-hal yang seharus- nya nggak dia bicarakan.


Dia menuliskan itu semua di catatan pengingat di ponsel. Di tengah perjalanan pulang dari kafe, sewak- tu Felixia udah ‘pergi’, ponselku berbunyi. Nggak ta- hunya itu alarm pengingat. Kubuka catatan pengingat itu dan kubaca pesan darinya. Cara cerdas dan cepat untuk memberitahuku apa yang terjadi ‘di luar’ se- belumnya.“Pa, aku tidur di pondok depan aja, ya,” pintaku.


Terus terang, aku takut sendirian sekarang.


“Lintang?” tanya Papa dengan suara tinggi sam- bil mematikan mesin Chevrolet.


Aku mengangguk. “Boleh aja.”


Kami berdua turun dari mobil dan masuk ke pondok.


“Kenapa tadi ada Felixia?” tanya Papa tanpa ba- sa-basi lagi sambil menggantung kunci Chevrolet di sebuah paku dan membuka jaketnya.


Aku terdiam. Kurasa ini waktu yang tepat untuk menceritakan partikel bedebah yang satu ini. Meng- hela napas, kusandarkan punggung ke sofa. Kuma- sukkan kedua tangan ke kantong hoodie. Kumainkan kotak kaset yang ada di dalam sana.

__ADS_1


“Kau marah sama Papa karena ngajak Sastra?” Papa menarik kursi tinggi di depan meja gambar dan duduk di sana, menatapku.


“Bukan,” jawabku singkat. “Jadi?”


Aku menarik napas. Kalimat yang kususun mulai terstruktur wujudnya di kepala. Sekarang, aku siap bercerita. “Lintang... sedang berusaha mengusir sese- orang.”


“Seseorang?” Papa mengernyit.


“Sebenarnya seseorang itu bukan manusia.” “Apa, sih, Lin? Cerita yang jelas,” pinta Papa terli-hat nggak sabar.


“Lintang bisa melihat hal-hal gaib,” kataku me- mulai.


Papa membesarkan matanya. Kaget.


Papa diam. Dia melipat tangan di dada. Jemari- nya bermain-main mencubiti dagu. “Jadi, di kafe tadi, ada yang datang mengganggumu?”


Aku mengangguk. “Ini salah satu metode dari Mbak Icha sebenarnya, Pa. Menurutnya, segala ma- cam cara untuk membebaskanku dari teror-teror itu gagal karena aku masih membiarkannya. Sistem Ru- mah Pohonku, harus menemukan cara sendiri meng- usir semua gangguan. Cara terbaik menurut kami saat ini adalah meminta bantuan Felixia.”


“Ya, ya, Papa mengerti. Mmm, sebenarnya nggak terlalu paham juga, sih,” katanya. “Papa boleh kasih saran, nggak?”Aku mengangguk.

__ADS_1


“Kau mungkin pernah mendengar, bahwa kita manusia diciptakan Tuhan lebih tinggi derajatnya dari jin dan sejenisnya. Semua itu ada dalam kendali hati dan pikiran kita.” Papa berdeham sebelum me- lanjutkan, “Papa memang bukan ustaz dan nggak se- pintar psikolog kayak Mbak Icha, tapi menurut Papa, jika kita percaya bahwa kita ini makhluk yang lebih baik justru kitalah yang bisa mengendalikan mereka, bukan sebaliknya. Hanya satu cara, percaya. Menu- rutmu, apa yang membuatmu sejauh ini berhasil membangun ‘Rumah Pohon’ di kepalamu?”


Aku mengangkat bahu.


“Karena kau percaya. Kau percaya alter-altermu itu memang ada di sana. Mungkin, pertama kali kau- percaya pada Icha. Kemudian, kau percaya bahwa apa yang dianalisisnya persis dengan apa yang terja- di padamu. Kau lalu melakukan semua saran-saran scientific-nya dengan rasa percaya yang tinggi. Rasa percaya itu akhirnya berhasil membawamu hingga sejauh ini.”


“Ya, Papa benar. Dan saat ini Lintang percaya, Felixia bisa membuat pengganggu itu pergi.”


“Sepakat! Papa nggak menyalahkan cara kalian itu. Tapi, setiap langkah seharusnya langkah naik, bukan stagnan, apalagi turun. Tidakkah kau ingin bahwa dirimulah seorang diri yang bisa mengusir para pengganggu-pengganggu itu? Sekarang, Papa ta- nya, siapa yang membuat dan mengusahakan agar ‘Rumah Pohon’ berjalan dengan baik?”“Semuanya, Pa.”


Papa terdiam sejenak. Dia terlihat kecewa. Mungkin, dia ingin aku menjawab pertanyaannya itu dengan jawaban ‘Lintang’. Namun, Sistem Rumah Po- hon memang nggak hanya diusahakan oleh ‘Lintang seorang diri’.


“Maksud Papa, usahakanlah secara perlahan kau memercayai dirimu sendiri bahwa kau mampu. Bah- wa kau hebat. Kau nggak perlu lagi bergantung pada teman-temanmu di Rumah Pohon.”


Aku mengangguk. Itulah tujuan terbesar Sistem Rumah Pohon: menyatukan kepribadian yang terpe- cah. Percayalah, terapi dengan Mbak Icha memang menuju ke sana. Meski sebelumnya aku harus tetap menjalani proses ‘percaya’ bahwa alter-alter itu ada dan nggak bisa diabaikan. Ah, tapi Papa salah mereka bukan ‘teman-teman’. Mereka diriku. Entahlah, ru- mit! Aku sendiri suka merasa sangat bingung.


“Satu lagi, Lin. Semua kehidupan ini asalnya dari Maha Pencipta. Mintalah perlindungan pada-Nya. Pa- ra ustaz yang mengobatimu memang mendoakanmu agar kau dijauhkan dari gangguan jin, tapi kau sendi- ri punya akses untuk langsung menyampaikan doa-doamu. Mengapa nggak kaupakai akses istimewa itu?”Aku terdiam.


“Maaf, maaf kalau Papa terlalu dalam mencam- puri kehidupanmu. Hanya itu ilmu yang Papa ketahui dan akan Papa serahkan semuanya demi kebaikan putri Papa.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Pa. Makasih banyak, Pa.”


“Ya, udah.Yuk, ambil wudu, kita salat jamaah.”


__ADS_2